Peneliti Singapura: Di Indonesia, Pesan Antivaksin Muncul dengan Agama, Anti-China, dan Teori Konspirasi

- 28 Juni 2021, 17:56 WIB
Pemakaman jenazah Covid-19  di TPU Cikadut, Bandung, Jawa Barat, Selasa, 15 Juni 2021.
Pemakaman jenazah Covid-19 di TPU Cikadut, Bandung, Jawa Barat, Selasa, 15 Juni 2021. /Antara Foto/Raisan Al Farisi


PIKIRAN RAKYAT - Sebuah laporan dari peneliti di Singapura menemukan pesan anti-vaksin di Indonesia sering disebarkan oleh influencer agama dan ditaburi dengan teori konspirasi.

Dalam laporan itu pesan anti-vaksin di Indonesia juga disebarkan dengan narasi anti-pemerintah, sentimen agama dan sentimen anti-China.

Laporan tersebut ditulis oleh Yatun Sastramidjaja dan Amirul Adli Rosli di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura. Mereka mengatakan jumlah propaganda anti-vaksin di platform media sosial "mengkhawatirkan".

"Mikro-influencer religius di Indonesia memiliki platform, jangkauan, dan kemampuan membuat konten untuk menyebarkan pesan mereka ke basis dukungan besar dari pengikut setia, yang percaya pada panutan agama tetap tak tergoyahkan oleh sensor", kata peneliti Singapura itu dalam laporannya, dikutip dari SCMP, Senin, 28 Juni 2021.

Baca Juga: Ketua BEM UI Disorot, Pakar Ekonomi Bocorkan Pihak yang Ada di 'Belakang' Leon Alvinda Putra

Para peneliti memantau tagar #vaksin dan #tolakvaksin yang diunggah oleh pengguna Indonesia di TikTok pada bulan Maret hingga April 2021.

Dalam laporannya, mereka menemukan video teratas di platform pada bulan Maret dengan tagar #vaksin adalah video editan anggota DPR Ribka Tjiptaning yang menyuarakan penentangannya terhadap program vaksinasi dan keraguannya tentang keamanan vaksin Covid-19.

Disebutkan video itu diunggah oleh akun @adab.ulama, diterjemahkan menjadi "perilaku ulama",ditambahkan "lagu Islami dramatis" ke klip suara dari Ribka, kemudian menghasilkan 1,6 juta likes, 577.000 komentar, dan 51.600 kali dibagikan, kata laporan peneliti Singapura.

Baca Juga: Apa Itu Ivermectin? Dapat Restu Uji Klinis dari BPOM

Video itu kemudian dihapus oleh TikTok setelah menduduki posisi teratas.

Halaman:

Editor: Julkifli Sinuhaji

Sumber: SCMP

Tags

Artikel Pilihan

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network