Krisis Politik Berlanjut, LSM Myanmar Catat 737 Warga Sipil Tewas Sejak Kudeta Militer

- 19 April 2021, 13:23 WIB
Relawan palang merah Myanmar membawa seorang demonstran yang ditembak pasukan keamanan saat unjuk rasa anti-kudeta militer di Thingangyun, Yangon, Myanmar 14 Maret 2021 lalu./
Relawan palang merah Myanmar membawa seorang demonstran yang ditembak pasukan keamanan saat unjuk rasa anti-kudeta militer di Thingangyun, Yangon, Myanmar 14 Maret 2021 lalu./ /Reuters/Stringer

PIKIRAN RAKYAT - Krisis politik Myanmar hingga saat ini terus berlanjut.

Berdasarkan laporan terbaru yang dikutip oleh Pikiran-Rakyat.com dari Anadolu Agency, kelompok masyarakat sipil pengawas tahanan politik di Myanmar menyampaikan warga sipil yang tewas dalam demonstrasi menentang kudeta militer sudah mencapai 737 orang sejak 1 Februari lalu.

Dalam laporannya Minggu tengah malam, Asosiasi Pendamping untuk Tahanan Politik (AAPP) menyampaikan tambahan 7 orang tewas menyusul kekerasan yang terjadi di Myanmar.

AAPP juga melaporkan hingga 18 April, total 3.229 orang telah ditahan.

Baca Juga: Usai China, Kini Giliran Iran Kecam AS Terkait Sanksi untuk Rusia

Baca Juga: Lampaui AS, India Kembali Catat Rekor Baru Kasus Positif Covid-19 Harian

Dari jumlah itu, 75 orang dijatuhi hukuman dan 930 lainnya telah dikeluarkan surat perintah penangkapan.

Sementara itu, media lokal Myanmar Now pada Senin melaporkan dua pengunjuk rasa anti-kudeta tewas di Myanmar utara selama akhir pekan ketika militer melanjutkan tindakan kekerasan untuk membubarkan demonstrasi melawan pemerintah.

Satu orang dilaporkan tewas di kota bagian utara Negara Bagian Shan, Kyaukme pada Sabtu, sementara yang lain tewas dalam baku tembak di Kotapraja Kani di Wilayah Sagaing pada hari Minggu.

Aung Ko Ko Phyo, pegawai pemerintah berusia 25 tahun yang bergabung dengan Gerakan Pembangkangan Sipil, ditembak di kepala di dekat biara Wailuwun Kyaukme pada Sabtu malam.

Halaman:

Editor: Billy Mulya Putra

Sumber: Anadolu Agency


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X