Serukan Penghentian Kekerasan, Inggris Dukung ASEAN Selesaikan Krisis Myanmar

- 8 April 2021, 07:38 WIB
Relawan palang merah Myanmar membawa seorang demonstran yang ditembak pasukan keamanan saat unjuk rasa anti-kudeta militer di Thingangyun, Yangon, Myanmar 14 Maret 2021./ /Reuters/Stringer

PIKIRAN RAKYAT - Krisis politik yang melanda salah satu negara di Asia Tenggara, Myanmar hingga kini masih berlangsung.

Krisis politik bermula adanya aksi kudeta yang dilakukan oleh militer terhadap pemerintahan sipil negara itu pada 1 Februari 2021 silam.

Selain itu, militer Myanmar juga melakukan penahanan terhadap para pejabat sipil di negara itu, salah satunya tokoh peraih nobel perdamaian Aung San Suu Kyi.

Kudeta dan penahanan tersebut mendapatkan protes dari warga sipil Myanmar.

Baca Juga: Pengamat: KTT ASEAN Harus Ajak China Selesaikan Krisis Myanmar

Baca Juga: Pakistan Catat Lebih dari 100 Kematian Akibat Covid-19 dalam 2 Hari Berturut-turut

Namun, aksi protes tersebut mendapatkan tindak kekerasan dari tentara Myanmar hingga menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil.

Terbaru, Indonesia dan Inggris menyerukan agar militer Myanmar berhenti menggunakan kekerasan setelah kudeta yang terjadi pada 1 Februari 2021.

Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi usai bertemu dengan Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab di Jakarta pada Rabu, 7 April 2021 lalu.

"Kami berbagi kepedulian yang sama dan terus menyerukan agar militer Myanmar menghentikan penggunaan kekerasan untuk mencegah jatuhnya korban sipil lebih lanjut," kata Retno seperti dikutip oleh Pikiran-Rakyat.com dari Anadolu Agency.

Halaman:

Editor: Billy Mulya Putra

Sumber: Anadolu Agency


Tags

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X