PIKIRAN RAKYAT - Sengketa wilayah Laut Natuna Utara atau Laut China Selatan telah menjadi titik perselisihan yang berlarut-larut.
Perselisihan tidak hanya antara negara-negara ASEAN dan China, tetapi juga negara Barat yang menentang klaim Beijing di wilayah yang kaya akan sumber daya alam itu.
Namun, analis menyebutkan ada sisi positif yang jauh lebih besar daripada perselisihan di Laut Natuna Utara.
Baca Juga: PPKM Mikro akan Diterapkan 9 Februari, Ganjar Pranowo: Jateng sudah Siap, Data Sasaran telah Lengkap
"Para analis mengatakan perselisihan itu tidak boleh dibiarkan, karena itu tidak mencerminkan hubungan yang bersahabat secara umum dan semakin dekat antara para pihak," kata Rian Maelzer koresponden CCTV di Vientiane Laos, seperti dikutip, Sabtu, 6 Februari 2021.
"Itu hanya anomali, China dan semua negara Asean, kecuali sengketa Laut China Selatan, tidak ada sengketa besar antara China dan semua negara Asean," klaim Dr. Huang haitao dari sekolah pemerintahan Zhou Enlai di Beijing.
Sementara Abdul Majid Khan, seorang mantan duta besar Malaysia untuk China mengatakan perbedaan perselisihan itu tak perlu dibesar-besarkan.
Baca Juga: Hertha Berlin vs Bayern Munchen, Manuel Neuer Catat Rekor Impresif di Liga Jerman
"Perbedaan ini tidak boleh dibesar-besarkan dan kita harus memikirkan keterampilan diplomatik kita dan saya pikir untuk memulai karena perkembangan terakhir kedua belah pihak harus memulai langkah demi langkah untuk mendapatkan kembali hubungan timbal balik. kepercayaan dan keyakinan," ujarnya.
Pada KTT baru-baru ini, isu Laut Natuna Utara cenderung membayangi isu-isu seperti negosiasi kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional antara ASEAN dengan enam negara lain, termasuk China.
Artikel Pilihan