Kremasi Korban Meninggal Covid-19 Beragama Muslim, Sri Lanka Dapat Kecaman dari Berbagai Pihak

- 27 Januari 2021, 19:26 WIB
Proses kremasi korban Covid-19 yang ada di Sri Lanka menimbulkan protes dari banyak pihak /Al-Jazeera

PIKIRAN RAKYAT - Sri Lanka memiliki cara sendiri untuk tangani korban meninggal Covid-19 yang ada di sana.

Saat jumlah orang tewas sudah hampir mencapai 300 jiwa, Sri Lanka memutuskan untuk mengkremasi paksa para korban malang ini.

Para korban Covid-19 yang meninggal di Sri Lanka dikremasi secara paksa tanpa adanya kehadiran keluarga tercinta. Proses kremasi ini juga tidak mengindahkan aspek agama yang dianut oleh korban meninggal.

Baca Juga: Update Virus Corona di Dunia 27 Januari 2021, Indonesia di Peringkat ke-8 Salip India

Hal ini membuat banyak pihak marah terhadap negara tersebut, salah satunya adalah Inggris.

Dalam sebuah kutipan dari akun Twitternya, Duta Besar Inggris untuk Sri Lanka, Sarah Hulton mengecam tindakan kremasi paksa korban Covid-19 di sana.

"Keluarga harus dapat menguburkan orang yang mereka cintai, sejalan dengan pedoman kesehatan internasional dan praktik keagamaan mereka," tuturnya dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Anadolu Agency.

Baca Juga: UE Desak Pembuat Vaksin Covid-19 untuk Hormati Kewajiban di Tengah Kekhawatiran Pasokan

Hulton mengatakan Inggris telah "meningkatkan" masalah hak asasi manusia dengan pemerintah Sri Lanka termasuk kremasi paksa jasad COVID-19. Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Di antara 274 kematian terkait virus di Sri Lanka, banyak korban dari komunitas Muslim dikremasi sejalan dengan amandemen keempat dari Pedoman Praktik Klinis Sementara untuk pasien yang dicurigai dan dikonfirmasi COVID-19.

Halaman:

Editor: Aldiro Syahrian

Sumber: Anadolu Agency


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X