Xi Jinping Gelagapan Lihat Jumlah Umat Kristen di China Meroket, Peneliti Ungkap Alasannya

- 25 Januari 2021, 09:46 WIB
Ilustrasi umat Kristen. /Pixabay

PIKIRAN RAKYAT - Pemerintahan Xi Jinping telah dikenal atas kebijakan kerasnya terhadap penindasan terhadap umat beragama dan telah meningkatkan pengawasan terhadap mereka selama pandemi Covid-19.

Isu pengawasan dan tindakan keras terhadap umat beragama ini semakin menguat dengan banyak organisasi internasional menuduh China membangun kamp kerja paksa bagi Muslim di Xinjiang.

Dipercaya hingga satu juta Muslim Uighur telah dikirim ke kamp-kamp pendidikan ulang di wilayah otonomi tersebut oleh pemerintah Xi Jinping.

Baca Juga: China 'Kepanasan' dengan AS hingga Kirim Jet Tempur ke Zona Pertahanan Taiwan

Baik Inggris dan AS telah menuduh pemerintah China melakukan pelanggaran hak asasi manusia, sementara yang terakhir juga telah mengeluarkan sanksi terhadap anggota Partai Komunis China atas tuduhan tersebut.

Tak hanya pada Muslim, Xi Jinping kini dikabarkan tengah mewaspadai pertumbuhan umat Kristen di China yang saat ini telah mencapai 97 juta orang, dan diprediksi pada tahun 2030 akan bertambah pesat menjadi 300 juta orang.

Sementara itu sebagaimana diberitakan Pikiranrakyat-Bekasi.com dalam artikel "Tidak Hanya Muslim Uighur, Xi Jinping Ketar-ketir Awasi Pertumbuhan Pesat Umat Kristen di China", menurut Direktur Riset Strategis di organisasi amal Kristen Open Doors, Ron Boyd-MacMillan mengungkap alasan yang membuat Xi Jinping ketar-ketir dengan pesatnya penambahan umat Kristen di China.

Baca Juga: Saksikan Detik-detik Ajal Menjemput Pasien Covid-19, Anies Baswedan: Kematian dalam Kesendirian

“Pemerintah China mengawasi umat Kristen karena jumlah pertumbuhannya meningkat pesat. Mereka khawatir umat Kristen akan berani melaksanakan pemberontakan pada Pemerintahan Xi Jinping,” kata Ron Boyd-MacMillan.

Tampaknya, Pemerintah Xi Jinping berkaca terhadap peristiwa Pemberontakan Taiping yang terjadi pada periode 1850-1854 di era Dinasti Qing yang mana merupakan pertarungan antara Dinasti Qing dan sebuah sekte Kristen bernama Kerajaan Surgawi Perdamaian.

Sekte yang dipimpin oleh Hong Xiuquan tersebut mencoba untuk melaksanakan beberapa reformasi sosial, seperti pemisahan gender yang ketat, penghapusan tradisi mengikat kaki, sosialisasi tanah, dan 'penekanan' perdagangan pribadi.

Baca Juga: Menhub Budi Karya Sumadi Beberkan Alasan Penerapan GeNose C19 pada Moda Transportasi Kereta Api dan Bus

Selain itu, mereka juga berusaha untuk menggantikan ajaran Konfusianisme, Buddha, dan kepercayaan tradisional Tionghoa yang merupakan agama mayoritas, dengan suatu bentuk Kekristenan yang berpegang pada keyakinan bahwa Hong Xiuquan adalah adik laki-laki Yesus.***(Rivan Muhammad/Pikiranrakyat-Bekasi.com)

Editor: Alanna Arumsari Rachmadi

Sumber: Pikiran Rakyat Bekasi


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X