Pikiran Rakyat
USD Jual 14.007,00 Beli 14.105,00 | Umumnya berawan, 27.3 ° C

Berharap Obat Alzheimer pada Bisa Ular Viper

Dede Suhaya
RACUN ular jenis viper menjadi kandidat untuk pengobatan Alzheimer.*
RACUN ular jenis viper menjadi kandidat untuk pengobatan Alzheimer.*
MELBOURNE, (PRLM).- Para ilmuwan telah lama mencari cara untuk menyingkirkan plak yang menyebabkan penyakit Alzheimer.

Dan kini, sebuah studi baru mengungkapkan apa yang mereka cari mungkin telah merayap di kaki mereka selama ini.

Bisa ular mampu memecah plak amiloid di otak yang identik dengan Alzheimer, menurut para ilmuwan dari Universitas Monash di Melbourne, Australia.

Sebuah molekul dalam bisa ular mampu mengaktifkan enzim dalam otak yang membantu membersihkannya protein beracun ini.

Menurut para pakar, penemuan ini bisa memicu terapi baru untuk menghentikan secara dini berkembangnya penyakit Alzheimer dari kemajuan.

Telah diyakini bahwa protein beracun yang disebut amiloid beta berperan dalam timbulnya penyakit Alzheimer.

Pada orang yang sehat amiloid beta terdegradasi oleh enzim-enzim saat terbentuk. Namun, pada pasien Alzheimer, enzim tidak memadai melakukan tindakan tersebut. Ketidakmampuan ini menyebabkan protein beracun menumpuk menjadi plak.

Deposito plak ini diduga memicu demensia, menurut para ilmuwan. Plak amiloid mulai menumpuk pada orang yang berada di tahap awal demensia.

Industri farmasi telah lama mencari obat yang dapat merangsang enzim-enzim yang ada di setiap orang.

Tim ilmuwan dari Universitas Monash, seperti dilaporkan Daily Mail, Rabu (2/3/2016), menemukan bahwa bisa ular bisa menjadi calon obat pada demensia.

Peneliti Dr Sanjaya Kuruppu telah menghabiskan sebagian besar karirnya mempelajari racun ular yang bermanfaat untuk obat.

Dengan demikian, ketika ia mulai meneliti Alzheimer, Dr Kuruppu mengatakan bahwa "bisa ular adalah tempat yang jelas bagi saya untuk memulainya".

Tim yang dipimpinnya mulai pencariannya untuk menemukan molekul yang bisa merangsang enzim-enzim untuk memecah plak amiloid.

Para ilmuwan menyaring beberapa bisa ular, dan menemukan sebuah molekul yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan aktivitas dua enzim penghancur plak.

Molekul tersebut ditemukan dalam racun dari ular viper yang ditemukan di Amerika Selatan dan Tengah. Tim kemudian mengembangkan versi sintetis dari molekul tersebut.

Mereka melakukan tes awal di laboratorium menggunakan sel manusia. Dan menunjukkan bahwa molekul sintetis memiliki efek yang sama dengan versi asli yang ditemukan dalam racun ular. Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Scientific Reports. (Deder Suhaya/A-147)***
Bagikan: