Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sedikit awan, 24.4 ° C

Kenali Nyeri Sendi yang Timbul Akibat Autoimun

Eva Nuroniatul Fahas
ILUSTRASI.
ILUSTRASI.

 
NYERI sendi dikenal juga dengan sebutan ­rematik. Sejatinya, rematik ­bukanlah ­penyakit, tetapi gejala dari adanya suatu penyakit.

Dalam deskripsi umum, rematik adalah ­nyeri di alat-alat gerak, otot, sendi, dan ligamen, atau di bagian struktur alat ­gerak lain. ­Timbulnya peradangan yang ­bermanifestasi menjadi nyeri juga disebut sebagai rematik. 

Penyebabnya, harus ­diidentifikasi lebih lanjut agar jelas. ­Pengobatan dan ­perawatannya juga ­berbeda.

Dokter spesialis pe­nyakit dalam Rumah ­Sakit Melinda 2 Segal ­Abdul Aziz me­ngatakan, rematik yang umum terjadi mengacu pada gout arthritis alias penyakit asam urat.Peradangan terjadi akibat adanya peng­endapan kristal asam urat pada sendi sehingga menyebab­kan nyeri. 

Gout arthritis dicetuskan dari konsumsi asam urat yang berlebihan atau penggunaan obat ­diuretik. Makanan yang mengandung asam urat tinggi antara lain kacang-kacangan atau jeroan.

Beberapa ciri peradangan sendi ­(rematik) sering terjadi di satu sendi saja, biasanya, paling nyeri di bagian jempol kaki. Yang ­kedua, timbul ­tanda radang seperti bengkak, ke­me­rah­an, dan terasa panas, ­biasanya ­terjadi di pagi hari.

Nyeri sendi akibat autoimun

Meskipun demikian, nyeri sendi ­juga bisa diakibatkan bukan dari ­faktor luar, melain­kan dari dalam tubuh. Peradangan sendi yang demi­kian dikenal dengan ­nama ­reumatoid arthritis, terjadi karena autoimun atau sel imun tubuh yang ­seharusnya me­lawan zat asing, malah menyerang balik tubuh sendiri.

”Beda dengan asam urat, reumatoid arthritis menyerang sendi yang lebih ­kecil dan biasanya terjadi pada banyak sendi, serta bersifat simetris kanan dan kiri. Misalnya, di buku-buku jari tangan,” ujar Segal, dalam sebuah sesi wawancara dengan PR, 2017 lalu.

Beberapa gejala reumatoid arthritis, ­antara lain ketika bangun tidur dan cuaca dingin, buku-buku jari bisa kaku lebih dari satu jam. Gejala ini sudah tidak ­digunakan, tetapi bisa ­dijadikan kecuriga­an awal untuk melakukan ­pemeriksaan lanjutan.

Menurut Segal, pasien yang di­curigai reumatoid arthritis akan melakukan pe­me­riksaan tes darah untuk dilihat kadar C ­reaktif protein (CRP), yakni salah satu marker dalam tubuh yang menunjukkan adanya peradangan sistemik. 

”Biasanya, pasien reumatoid arthritis nilai CRP-nya tinggi. Penanda utama, yakni tes faktor reumatoid menunjukkan hasil positif. Jika masih ragu bisa dilaku­kan rontgen pada sendi yang terlibat,” katanya.

Ia menjelaskan, reumatoid arthritis me­rupakan penyakit yang progresif. Bila tidak terdeteksi sejak awal, ke­rusakannya akan bertambah dan bisa menyebabkan defor­mitas atau per­ubahan sendi yang permanen dan peng­obatannya bisa melalui jalan ­operasi.

Segal menuturkan, yang khas dari pe­nya­kit ini adalah, umumnya, me­nyerang wanita. Bisa dipahami karena penyakit ­autoimun memang dikenal lebih sering me­nyerang wanita, meski reumatoid arthritis juga ditemu­kan pada pasien pria berusia lanjut.

Pengobatan reumatoid arthritis ­biasanya dimulai dengan obat-obatan penghilang ­nyeri. Akan tetapi, perlu ­diwaspadai pula karena merupakan penyakit autoimun umum­nya tidak menyelesaikan penyakit tersebut. Oleh karena itu, biasanya, pasien diberikan immunosupresant yang khusus untuk reumatoid arthritis seperti jenis corticosteroid, meto­trexat, atau sulfasalazin.

Menurut Segal, penyakit autoimun sangat kuat faktor genetikanya sehingga bisa saja diturunkan. Penggunaan zat­ ­luar untuk ­pengobatan tidak banyak berpengaruh. ”Di­berikan pula biologic agent pada pasien reumatoid arthritis yang sudah parah. ­Obatnya diinjeksikan pada target yang lebih spesifik, yakni sel sendi,” tuturnya.

Penyakit sendi lain akibat autoimun

Ada beberapa penyakit lain yang memiliki gejala rema­tik, antara lain spondilo­ar­tro­pati seronegatif. Meski belum diketahui akibat autoimun atau bukan, penyakit ini memiliki gejala mirip reumatoid arthritis tetapi ke­tika tes darah, hasilnya menunjuk­kan faktor reumatoidnya negatif tapi kadar CRP-nya tinggi. Pasien dengan diagnosis ini biasanya ditangani sama dengan reumatoid arthritis tetapi tidak menginjeksi­kan biologic agent.

Penyakit ini juga terbagi lagi men­jadi empat jenis, yakni pso­riatic arthritis yang berkenaan de­ngan penyakit psoriasis, yaitu pe­ne­balan kulit yang menyeluruh (ba­dan dan alat gerak). Penyakit ini bisa juga menyebabkan nyeri pada sendi. Proses autoimunnya terjadi spesifik di kulit, kuku, dan jaringan epidermis lain.

Kedua, ankilosing spondilitis, yaitu penyakit yang spesifik terjadi di tulang belakang. Kondisi paling gawatnya adalah terjadi deformitas yang khas, yakni menyatunya tulang belakang sehingga tidak bisa mem­bungkuk. Menurut Segal, pe­nyakit ini banyak terjadi pada pria dewasa muda (30-40 tahun) de­ngan gejala awal nyeri pinggang dan setelah diperiksa terdapat pro­ses peradangan sistemik. Kemung­kinannya terdapat faktor autoimun.

Ketiga, arthritsi reaktif, yakni ­nyeri sendi karena riwayat ­infeksi sebelumnya. Biasanya, akibat pe­nyakit infeksi saluran kemih yang diderita pasien yang menimbulkan peradangan sendi. Ini terjadi karena ada komponen dari bakteri yang menyebar dalam tubuh lalu meng­endap di sendi.

Keempat, arthritis enteropati, yaitu penyakit yang berkaitan ­dengan radang usus atau salur­an pencernaan (inflamatory bowl ­disease/IBD). Penyakit IBD disebab­kan oleh autoimun, dan pasien bisa mengalami sakit sendi.***

Bagikan: