Pikiran Rakyat
USD Jual 14.004,00 Beli 14.102,00 | Berawan, 25 ° C

Milangkala Ke-7 Kabupaten Pangandaran, Seni Tradisional Jadi Penampil Istimewa Napak Jagat Pasundan

Muhammad Fikry Mauludy
Sejumlah atraksi kesenian tradisional menjadi penampil istimewa dalam konsep perayaan meriah, pada Napak Jagat Pasundan Pangandaran, di boulevard Pantai Pangandaran, Minggu, 3 November 2019. Ruang seni tradisional dipilih untuk mengisi panggung utama NJP pada Milangkala Ke-7 Kabupaten Pangandaran.*/MUHAMMAD FIKRY MAULUDI/PR
Sejumlah atraksi kesenian tradisional menjadi penampil istimewa dalam konsep perayaan meriah, pada Napak Jagat Pasundan Pangandaran, di boulevard Pantai Pangandaran, Minggu, 3 November 2019. Ruang seni tradisional dipilih untuk mengisi panggung utama NJP pada Milangkala Ke-7 Kabupaten Pangandaran.*/MUHAMMAD FIKRY MAULUDI/PR

RUANG seni tradisional dipilih untuk mengisi panggung utama pada Milangkala Ke-7 Kabupaten Pangandaran. Sejumlah kesenian, termasuk seni tradisional buhun yang selama ini tertidur diangkat menjadi penampil istimewa dalam konsep perayaan meriah, di boulevard Pantai Pangandaran, Minggu, 3 November 2019.

Acara milangkala ini berkonsep karnaval. Peserta pawai yang didukung 10 kecamatan serta rombongan daerah lain di Jawa Barat melakukan parade di jalan utama Pantai Pangandaran. Dari tribun kehormatan, mereka diarahkan menuju panggung Napak Jagat Pasundan, yang dibangun Coklat Kita.

Panggung megah NJP ini menjadi acara puncak Milangkala Ke-7 Kabupaten Pangandaran. Panggung NJP dinilai senafas dengan misi perayaan Ulang Tahun Kabupaten Pangandaran yang menyokong penuh keberadaan seni dan budaya tradisional.

Area NJP yang berkonsep festival ini memberi banyak ruang bagi banyak talenta budaya dari sanggar dan paguron Kabupaten Pangandaran, selain bintang tamu istimewa. Rangkaian acara diisi potensi seni lokal seperti Lingkung Seni Jembar Mustika yang menampilkan kesenian Lebon, Celempung dan Kecapi biola dari Padepokan Dangiang Mustika Sari, serta Sanggar Angklung Mang Koko.

Ada lagi Sanggar Agia dan Sanggar Putra Rengganis yang menampilkan tarian etnik kolaborasi, Sanggar Ligar Munggaran dengan penampilan Eog dan Gondang, Padepokan seni Jenggala Manik yang memainkan Kecapi Rajah Tunggal, serta keahlian dari Kendangers Pangandaran.

Di samping seniman lokal, NJP Pangandaran juga mementaskan Ega Roboth Ethnic Percussion, Jimbot and Friend, Dodi Kiwari, Calung NJP yang berkolaborasi dengan Ohang, serta Abiel Jatnika. NJP yang dimulai sore itu diawali dengan Tari Kreasi dari Ega Roboot Ethnic Percussion di floor area, dan seni Lebon dari Lingkung Seni Jembar Mustika.

Menutup sore, Sanggar Dangiang Mustika Sari membuat pengunjung terkagum dengan permainan apik celempung dan kecapi biolanya. Pasangan MC Prima dan Riva menghidupkan suasana dengan interaksi bersama penonton, yang sesekali menggoda lewat canda.

Malam hari, NJP dilanjut dengan pementasan interaktif dari kolaborasi Kecapi Rajah Tunggal dengan Eog dan Gondang dari Padepokan Seni Jenggala Manik, dan Sanggar Ligar Munggaran di area mini stage NJP.

Setelah itu, panggung utama kembali ramai dengan musik pembuka dari Ega Robot Ethnic Percussion, narasi puisi dari Dodi Kiwari, dan tari etnik kolaborasi Sanggar Algia dan Sanggar Putra Rengganis. Di tengah waktu utama, muncul penampilan angklung Benjang Batok dari Sanggar Mang Koko. Aksi angklung setinggi 5 meter menjadi perhatian warga lokal hingga wisatawan mancanegara yang memadati lapangan.

Penampilan Jimbot & Friend yang berkolaborasi dengan Mang Saswi, Ega Robot Ethnic percussion yang berkolaborasi dengan Kendangers Pangandaran turut memberi energi para penonton. Yang paling ditunggu, calung NJP (Injuk, Junjun, Aep bancet, Aman, Amin) yang berkolaborasi dengan Ohang.

Penampilan mereka diselingin guyonan khas berpadu instrumen musik dan berhasil membuat audiens tertawa lepas. Menutup acara, Abiel Jatnika, putra dari musisi Sunda, Yayan Jatnika tampil membawakan beberapa lagu, termasuk lagu andalan Abiel Jatnika yaitu “Kapalang Nyaah”. 

Acara megah tersaji dari tata suara dan pencahayaan yang mewah. Suara kendang yang terempas dari speaker-speaker besar mampu menggedor jantung penonton. Permainan cahaya ikut memendarkan warna warni kostum penari.

NAPAK Jagat Pasundan.*/MUHAMMAD FIKRY MAULUDY/PR

Potensi Wisata

Selain pojok Budaya, pada area festival itu juga berdiri pojok Kaulinan Lembur. Di area itu pengunjung mengantre untuk mencoba bermain beberapa kaulinan lawas seperti menembak target menggunakan bedil karet dan bedil jepret.

Tata letak area festival dibuat nyaman. Sejumlah meja piknik kayu disebar di banyak tempat. Rangkaian lampu pijar membuat suasana malam terasa hangat. Dekorasi booth pendukung sekaligus panggung utama dibalut dekorasi bambu. Di area edukasi, terdapat bangunan lumbung padi (leuit) yang diupayakan sebagai pengingat bagi publik tentang besarnya nilai kearifan lokal Tanah Pasundan.

Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran Asep Noordin mengatakan, Coklat Kita telah memberikan dukungan bagi Pangandaran sejak lama, termasuk setiap kegiatan milangkala. NJP juga kerap dihelat di Pangandaran, dengan menampilkan talenta lokal sebagai pemberdayaan sanggar seni Pangandaran.

Kebudayaan yang hampir punah seperti benjang batok yang lama tiarap juga kembali menggeliat dengan adanya ruang besar di panggung NJP. Kampung Ngehen yang menjadi kampung adat kebanggaan Pangandaran ikut bangkit menyambut undangan-undangan mentas.

“Jadi NJP dipilih di acara puncak itu karena selama ini mendapat apresiasi positif dari sanggar-sanggar seni yang dilibatkan. Bahkan kami 2020 terinspirasi NJP akan membuat kegiatan yang mirip dengan NJP di 10 kecamatan dengan nama‘Ngariksa Jagat Nguriling ka Tepis Wiring’. Insyaallah tahun 2020 bisa didukung Coklat Kita, mudah-mudahan bisa disinergikan,” ujarnya.

Perwakilan DSO Coklat Kita Kota Banjar Giwa Rahman menjelaskan, potensi Pangandaran bisa menyaingi Bali yang kuat dengan budayanya jika terus digali dan diberi ruang. Coklat Kita terus menciptakan medium acara agar kesenian tradisional bisa menjadi penampil utama di panggung-panggung publik. Selama ini, Coklat Kita terus menggelar acara di Pangandaran seperti, Gunem Catur, Lembur Kuring, Kamonesan 1 dan 2, Hariring, dengan NJP sebagai puncak acara. 

“Edisi khusus di Pangandaran ini kita akan menampilkan potensi seni Pangandaran untuk tampil. Kenapa disebut edisi khusus, karena ini khusus permintaan bupati agar publik dan wisatawan bisa memberikan apresiasi luar biasa bagi potensi budaya lokal,” katanya.

Perwakilan Coklat Kita RSO Bandung Ariella Davina menambahkan, Coklat Kita Napak Jagat Pasundan tidak hanya sekadar tontonan semata. Coklat Kita, yang kali ini bekerja sama dengan Pemkab Pangandaran berkomitmen untuk tetap melestarikan seni dan budaya. Yang tidak kalah penting yakni dukungan bagi para seniman, sanggar, serta paguron, yang berjasa memelihara tradisi Jawa Barat.

“Harapan kami, seni budaya tatar Pasundan bisa selalu bertahan dan tetap kokoh seiring perkembangan zaman, dan menjadi salah satu value untuk pariwisatanya.Kalau bukan kita yang notabene adalah masyarakat daerah, siapa lagi yang akan melestarikan dan mengembangkan aset budya milik kita,” ujarnya.***

Bagikan: