Pikiran Rakyat
USD Jual 14.034,00 Beli 14.132,00 | Langit umumnya cerah, 23.4 ° C

Saat Nada Skate-Punk Rosemary Berbaur Gamelan Ki Ageng Ganjur

Muhammad Fikry Mauludy
ROSEMARY saat tampil di Lapangan Pussenif, Bandung, Sabtu, 19 Oktober 2019 malam.*/MUHAMMAD FIKRY MAULUDY/PR
ROSEMARY saat tampil di Lapangan Pussenif, Bandung, Sabtu, 19 Oktober 2019 malam.*/MUHAMMAD FIKRY MAULUDY/PR

MENJELANG tengah malam, terompet yang dimainkan Bane Rosemary mulai membuka intro lagu andalan mereka. Kumpulan besar WARS, penggemar band Rosemary, langsung menyambut dengan sahutan menggema, di Lapangan Pussenif, Bandung, Sabtu, 19 Oktober 2019 malam.

Lagu itu adalah lagu himne yang sudah tersohor, “Punk Rock Show”. Ketika seluruh instrumen mulai melebur, terdengar suara dentingan gamelan. Permainan gamelan dengan bekal daminatilada itu begitu harmoni mengiringi suara alat musik modern.

Struktur da mi na ti la da yang kental dari rasa tradisional gamelan mudah membaur dengan struktur nada yang biasa ditawarkan lagu “Punk Rock Show” gaya skate-punk Rosemary. Dentingan gamelan yang melompat beralih nada mampu menjadi pelengkap alunan warna ska di lagu tersebut.

Di tengah karakter rendah-berat Inkmary, sinden dari Ki Ageng Ganjur dihadirkan sebagai pilihan aura baru yang mampu menyihir frekuensi suara saat menikmati “Punk Rock Show”. Personel Ki Ageng Ganjur juga tidak kewalahan saat mengejar tempo cepat lagu-lagu Rosemary.

Dalam kolaborasi itu, terdapat enam buah lagu Rosemary yang dikolaborasikan bersama Ki Ageng Ganjur, salah satunya adalah lagu favorit yaitu “Punk Rock Show”. Dari latar belakang musik, Rosemary dan Ki Ageng Ganjur adalah dua kelompok musik yang bisa tentu bertolak belakang.

Dibentuk pada tahun 1997 di tengah komunitas skateboard, Rosemary adalah band yang memainkan turunan musik punk yang disebut skate-punk. Rosemary diisi lima orang personel yaitu Indra Gatot (gitar dan vokal), Inkmary (gitar dan vokal), Fajar (bas), Denny Hsu (drum), serta Bane (trompet).

Sementara Ki Ageng Ganjur adalah kelompok musik asal Yogyakarta yang diisi oleh sekumpulan musisi santri dengan alat musik tradisional gamelan sebagai sarana utama mereka dalam menyampaikan pesan yang condong pada hal-hal berbau relijius.

Perwakilan DjarumCoklatDotCom (DCDC) Sigit Prasetyo mengatakan, “DCDC Rock N’Semble” merupakan terobosan baru dalam bermusik. Tahun lalu, DCDC juga berhasil menggarap kolaborasi epik antara Burgerkill yang memainkan aliran musik metal dengan orkestra dalam gelaran 'DCDC Killchestra'.

Kali ini, kata dia, DCDC hadir kembali membawa satu terobosan baru yang menggabungkan dua kutub musik yang berbeda, yaitu musik punk dengan musik tradisional. Punk sebagai aliran musik “impor” dari mancanegara berhasil dikawinkan dengan gamelan, salah satu musik tradisional kebanggaan Indonesia.

“Respons penonton cukup bagus. Mereka datang dari Serang, Karawang, Priangan timur, dan lainnya. Mereka hadir semua ke sini untuk menyaksikan kolaborasi apik ini. Ke depan Insyaallah akan terus berkembang, ide itu terus ada. Kita tunggu aja nanti,” kata Sigit.

Rosemary dan Ki Ageng Ganjur dipertemukan dalam sebuah tur pada tahun 2015. Ide liar untuk mengolaborasikan musik skate-punk dan gamelan sudah hadir saat itu, namun, belum sempat direalisasikan. Akhirnya, rencana keduanya dapat terlaksana lewat “DCDC Rock N’Semble”. Program spesial DCDC ini secara konsisten mendukung pergerakan musisi atau band independen tanah air.

Proses kolaborasi ini diawali dengan agenda berlatih bersama di sebuah padepokan di Yogyakarta dengan melibatkan Hinhin Agung Daryana (Akew) sebagai music director. Kemampuannya di bidang instrumentasi tradisional membuat Hinhin menjadi sosok yang paling tepat untuk merancang aransemen antara Rosemary dan Ki Ageng Ganjur.

Kolaborasi yang mempertemukan gaya musik modern dan tradisional ini merupakan bukti lain dari universalitas musik, di mana kreativitas adalah hal yang tidak berbatas dan kolaborasi jadi salah satu cara nyata untuk menabrak sekat-sekat yang muncul atas nama aliran musik tertentu.

Hasil kolaborasi ini juga jadi catatan penting untuk mengangkat potensi musik yang dimiliki negeri ini. ‘DCDC Rock N’Semble’ bersama Rosemary dan Ki Ageng Ganjur adalah satu terobosan yang patut untuk diapresiasi dan diharapkan penikmat musik Rosemary maupun Ki Ageng Ganjur bisa menikmati karya mereka.

“Ini sesuatu yang baru, pengalaman baru. Bukti akan pergerakan yang kami lakukan pada tahun ini. Ini bukti bahwa kami bisa memberi penetrasi lain yang lebih wah. Kami terima kasih banyak kepada DCDC yang sudah memfasilitasi kami. Termasuk ke Ki Ageng Ganjur, yang sudah berkolaborasi,” kata Fajar.

Denny menjelaskan, Rosemary memilih Ki Ageng Ganjur karena pada 2015 pernah menggarap musik bersama. Secara kedekatan, dua grup musik ini telah saling terkait. Apalagi mereka adalah seniman tradisional tetapi dengan hasil karya modern, sehingga lebih mudah memadukannya.

“Memang ada beberapa kesulitan, karena memasukkan dua unsur musik gamelan dan punk tidak mudah. Ternyata memang unsurnya beda, tapi ternyata bisa. Kita plong saja. Ini bikin kami plong, bisa memadukan itu,” kata Denny.

Inkmary menambahkan, kolaborasi ini tak hanya soal memadukan dua musik, tetapi ajang memperkenalkan musik etnik Indonesia kepada generasi muda. Ada unsur nasionalisme yang dibawa pada kolaborasi ini. Harapannya, banyak generasi muda mengenal musik tradisional.

Dalam konsep konser itu, “DCDC Rock N’Semble” juga menghadirkan musisi lain, yakni Stand Here Alone, Lowdick, Sir Iyai, Iksan Skuter, Maw & Wang, DJ E-One Cronik dan salah satu band DCDC ShoutOut! yaitu Olegun Gobs.***

Bagikan: