Pikiran Rakyat
USD Jual 14.034,00 Beli 14.132,00 | Berawan, 20.4 ° C

Kelas Literasi: Sejarah Karinding Priangan

Windy Eka Pramudya
PENULIS buku Sejarah Karinding Priangan, Iman Rahman atau Kimung menunjukan alat musik karinding pada "Kelas Literasi: Sejarah Karinding Priangan", di Museum Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu, 19 Oktober 2019. Kegiatan yang digagas Komunitas Aleut itu membahas proses kreatif Kimung saat menulis buku Sejarah Karinding Priangan.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR
PENULIS buku Sejarah Karinding Priangan, Iman Rahman atau Kimung menunjukan alat musik karinding pada "Kelas Literasi: Sejarah Karinding Priangan", di Museum Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu, 19 Oktober 2019. Kegiatan yang digagas Komunitas Aleut itu membahas proses kreatif Kimung saat menulis buku Sejarah Karinding Priangan.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

DIKERJAKAN selama sepuluh tahun, Iman Rahman atau Kimung membuka wahana literasi baru terkait sejarah musik tradisional, khususnya karinding. Pada buku setebal lebih dari 900 halaman itu, Kimung bercerita tentang keberadaan karinding di Jawa Barat. Proses riset dan wawancara dia lakukan dengan menyambangi sejumlah titik di Jawa Barat. Dia juga menyadur banyak naskah Sunda kuno sebagai refensi, dan mewawancarai sekitar 1.300 narasumber. 

Proses penggarapan buku Sejarah Karinding Priangan ini Kimung kemukakan pada Kelas Literasi: Sejarah Karinding Priangan. Berlangsung di Auditorium Museum Gedung Sate Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu, 19 Oktober 2019, kegiatan yang digagas Komunitas Aleut ini merupakan kelas literasi edisi ke-158.

Kimung mengungkapkan, dia mengetahui dan mendengarkan musik tradisional dari orangtuanya. Namun, secara personal, Kimung tumbuh sebagai seorang metalhead, yaitu penikmat musik metal sampai akhirnya terlibat aktif sebagai musisi metal sejak era 1990-an. Di awal era 200-an, kata Kimung, muncul fenomena glokalisasi atau globalisasi dengan kearifan lokal di dunia. Hal ini ditandai dengan perlisan buku dan berbagai bentuk literasi. Sayangnya, di Indonesia tidak ada literasi yang berbicara tentang sejarah musik. 

"Fenomena glokalisasi ini berbarengan dengan bangkitnya musik death metal yang mengatasnakaman kota. Ketika itu muncul misalnya Tokyo Deathfest, dll. Bandung mengikuti pusaran itu, dengan munculnya Bandung Deathmetal Syndicate yang berlogo kujang. Di kegiatan ini selain pertunjukan musik ditampilkan juga seni tradisional seperti debus dan silat," tutur Kimung.

Kimung menyebutkan sejak muncul gerakan glokalisasi, di budaya Sunda, ada lima medium yang bisa dipakai memperkenalkan tradisi Sunda ke generasi muda, yaitu iket, pangsi, kujang, aksara Sunda kuno, dan karinding. Dari lima artefak ini generasi muda bisa memahami Sunda secara utuh. Melalui karinding, Kimung tahu ada instrumen musik pertama di tanah Sunda yang biasa dipakai untuk pertanian, tapi sudah punah sekitar 600 tahun. 

"Saya tidak percaya kalau karinding sudah punah. Buktinya, sebagai metalhead saya bisa mendapatkan karinding dari teman-teman di lingkungan death metal. Kesimpulan saya, ada mata rantai yang hilang terkait karinding ini, karena pemerintah, seniman, media, dan masyarakat tidak saling berkesinambungan," kata Kimung yang juga menulis buku Ujungberung Rebels: Panceg Dina Galur.

Menurut Kimung, sebelum dia mulai menulis buku Sejarah Karinding Priangan, banyak penulis lain yang telah membahas karinding. Salah satunya Ridwan Hutagalung yang membuat jurnal penelitian tentang karinding. Akan tetapi, literasi itu tidak menyebar secara masif. Saat itu, literasi tentang karinding hanya menyebar parsial di kalangannya saja. Sementara itu, di ranah musik metal, jejaringnya luas dan sudah berkembang. Untuk itulah, literasi dan pergerakan karinding bisa lebih luas.***

Bagikan: