Pikiran Rakyat
USD Jual 14.039,00 Beli 14.137,00 | Umumnya berawan, 23.1 ° C

Luncurkan Album Satu Barisan, Jeruji Tampil Makin Kencang

Muhammad Fikry Mauludy
JERUJI kembali melahirkan karya bertajuk "Satu Barisan" setelah kepergian vokalisnya, Ginan. Itu menjadi cerminan bahwa Jeruji masih menyimpan banyak harapan dari perjuangan yang telah dimulai Ginan.*/DOK JERUJI
JERUJI kembali melahirkan karya bertajuk "Satu Barisan" setelah kepergian vokalisnya, Ginan. Itu menjadi cerminan bahwa Jeruji masih menyimpan banyak harapan dari perjuangan yang telah dimulai Ginan.*/DOK JERUJI

SEPENINGGAL pentolan karismatik, Ginan Koesmayadi, setahun lalu, Jeruji mulai bangkit. Dengan vokalis teranyar, Jeruji mantap memasuki proses transisi. Album ”Satu Barisan” yang akan diluncurkan membuktikan pengalaman dan ­kematangan mereka sebagai musisi.

Kali ini, Jeruji menawarkan kecepatan tempo yang lebih tinggi. Dari prosesnya, mereka menakar kuatnya lirik lalu ber­sepakat mempercepat tempo itu dianggap tepat. Berlarinya lagu ini juga mempertimbangkan masukan vokal, rasa baru dari Rangga sebagai pelantang lirik.

Lagu-lagu dalam album ”Satu Barisan” yang berisi 11 karya itu juga dibentuk nyaris tanpa jeda. Permainan bas Pengex terus diforsir, berperan sebagai metronom, nyaris tak berisitirahat. Ia meyakini bas yang mengisi nyaris tanpa henti itu memberi rasa.

”Secara komposisi lagu, dengan tempo tenaga gitar yang edan, dari nyawa lagu, jangan sampai lagu ada kosongnya. Di album ini memang jangan sampai ada yang kosong. Meskipun tidak terprediksi di awal, tetapi akhirnya memberikan kedalaman nyawa,” kata Pengex saat hearing session album "Satu Barisan" di Rumah Cemara Kota Bandung, Kamis, 17 Oktober 2019.

Dari segi teknik bermusik, itu terlihat dari permainan setiap personelnya. Teknik drum solo dari Sanny mengawali intro ”Satu Barisan”. Tak lama, gitar Andre dan Ichad, bas Pengex, serta warna suara baru Jeruji lewat Rangga masuk meng­gebrak. Andre dan Ichad langsung ­mengiringi lewat distorsi gitar padat khas hardcore.

Semua personel bermain dengan tempo supercepat. Pengex mengungkapkan, tempo cepat tentu membuat semua pemain menge­luarkan energinya. Meskipun demikian, teknik bermain masih bisa dikejar, seperti gitar dengan paduan triplet, crossover, dan downstroke.

Teknik downstroke melengkapi ketukan drum bertempo tinggi, membuat musik terasa padat, ramai dengan kedalaman irama. Tanpa downstroke, kata Pengex, nyawa lagu itu akan hilang. Jeruji memang terbiasa membuat karya dengan tempo cepat.

JERUJI kembali melahirkan karya bertajuk "Satu Barisan" setelah kepergian vokalisnya, Ginan. Itu menjadi cerminan bahwa Jeruji masih menyimpan banyak harapan dari perjuangan yang telah dimulai Ginan.*/DOK JERUJI

Menjiwai rasa bersama-sama

Lagu ini cukup membakar semangat, memancing raga di setiap penampilannya untuk terus menggerakkan penonton melakukan moshing atau circle pit di ruang-ruang gigs. Menjelang lagu berakhir, audiens diajak nyanyi bareng, menjiwai satu rasa bersama band.

Lirik ”Satu barisan, seribu ­harapan, menantang kelam!” itu bisa memancing fans bernyanyi sambil mengepalkan tangan ke udara. ”Satu Barisan” akan menjadi lagu kebangsaan baru Jeruji, menambah lagu wajib bagi fans sebelumnya yakni ”Lawan”, ”Stay true”, dan ”Bandung Pride”.

”Terserah bagaimana nanti apresiasinya. Kami hanya berharap selain menawarkan musik, juga menyampaikan energi kami pada audiens. Kami main lagu ’Satu Barisan’ ini lumayan capek. Jadi kami juga ingin bikin penonton capek,” kata Pengex, berseloroh.

”Satu Barisan” diciptakan tentang persaudaraan, konsolidasi, dan perlawanan bersama. Kebetulan, lagu ini sudah diciptakan saat momentum keramaian demo yang terus memanas sejak pertengahan tahun ini. Petikan lirik dibentuk untuk mewakili peran Jeruji, selaras bersama mereka yang tengah menyuarakan keadilan di dalam satu barisan.***

Bagikan: