Pikiran Rakyat
USD Jual 14.039,00 Beli 14.137,00 | Hujan petir singkat, 22 ° C

Lewat Album Baru, Jeruji Lanjutkan Perjuangan Ginan

Muhammad Fikry Mauludy
JERUJI kembali melahirkan karya bertajuk "Satu Barisan" setelah kepergian vokalisnya, Ginan. Itu menjadi cerminan bahwa Jeruji masih menyimpan banyak harapan dari perjuangan yang telah dimulai Ginan.*/DOK JERUJI
JERUJI kembali melahirkan karya bertajuk "Satu Barisan" setelah kepergian vokalisnya, Ginan. Itu menjadi cerminan bahwa Jeruji masih menyimpan banyak harapan dari perjuangan yang telah dimulai Ginan.*/DOK JERUJI

RASA duka cukup lama mendera personel Jeruji setelah Ginan menghadap Yang Mahakuasa, Juni 2018 silam. Album ”Satu Barisan” pun tercipta setelah Jeruji rela melepas kepergian vokalis mereka itu.

Para personel menyadari, semangat Ginan dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaan sudah terpatri di banyak manusia, terutama fans mereka. Apalagi, banyak orang yang termarginalkan merasa terwakili dan diperjuangkan dalam setiap penampilan Jeruji.

Lahirnya karya Jeruji setelah kepergian vokalisnya menjadi cerminan bahwa Jeruji masih menyimpan banyak harapan dari perjuangan yang telah dimulai Ginan. Bersama pengagum Jeruji serta para pencinta hard­core punk, karya ”Satu Barisan” ini memperpanjang peran mereka di tengah bangsa Indonesia yang berjuang melawan dis­kri­minasi.

Pengex mengisahkan, tema keseluruhan album itu memang ­keberlanjutan sisa-sisa perjuangan bersama antara Jeruji dan Ginan. Dobrakan Jeruji melalui single ”Satu Barisan” membawa serta amanah perjuangan yang kerap disuarakan Ginan.

Album ini pun memperpanjang peran Jeruji dalam kampanye Indo­nesia Tanpa Stigma. Mereka ingin memberi semangat kepada siapa pun yang mendapat diskriminasi, mendapat label buruk, terhina, hingga terabaikan.

Tugas Jeruji masih panjang. Masih banyak cita-cita bersama Ginan yang belum terwujud.

JERUJI kembali melahirkan karya bertajuk "Satu Barisan" setelah kepergian vokalisnya, Ginan. Itu menjadi cerminan bahwa Jeruji masih menyimpan banyak harapan dari perjuangan yang telah dimulai Ginan.*/DOK JERUJI

Sempat kesulitan, akhirnya Rangga mengisi posisi yang ditinggal Ginan

Pengex mengatakan saat hearing session album "Satu Barisan" di Rumah Cemara Kota Bandung, Kamis, 17 Oktober 2019, mereka sempat kebingungan mencari pengganti Ginan. Hingga akhirnya, mereka mendapatkan Rangga yang bisa merepresentasikan ”Satu Barisan” dengan Jeruji.

Soal penilaian karakter vokalis tentu dihadapkan dalam beragam subjektivitas. Namun, band yang berdiri pada 1996 itu telah mendapat tempat di jajaran legenda underground scene Kota Bandung setelah pernah melewati banyak ujian.

Muruah Jeruji juga sempat dianggap punah saat vokalis mereka, Themfuck, memutuskan pengunduran dirinya dari band. Nama Aldony ”Themfuck” dianggap sudah terlalu melekat pada diri Jeruji.

Namun, tanpa terasa, eksistensi Ginan mampu membentuk fondasi band, sekaligus mempertahankan nama besar Jeruji. Pengex mengatakan, Jeruji besar oleh lingkungan musik di sekelilingnya, serta fans dan ekosistem hardcore yang menumbuhkan rasa kekeluargaan.

Move on sempat dilakukan saat Jeruji euweuh nanaon tanpa Themfuck. Dari situ, kami tetapkan jika Jeruji bukan band, Jeruji itu keluarga. Sejak zaman Themfuck kami memperlakukan penonton itu saudara. Friend, ketimbang fans,” tuturnya.

Kampanye bersama Rumah Cemara

JERUJI kembali melahirkan karya bertajuk "Satu Barisan" setelah kepergian vokalisnya, Ginan. Itu menjadi cerminan bahwa Jeruji masih menyimpan banyak harapan dari perjuangan yang telah dimulai Ginan.*/DOK JERUJI

Rumah Cemara telah berkolaborasi mengampanyekan Indonesia Tanpa Stigma bersama Jeruji sejak lama. Apalagi, Ginan merupakan salah satu pendiri Rumah Cemara. Jeruji menjadi salah satu medium untuk menyuarakan kampanye yang diusung.

Direktur Rumah Cemara, Aditia Taslim menuturkan, banyak peningkatan pengaruh dari keberadaan Jeruji. Band hadir bukan sekadar menghibur, tetapi juga mengedukasi.

Saat ini, kondisi rapor HIV Indonesia tergolong buruk. Dari 640 ribu orang, baru 50 persen yang tahu status, atau sudah tes positif. Sisanya positif HIV, tetapi tidak menyadarinya.

Dari 300 ribu orang dengan HIV, yang sudah berobat baru 100 ribu. Itu menjadikan Indonesia dalam posisi ke empat terburuk sedunia. Padahal, obatnya ada dan gratis.

Jumlah terinfeksi baru pun telah menyentuh ke tiga terbesar di Asia Pasifik. Tahun 2018, jumlahnya 40 ribu orang, sedangkan angka kematian mencapai 36 ribu orang dan meningkat setiap tahun.

Dengan situasi politik seperti saat ini, kata Adit, kriminalisasi masih terjadi terhadap orang yang seharusnya diberikan hak pelayanan kesehatan yang layak. Dengan Jeruji, pergerakan penanganan terhadap orang dengan HIV yang awalnya cukup eksklusif menjadi inklusif.

Jeruji mengangkat isu-isu yang kerap dijauhi. Segmennya sangat relevan dengan segmentasi banyak audiens yang meng­alami diskriminasi. Hardcore punk bisa menjadi pemukul pesan-pesan kampanye Rumah Cemara.

Indonesia Tanpa Stigma merupakan kampanye yang memperjuangkan semua orang agar memiliki hak sama dalam mendapatkan layanan kesehatan berkualitas, memiliki hak dilindungi hukum berbasis HAM, serta memiliki hak untuk berkembang. Kampanye ”Support don’t Punish” juga mendesak dekriminalisasi para pengguna narkoba.

”Jeruji merespons ketidakadilan. Dengan semangat punk, mereka tahu, ini sistem yang tidak menguntungkan masyarakat secara umum, apalagi masyarakat tertindas,” tutur Adit.

Raga Ginan tak lagi dapat terjumpa. Tetapi nyawa perjuangannya masih hidup di banyak jiwa.***

Bagikan: