Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 23.4 ° C

Duet Perempuan Profesor Temukan Obat Lupus Berbahan Cecendet

Gita Pratiwi
DUET profesor Doktor Elin Yulinah, pengajar di Institut Teknologi Bandung, dan Afifah Sutjiatmo, Dekan Fakultas Ilmu Farmasi Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani), penemu cecendet obat lupus.*/GITA PRATIWI/PR
DUET profesor Doktor Elin Yulinah, pengajar di Institut Teknologi Bandung, dan Afifah Sutjiatmo, Dekan Fakultas Ilmu Farmasi Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani), penemu cecendet obat lupus.*/GITA PRATIWI/PR

KECIL, hijau, dan kopong, ciri buah cecendet, tanaman yang banyak ditemukan di dataran Indonesia. Tanaman ini bahkan bisa ditemukan di kawasan rumput liar, ilalang, atau di sela-sela perkebunan.

Tanaman ini sering dianggap gulma atau pengganggu tanaman lain. Namun demikian, dua perempuan profesor dari Bandung berkolaborasi meneliti cecendet sebagai bahan obat untuk penyakit autoimun Lupus.

Mereka adalah Elin Yulinah, pengajar di Institut Teknologi Bandung, dan Afifah Sutjiatmo, Dekan Fakultas Ilmu Farmasi Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani). Keduanya bertahun-tahun meneliti manfaat dan penggunaan tanaman ini.

Tanaman bernama ilmiah Physalis angulata L. ini juga dikenal sebagai ceplukan, ciplukan, atau yor yoran. Siapa nyana, kandungannya sangat bermanfaat untuk meredakan inflamasi, yang sering melanda orang dengan penyakit lupus.

"Penelitian ini berlangsung bertahun-tahun, oleh kami berdua yang berkolaborasi, walaupun beda perguruan tinggi. Hasil penelitiannya sudah digunakan Kimia Farma, yang memproduksi massal obat ini selama setahun terakhir," kata Afifah. Keduanya ditemui di sela Seminar Nasional Farmasi yang digelar Unjani, di Harris Hotel, Jalan Ciumbuleuit, Kota Bandung, Kamis, 17 Oktober 2019.

Dia menuturkan, penggunaan obat dengan diminum setiap pagi bersama obat standar lainnya. "Sangat baik untuk inflamasi, meredakan nyeri, menekan laju darah, sehingga tidak hipertensi," kata Afifah.

Penelitian obat-obatan baru berbahan herbal memang sangat diperlukan di Indonesia. Apalagi terdapat 30.000-an jenis tanaman yang berpotensi menjadi obat. Tetapi, kata Maya Agustina Andarini dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, baru 1.000 jenis tanaman yang diteliti dan dimanfaatkan sebagai obat.

"Memang harapan kami tanaman herbal bukan sekadar diteliti tapi dimanfaatkan," kata Deputi II Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM ini.

Maya mengambil kasus terlalu banyaknya kandungan kimia dalam suplemen, yang justru merugikan konsumennya. Contohnya sidenafil yang kerap dimanfaatkan dalam pembuatan obat disfungsi ereksi.

"Misalnya suplemen vitalitas pria, yang kandungan sidenafil-nya bisa menyebabkan jantung berdebar. Bahkan sampai meninggal dunia, akibat serangan jantung. Perlu diteliti lagi tanaman herbal yang bisa menjadi alternatifnya," ucap Maya.

Rektor Unjani, Witjaksono menyatakan, seminar ini sesuai dengan temanya yakni "Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Melalui Olahraga dan Suplemen yang Tepat.

"Kami harap masyarakat intelektual agar memanfaatkan kekayaan herbal bangsa kita lebih luas lagi," katanya.***

Bagikan: