Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sedikit awan, 21.3 ° C

Lendir Perkuat Kekebalan Tubuh

Huminca Sinaga
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

HAMPIR seluruh organ tubuh manusia dilapisi oleh selaput lendir. Dalam sehari, tubuh manusia dapat memproduksi sekitar satu liter lendir untuk melapisi saluran dan sistem organ manusia. Meskipun menjijikkan, lendir ternyata mengandung berbagai manfaat.

Sebuah penelitian dalam jurnal Nature Microbiology menunjukkan bahwa salah satu manfaat lendir adalah kandungan gulanya yang dapat melawan bakteri berbahaya dalam tubuh.

Selama lebih dari satu dekade, ahli biofisika Katharina Ribbeck dari Massachusetts Institute of Technology meneliti proses biokimia pada lendir. "Saya tertarik menelitinya karena sebagian besar organ kita mengandung banyak lendir," kata Ribbeck. Lendir melapisi saluran kerongkongan, melindungi perut, mempercepat gerakan sperma, dan melindungi hidung.

Ribbeck dan rekannya meneliti suatu senyawa dalam lendir yang disebut dengan mucin. Mucin memiliki rantai molekul panjang dan mengandung banyak senyawa gula. Molekul ini terlihat seperti tanaman sikat botol (bottlebrush) yang ditempeli gula di setiap helainya.

"Bukan hanya masyarakat umum yang menganggap lendir itu menjijikkan, di dunia kedokteran pun sama," ujar Gunnar C. Hansson, yang mempelajari senyawa mucin di Unversity of Gothenburg di Swedia. "Lendir ini sangat kompleks untuk dipelajari. Topik penelitian tentang keduanya tidak banyak diangkat dalam penelitian biomedis."

Lendir sering kali diibaratkan sebagai suatu saringan yang dapat menangkap dan membunuh mikroba, nyatanya gambaran ini kurang tepat. “Kami memasukkan mikroba ke dalam lendir, ternyata mikroba tidak terjebak sama sekali,” ungkap Ribbeck.

Bakteri justru bergerak bebas seperti plankton dalam gumpalan lendir. Akan tetapi, lendir dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh. Bakteri yang bergerak bebas tanpa membentuk koloni dapat ditembus oleh sel-sel imun dalam tubuh manusia.

Tidak semua bakteri perlu dibasmi. Faktanya, jumlah bakteri berbahaya itu sangat sedikit. "Sekitar triliunan mikroba tumbuh di luar dan di dalam tubuh manusia," kata Ribbeck.

Misalnya, mikroorganisme dalam lendir saluran pencernaan membantu proses pengolahan makanan. "Manusia menyediakan rumah bagi mikroba. Sebagai imbalannya, mereka membantu berbagai proses penting dalam tubuh," jelas Ribbeck, dikutip dari Washington Post. Ia berhipotesis bahwa lendir dapat menjinakkan kuman menjadi mikroba yang bermanfaat.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa mucin yang dimurnikan dapat menjebak mikroba berbahaya dalam tubuh. Studi terbaru membuktikan bahwa kandungan gulalah yang berfungsi sebagai perangkap bagi mikroba jahat.

Uji kekuatan

Para ilmuwan melakukan beberapa percobaan untuk menguji kekuatan lendir. Mereka mengembangbiakkan mikroba dalam sel epitel manusia dan lendir. Hasilnya penelitian menunjukkan kandungan gula dalam lendir dapat menyembuhkan infeksi luka bakar pada babi. Para ilmuwan mengumpulkan air liur manusia untuk studi ini, kemudian mengujinya dalam usus babi.

Wheeler, Ribbeck dan rekannya menguji bagaimana gula bereaksi dengan bakteri bernama Pseudomonas aeruginosa. Bakteri ini tidak menyebabkan penyakit, kecuali jika menginfeksi orang dengan cystic fibrosis atau sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Mereka mencari tahu bagaimana senyawa gula bekerja saat melepaskan diri dari rantai polimer. Penelitian ini menunjukkan bahwa reaksi bakteri Pseudomonas dengan gula dapat mengurangi potensi bakteri untuk menularkan penyakit. Senyawa dalam lendir dapat menghambat berbagai sifat genetik bakteri, seperti membunuh mikroba lain, melepaskan toksin, komunikasi antar sel hingga membentuk suatu koloni.

Kandungan gula dalam lendir "seperti serbuk peri," kata Ribbeck. "Senyawa ini sangat aktif."

Profesor Pediatri bernama Lars Bode dari University of California tertarik dengan temuan ini. Menurutnya, air susu ibu mengandung banyak molekul gula dengan struktur yang serupa. Ia berhipotesis bahwa senyawa ini mungkin memiliki efek yang sama saat sang ibu menyusui anaknya.

"Daripada menggunakan antibiotik, mengapa kita tidak melawan bakteri jahat dengan tubuh kita sendiri?" Kata Bode.

Sebuah penelitian yang belum dipublikasikan menunjukkan bahwa gula dapat menjinakkan jenis mikroorganisme lainnya, seperti ragi dan bakteri Streptococcus mutans dalam rongga mulut. Para ilmuwan turut senang dengan penemuan molekul penyembuh dalam lendir manusia. Sekarang ini, banyak bakteri yang semakin resistan pada obat antibiotik. Penemuan tersebut dapat menjadi solusi atas permasalahan ini.

“Menghilangkan kemampuan bakteri sebagai pembawa penyakit bisa menjadi solusi yang sangat cerdas,” ujar Ribbeck, menyimpulkan. (DN-Job/Huminca Sinaga)***

Bagikan: