Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Umumnya cerah, 23.4 ° C

80 Persen Pasien Internasional di Malaysia Adalah Orang Indonesia

Vebertina Manihuruk
LAYANAN kesehatan di RS Loh Guan Lye di Penang, Malaysia.*/VEBERTINA MANIHURUK/PR
LAYANAN kesehatan di RS Loh Guan Lye di Penang, Malaysia.*/VEBERTINA MANIHURUK/PR

PENANG, (PR).- Sebanyak 80 persen pasien internasional yang menggunakan layanan kesehatan di Malaysia adalah pasien asal Indonesia. Jumlahnya mencapai 900 ribuan orang dari total pasien internasional yang mencapai 1,2 juta orang pada tahun 2018.

Bagi pasien Indonesia, layanan medical check up menjadi perawatan yang paling banyak dilakukan di sana. Penang menjadi destinasi yang paling banyak dikunjungi.

Hal itu dikatakan Sherene Azli, CEO Malaysia Healthcare Travel Council (MTHC) dalam konferensi pers Malaysia Healthcare Media Familiarisation Visit di The Wembley Hotel, Penang Malaysia, Minggu, 13 Oktober 2019. MHTC merupakan agensi kesehatan milik Kementerian Kesehatan Malaysia yang menaungi 73 rumah sakit yang berakreditasi internasional.

"Tahun 2018, Indonesia paling banyak, lalu diikuti China, India, Myanmar, dan negara-negara ASEAN lainnya. Ada juga dari negara Arab, Australia, Selandia Baru, Inggris, dan Amerika," katanya.

Sherene mengatakan, medical check up memang yang paling banyak dilakukan pasien Indonesia di RS yang tergabung dalam MHTC. Perawatan atau pengobatan yang juga banyak dilakukan adalah pengobatan kanker, jantung, orthopaedi, dan saraf.

Target minimal 1 juta orang

Jumlah pasien tahun 2018 itu meningkat 12% persen dari jumlah pasien tahun 2017. Karena itulah, kata Sherene, MHTC menargetkan jumlah pasien sepanjang 2019 akan mencapai minimal 1 juta orang.

SHARENE Azli, CEO Malaysia Healthcare Travel Council (MTHC) dalam konferensi pers Malaysia.*/VEBERTINA MANIHURUK/PR

Ditambahkannya, Pemerintah Malaysia mengutamakan layanan kesehatan sehingga bisa dijadikan tujuan bagi pasien internasional. Secara kualitas, RS didorong untuk memiliki akreditasi internasional dan terus memperbarui teknologinya. Selain itu, harga ditetapkan secara terjangkau, akses dipermudah, dan layanan dokter dilakukan secara maksimal.

"Promosi pun dilakukan secara kolaborasi untuk semua RS. Kebanyakan negara, promosi dilakukan RS masing-masing. MHTC juga melayani bukan hanya untuk promosi, tapi membantu melancarkan keberangkatan pasien, menyambut kedatangannya di bandara di Malaysia, dan membantu memberikan laporan medis untuk dokter di Indonesia," tuturnya.

Penang sebagai tujuan utama perawatan kesehatan

Sherene menyatakan, meski layanan kesehatan tersedia juga wilayah lain di Malaysia, namun Penang adalah kota yang paling banyak dipilih pasien, terutama dari Indonesia. Hal itu dilatarbelakangi pertumbuhan RS yang lebih dulu ada di Penang dan promosi dari mulut ke mulut yang cepat menyebar.

"Dari seluruh jumlah pasien Indonesia, sebanyak 400 ribu lebih berobat ke Penang. Selanjutnya jumlah terbanyak di Kuala Lumpur, Malaka, Johor Baru, lalu Kuching. Kenapa lebih banyak, karena pasien-pasien seperti dari Sumatera Utara dan Aceh lebih dekat ke sini, daripada ke Jakarta, lalu informasinya menyebar," tuturnya.

LAYANAN kesehatan di RS Loh Guan Lye di Penang, Malaysia.*/VEBERTINA MANIHURUK/PR

Pertumbuhan itu, kata dia, memang terjadi kepercayaan. Ia menyatakan, pemerintah dan RS tidak punya banyak anggaran untuk promosi dibandingkan negara lain. Tetapi, ketika diberikan layanan yang baik, kepercayaan pun terbangun sehingga informasi bisa tersebar.

"Harga pelayanan itu sepertiga atau seperempat dibandingkan negara lain, misalnya Singapura. Tetapi itu membuat margin sedikit dan biaya promosi pun sedikit. Karena itulah, kepercayaan dari pasien yang membuat program kesehatan di Malaysia semakin dikenal, karena pasien menginformasikan ke teman-teman dan keluarganya," ujarnya.***

Bagikan: