Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

27 Tahun Turtles Jr.: Panjang Umur "Kuya Ngora!"

Muhammad Fikry Mauludy
SUASANA acara 27th Turtles Jr., di Freshbeer, Braga, Bandung, Kamis, 10 Oktober 2019 malam. Panggung malam itu juga sekaligus memperkenalkan album baru.*/MUHAMMAD FIKRY MAULUDI/PR
SUASANA acara 27th Turtles Jr., di Freshbeer, Braga, Bandung, Kamis, 10 Oktober 2019 malam. Panggung malam itu juga sekaligus memperkenalkan album baru.*/MUHAMMAD FIKRY MAULUDI/PR

DI tengah kepadatan penonton, dua anak muda terengah, mengejar napas tersisa. Masih mengap-mengap, sempat-sempatnya mereka saling bersahutan, “Punk Not Dead!”, “Turtle Not Dead!”. Teriakan itu keluar meluap dari wajah-wajah kesenangan.

Di sekitar mereka, kondisinya serupa. Tua-muda banjir keringat. Beberapa dari mereka mulai gontai sambil menghela napas. Suasana itu terlihat saat Turtles Jr. selesai memainkan lagu kesembilan, This Is Fuck Off System.

Tak lama, intro lagu AGTB terdengar di speaker. Kumpulan pecinta punk di depan panggung mulai kembali bergerak pogo. Dari belakang, sekumpulan lain menggeruduk. Jaket penuh spike beradu dengan kulit tubuh fans Turtles Jr. yang bertelanjang dada.

Satu-dua orang melompat dan mulai melakukan crowd surfing. Dengan ruang terbatas, mosh pit atau crowd surfing memang masih tergolong aman. Di scene underground, mereka saling menjaga satu sama lain.

Saat seseorang terjatuh, beberapa dari mereka sigap membuat barikade kecil dan mengangkat anak muda itu hingga kembali berdiri. Bunyi pukulan drum yang masih mengentak membuat mereka kembali pogo, tak ingin melewatkan sedikit pun irama cepat yang tengah bermain di depan mereka.

Sepanjang 27 lagu berpacu kencang di Freshbeer, Braga, Bandung, Kamis, 10 Oktober 2019 malam, tak terlihat energi crowd yang mengendur. Apalagi, di atas panggung adalah band legenda yang mereka hormati: Turtles Jr.

Berulang tahun ke-27

Malam itu merupakan hari istimewa. Turtles Jr. berulang tahun yang ke-27. Usia yang menggambarkan betapa jauh masa-masa awal band itu mulai mengenalkan diri di ranah musik bawah tanah Bandung.

Turtles Jr. terbentuk melalui Yoni, Tengkoe, Dohem, dan Boeboen “Boentar”, pada 1992 lalu. Dari beberapa lagu hits semacam Kuya Ngora yang dimainkan Turtles Jr. malam itu, beberapa dari barudak punk yang hadir mungkin belum lahir.

Tetapi, lagu itu terus menggema, menerjang tahun, mendobrak masa, sekaligus mengiringi beragam generasi. Lagu-lagu Turtles Jr. masih mampu menggerakkan penentangan atas ketimpangan sosial dan ekonomi, kebusukan politik, di jiwa barudak punk, sampai kapanpun.

Terlebih, gerakan menantang kekacauan sistem di dalam negara ini masih meletup lewat soliditas personel band yang saat ini dimotori Boentar (drum), Boodfuck (vokal), Dohem (bass), dan Buux (gitar).

Ruh tetap ngora

Tahun 2019 menjadi bukti jika ruh “Kuya Ngora” terus dijaga agar tetap ngora (muda). Nama besar Turtles Jr. yang abadi makin diperkokoh dengan hadirnya album ketujuh mereka yang belum diberi nama. Album itu melengkapi album Die My Girls pada 1997, This Is Fuck System (1998), Restart the Punk (2004), Bintang Mati (2008), Murder (2012), dan The Best of (2015).  

Album baru berisi 13 lagu yang mereka ciptakan masih melontarkan teriakan pada absurditas kalangan elite dalam sistem negara, serta ketidakadilan yang belum hilang di sekitar kita. Buux menceritakan, lagu Die Your Government di album baru mereka ini juga menyoroti perasaan rakyat yang dipermainkan oleh kepentingan politik bernegara. Salah satunya terkait RUU KUHP yang mereka pikir arahnya tidak jelas, sementara rakyat yang menjadi korban.

Adapun lagu War Religion tercipta saat Indonesia yang ramai saling benci atas dasar agama. Lagu ini muncul memprotes cara-cara hidup yang berupaya memecah belah manusia dengan agama sebagai alatnya.

Menentang banyak kondisi

Turtles Jr. menghadirkan punk untuk menentang banyak kondisi, mengajak fans menyimak makna dari setiap lirik, dan membuka pemikiran fans mereka supaya matang dalam merespons perubahan situasi di kehidupan sekitar.

Proses penciptaan album juga tak mudah. Dalam bermusik, kata Buux, mereka besar dengan semangat bersenang-senang. Tetapi soal karya, mereka enggan main-main.

Beberapa kali bentukan lagu diubah. Banyak lagu dengan sound yang lebih bervariasi. Prosesnya hampir setahun, karena mereka juga diselingi banyak undangan manggung. Meski santai, tetapi akhirnya dilecut hingga rampung tahun ini.

Album ini bakal menjadi penanda jejak sejarah musik band asal Bandung itu. Dengan cepatnya perluasan akses sebaran lagu melalui media sosial, kualitas lagu tentu sangat terbuka untuk dinilai komunitas punk di luar Bandung, khususnya negara lain. Lagu-lagu ini juga harus mampu diterima punk berkultur lain saat mereka menggelar tour Asia dan Eropa.***

Bagikan: