Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

27 Tahun Turtles Jr.: Inspirasi Bagi Band Underground

Muhammad Fikry Mauludy
SUASANA acara 27th Turtles Jr., di Freshbeer, Braga, Bandung, Kamis, 10 Oktober 2019 malam. Panggung malam itu juga sekaligus memperkenalkan album baru.*/MUHAMMAD FIKRY MAULUDY/PR
SUASANA acara 27th Turtles Jr., di Freshbeer, Braga, Bandung, Kamis, 10 Oktober 2019 malam. Panggung malam itu juga sekaligus memperkenalkan album baru.*/MUHAMMAD FIKRY MAULUDY/PR

AREA yang penuh-padat tidak hanya terkonsentrasi di depan panggung ulang tahun ke-27 Turtles Jr. Di barisan belakang, banyak pentolan underground Bandung yang ikut hadir. Mereka yang ikut mengikuti perjalanan panjang Turtles Jr., baik di panggung maupun di komunitas.

Beberapa di antaranya besar bersama di kumpulan PI, sebuah titik kumpul di Jalan Sumatera. Area pinggir jalan itu menjadi saksi banyaknya band lahir di awal 1990, termasuk Turtles Jr. Aldi “Keparat” Ferdiana ingat betul kemunculan Turtles Jr. di tengah barudak PI.

Ia ngefans dengan Yoni, personel awal Turtles Jr. Band itu yang memengaruhi Aldi membentuk band Keparat. Selain dia, barudak punk lain juga terdorong bikin band setelah terinspirasi Turtles Jr. bagi Aldi, Turtles Jr. menjadi salah satu pionir sekaligus influence bagi tumbuhnya scene punk di Bandung.

Band lawas yang bertahan masih banyak. Yang tetap eksis dari panggung ke panggung pun tidak sedikit. Tetapi Turtles Jr. masih manggung, dan masih menghasilkan album.

“Turtles Jr. ini tentu menjadi pendorong bagi generasi band sekarang. Bandung kan sempat banyak yang bikin band. Tetapi sekarang terdengar semangatnya turun. Mudah-mudahan dengan adanya karya Turtles yang menghasilkan banyak album dan bertahan lama ini bisa memberi semangat anak muda, juga band lain untuk berkarya dan panjang umur,” ujar Aldi.

Salah seorang pentolan musik bawah tanah Bandung, Dadan Ketu, juga punya kesan khusus pada Turtles Jr. Selayaknya band underground dahulu, Turtles Jr. juga berangkat dari hobi, pertemanan, serta berangkat dari perlawanan band mainstream kala itu.

Gaya hidup lengkap dengan gaya berpakaiannya saat itu sudah menjadi bentuk perlawanan terhadap musik dan fesyen umum. Tetapi, dasar menjiwai musik underground sekadar beda pakaian dan rambut mohawk itu tak lama.

Dengan cepat mereka memaknai musik, termasuk punk rock sebagai musik perlawanan. Semakin menjiwai, band bermunculan dengan lirik-lirik yang sesuai dengan kegelisahan anak muda, pertentangan dengan pemerintah, keluarga, cinta, hingga soal pendidikan

Setelah kemunculannya, nama Turtles Jr. besar di panggung-panggung. Dadan melihat belum ada band yang mirip Turtles, dengan ciri khas punk rasa Inggris, senada dengan The Exploited. Turtles Jr. tercatat sebagai band yang konsisten walaupun sempat gonta ganti personel. Band ini pernah diisi Yoni, Tengkoe, Icha, Andika, Adi, dan Badick.

“Tetapi musiknya masih terjaga, style mereka masih terjaga. Mereka bisa mempertahankan karakter Turtles. Lirik-lirik kehidupan real, jalan hidup, wanita, nilai sosial. Mereka lebih menekuni kesenangan di musik,” kata Dadan.

Turtles menjadi role model band yang tetap eksis di jalurnya. Eksistensi selama 27 tahun menunjukkan bagaimana mereka bisa bersenang-senang dengan musiknya. Tidak akan ada yang menyangka jika Turtles Jr. bisa survive selama 27 tahun dengan genre musiknya.

“Mereka tidak pernah berpikir ke depan akan seperti apa. Yang saya salut konsistensi mereka yang main di jalur ini, dengan berganti personel, banyak munculnya genre lain, dia bertahan dengan musik dia. Ini karena kesenangan mereka menikmati musik. Respect. Mereka bisa enjoy selama 27 tahun,” tutur Dadan.

Kebersatuan

Makna bermusik adalah bersenang-senang memang dirasakan Dohem selama membawa nama Turtles Jr. Yang ia alami, 27 tahun itu tidak terasa.

“Kita cuma ingin tetap berkarya. Biar tidak terlalu stres, masih ada hiburan. Kita ingin terus tetap solid. Tujuan kita hanya ingin terus menghibur banyak orang di scene punk,” ujarnya.

Ia dan personel lainnya hanya berupaya agar band ini jangan sampai mati. Selama masih banyak yang menerima Turtles Jr. tidak ada alasan untuk berhenti.

Selain menjaga kebersamaan di antara personel, Dohem juga menunjuk peran barudak yang ada di lingkaran komunitas underground. Kekompakan yang terus bertahan hingga saat ini ikut memelihara energi hingga Turtles Jr. bersemangat merilis karya-karya baru.

“Anak-anak PI dan tongkrongan atau tempat kumpul lain juga selalu kompak. Solidaritas tinggi. Tetap menjaga silaturahmi berbagai genre musik. Tidak ada blok-blokan. Itu yang membuat Turtles Jr. kuat sampai saat ini,” kata Dohem.

Buux menambahkan, kunci bertahannya Turtles Jr. karena mereka tidak pilih-pilih bergaul dengan siapa pun, tua maupun muda, hingga lintas usia. Tak heran jika pada konser ulang tahun ke-27 Turtles Jr., puluhan anak muda yang tak kebagian masuk tetap berkumpul di luar, meski hanya ingin memberi selamat ulang tahun bagi para personel Turtles Jr.

“Karena kita sering manggung di acara, mereka, terutama yang muda ini selalu ada. Bandung ekosistem underground-nya memang besar. Begitu ada acara, semua keluar dan berkumpul. Kalau punk sampai kapanpun akan tetap ada. Insyaallah Turtles akan selalu ada,” tutur Buux.***

Bagikan: