Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

Terungkap, Alasan Anak jadi Perisak

Huminca Sinaga
*/DOK. PR
*/DOK. PR

DIBALIK kepolosannya, siapa yang menyangka bahwa anak-anak justru bisa menjadi pelaku bullying atau perisakan yang sangat kejam. Tindakan mereka bisa sangat kejam, mengejutkan, dan tanpa ampun. Akibatnya, tindakan ini dapat menimbulkan implikasi pada korban sepanjang hidupnya.

Namun, apakah yang membuat anak menjadi perundung?

“Selama ini, para peneliti mengira bahwa hanya ada satu tipe perundung yaitu anak agresif yang memiliki masalah harga diri akibat kekerasan dan kelalaian orang tua mereka di rumah,” kata Dorothy Espelage, seorang profesor pendidikan dari University of North Carolina di Chapel Hill seperti dilansir BBC dalam laporan khususnya soal perundungan di kalangan anak-anak. Rupanya, anggapan ini telah berubah.

Definisi perundungan berdasarkan penelitian akademik adalah suatu bentuk kekerasan antarindividu atau kelompok yang memiliki tingkat kekuatan yang berbeda satu sama lain. Definisi ini belum sepenuhnya menjelaskan dampak buruk perundungan terhadap korban dan alasan kompleks lain yang membuat anak menjadi perundung. Namun, salah satu faktor utamanya adalah perbedaan kekuatan.

“Misalnya, Anda merisak saya karena Anda adalah anak populer, sedangkan saya tidak. Perbedaan inilah yang membuat saya sulit membela diri,” jelas Espelage.

Faktor lain seperti kekerasan rumah tangga dan perkelahian saudara memang mendorong anak menjadi perundung, tetapi faktor lain juga harus dipertimbangkan. Seorang anak tumbuh di lingkungan yang keras tidak selamanya menjadi perundung, jika di sekolah ia didampingi dan didukung oleh orang-orang disekitarnya.

Jenis perundungan baru

Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian mengenai perisakan semakin beragam. Selain bentuk penindasan yang kasar dan terang-terangan, kini muncul jenis perundungan yang disebut dengan Machiavellian.

Menariknya, mereka yang masuk dalam kategori ini adalah anak yang pandai bersosialisasi, karismatik, dan disukai para guru. Gambaran tersebut sangat jauh dari stereotip pembully yang cenderung “dungu”. 

Dikutip dari situs BBC, para Machiavellian dapat menyesuaikan diri kapan mereka dapat bertindak dan tidak.

“Anak yang lebih dominan secara sosial ingin menjadi pemimpin bagi banyak orang. Caranya adalah dengan menempatkan orang lain sebagai bawahannya," kata Espelage.

Sebelumnya, para peneliti mendefinisikan perundungan sebagai tindakan yang terus dilakukan pelaku pada korban. Kini, definisi tersebut seakan terbantahkan seiring munculnya dunia daring di era digital ini.

"Satu ujaran kebencian saja yang diposting di  media sosial sudah bisa dilihat oleh jutaan orang,” tegas Espelage.

Media sosial

Faktanya, ada banyak persamaan antara perundungan yang terjadi di sekolah dan di internet. Beberapa peneliti berpendapat bahwa keduanya sama saja. Pasalnya, kini anak-anak sering membawa ponsel ke sekolah.

"Menurut penelitian kami, perundungan yang terjadi di sekolah sering kali berlanjut di media sosial,” kata Calli Tzani-Pepelasi, dosen psikologi di Universitas Huddersfield.

"Di sekolah, anak-anak  mungkin duduk bersebelahan, tetapi mereka malah saling mencela di media sosial. Dengan begitu, mereka merasa tenar karena tindakannya dapat dilihat oleh banyak orang.”

Jadi apa yang harus dilakukan jika anak menjadi seorang perundung?

Memahami motivasi mereka adalah langkah pertama yang bisa dilakukan. "Jika saya diberitahu bahwa anak saya terlibat dalam perundungan, saya akan bertanya padanya ‘Apa yang kamu dapatkan dari tindakan tersebut? Dan mengapa kamu melakukannya?’," tutur Espelage. Bisa saja, lingkungan sekolah lah yang mendorong anak melakukan perundungan.

Selain itu, patut dipertimbangkan juga apakah tindakan orang tua justru yang memengaruhi anak menjadi seorang perundung. “Gaya pendekatan orang tua dapat dengan mudah dicontoh oleh anak, termasuk yang buruk sekalipun,” ujarnya.

Sekolah juga berperan

Selain dari lingkungan keluarga, sekolah pun harus berupaya dalam memberantas tindak perundungan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan menerapkan buddy system, di mana siswa yang lebih muda berteman dan dibimbing oleh siswa yang lebih tua dari mereka.

Keuntungan yang didapat dari sistem ini adalah para siswa junior dapat mencontoh perilaku baik dari seniornya. Meskipun demikian, peran guru dan staf juga penting dalam memberantas perundungan yang terjadi di sekolah. “Tanpa mereka, sistem ini tidak dapat berfungsi,” kata Tzani-Pepelasi

Espelage yakin bahwa hubungan yang kuat antara anak, guru, dan teman sebaya adalah kuncinya. "Kasus perundungan sangat sedikit terjadi di sekolah yang menjaga hubungan erat dan memastikan anak merasa diterima di sana,” ujarnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah anak-anak akan berhenti menjadi perundung ketika mereka lulus sekolah. Espelage menambahkan bahwa beberapa anak mungkin masih suka menindas, tetapi tidak semua.

"Berdasarkan pengamatan saya, beberapa anak yang dulunya perundung akan bergabung dalam profesi di mana perilaku tersebut dianggap wajar, seperti polisi, profesor di universitas, atau pengacara."

Namun, bagian yang paling menyedihkan adalah dampak perundungan terhadap korban. Tindakan ini dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologis korban hingga bertahun-tahun lamanya.

Seorang korban perundungan bernama Youngz mengatakan, "Korban perundungan akan merasa dirinya tidak normal. Mereka akan kehilangan rasa percaya, rasa akan keselamatan dan keamanan," katanya.

Di awal tahun ini, perundungnya menghubungi Youngz melalui Facebook untuk meminta maaf. Saat menerima pesan tersebut, ia merasa marah.

“Tidak ada untungnya bagi saya untuk menerima permintaan maafnya, setelah apa yang ia lakukan pada saya dulu.”

Youngz berpikir permintaan maaf tersebut seperti ditujukan bagi diri perundung sendiri bukan untuk korban. "Saya sebenarnya merasa kasihan. Mungkin saja dia melakukan tindakan buruk tersebut karena mengalami masalah keluarga di rumah. Tapi saya juga tidak membenarkan tindakan tersebut," tuturnya.***

Bagikan: