Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya cerah, 24.2 ° C

4 Cara Memulai Hidup Minimalis, agar Lebih Bahagia dan Nyaman Beribadah

Gita Pratiwi
BEBERAPA sudut rumah pasangan Sweta Kartika dan Imania Eka Diyanti di Sariwangi, Kabupa­ten Bandung Barat (dari atas searah jarum jam) ruang tamu dan dapur, kamar, ­dapur, serta balkon. Untuk mengisi rumah seluas 45/95 meter persegi, Imania berpikir hemat bahwa di rumah kecil tidak dibutuhkan terlalu banyak barang.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
BEBERAPA sudut rumah pasangan Sweta Kartika dan Imania Eka Diyanti di Sariwangi, Kabupa­ten Bandung Barat (dari atas searah jarum jam) ruang tamu dan dapur, kamar, ­dapur, serta balkon. Untuk mengisi rumah seluas 45/95 meter persegi, Imania berpikir hemat bahwa di rumah kecil tidak dibutuhkan terlalu banyak barang.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

MEMILIKI penghasilan yang lebih dari cukup, untuk kebutuhan sehari-hari, bukan berarti perlu hidup mewah. Benarkah setiap uang yang kita raih harus habis untuk keinginan-keinginan kita? Apakah kita cukup bahagia dengan memuaskan setiap kemauan membeli barang?

Tengok beberapa figur publik yang juga miliarder seperti Raditya Dika atau Mark Zuckerberg. Berpakaian polos tanpa model yang mengikuti zaman setiap saat, beli barang mewah hanya untuk investasi. Demikian juga konsultan pengorganisasian barang, Marie Kondo, yang namanya sudah tenar di dunia saat ini. Ia tetap tidak bermewah-mewahan, dan hanya memiliki sedikit barang.

Gaya hidup minimalisme, konon lebih mendatangkan rasa bahagia, cukup, dan tidak menghabiskan energi cukup banyak. Kok bisa? Nah, berikut ini, beberapa prinsip kecil yang dapat kamu jalani di rumah, untuk memulai gaya hidup minimalisme.

1. Menguatkan motivasi

Seberapa sering Anda menemukan benda tidak terpakai saat beres-beres rumah? Atau ternyata masih lengkap dengan kantong belanjaan dan tag harganya. Pernahkah Anda menyadari bahwa terlalu banyak benda yang dibeli tanpa dasar kebutuhan yang kuat, sehingga menggunung atau berantakan. Padahal, Anda mungkin menyadari bahwa pada akhir bulan sering mengeluh tidak punya uang.

Menurut pasangan suami istri dari Tajurhalang Kabupaten Bogor, Aang Hudaya (29) dan Nikmah (27) yang mengamalkan hidup minimalis, telah mengamati, tradisi baik seperti kerapian, kebersihan, ketertiban, ketepatan waktu, dll belum menjadi khas Indonesia.

Ia menjelaskan, dalam workshop Gemar Rapi yang biasa ia pandu, peserta selalu diajak mengisi jurnal berisi apa cita-cita, tujuan, motivasi, dan ingin menciptakan kondisi rumah yang seperti apa. Kemudian peserta, diajak untuk memikirkan akan membenahi apa dulu. Mulai dari pakaian, dokumen, dan kategori lain. “Selanjutnya kita atur jadwal prioritas beres-beresnya,” ujar Aang.

Setelahnya peserta diajak memilah dan mensortir jumlah barang. Termasuk harus diapakan benda tidak terpakai, apa akan diservis, dijual, atau didaur ulang. Baru lanjut menata, seperti apa, apa saja, dll. “Tahapan akhir adalah melestarikan, agar tetap terjaga, jumlahnya tidak lagi nambah,” katanya.

Cara di tahap akhir ini dengan terus melatih kebiasaan positif, seperti mekanisme kontrol belanja, jangan lagi tanpa alasan. Di samping itu, ia menyebut gaya hidup minimalis, terminologinya berbeda dari setiap tokoh. Kalau komunitasnya, hanya berprinsip, barang dimiliki secara fungsional saja.

“Berbenah ini cara awal memulai minimalis. Banyak orang langsung belajar bagaimana hidup minimalis, tapi barang masih banyak dan berantakan,” kata Aang.

Saat ini, ia dan istri hanya memiliki dua laci excel pakaian. Itu sudah termasuk beragam baju formal dan kasual. Isi laci lainnya, berisi aksesoris, alat elektronik, dan pernak-pernik lain. bahkan satu laci berisi sprei, bed cover, handuk, sajadah, dan mukena.

Ia mengatakan jumlah itu tidak bisa disamaratakan bagi semua orang. Setiap orang dengan profesi, tingkat kebersihan, kebiasaan, kepribadian, gender, dan usia, akan memiliki kebutuhan yang berbeda pula.

Berdasarkan survei yang ia buat, mayoritas orang atau keluarga memiliki terlalu banyak pakaian, peralatan dapur, kotak makanan dan piring, buku, dan mainan.

Setelah mengikuti workshop-nya, alumni banyak mencurahkan bahwa mereka merasakan pengaruh psikologis yang kuat. “Barang penuh bertumpuk memicu stres, tidak betah di rumah. Kini nyaman, tidak butuh waktu mencari barang. Soal uang belum terukur, tapi ketika nyaman rumahnya, jadi sadar beli barang hanya yang tertentu saja,” katanya.

Di atas semua itu, ujarnya, dampak spiritual dan kesehatan jasmani dirasakan ia dan istri, juga para peserta workshop. “Semua agama mengajarkan kesederhanaan, dan harta bukan segalanya. Saya rasa hidup dengan seni berbenah bisa relevan dengan ajaran itu,” kata Aang.

2. Masak dan mencuci sendiri

Berprofesi sebagai karyawan swasta, lajang tanpa tanggungan, dan sesekali memperoleh honor sampingan, tidak lantas membuatnya Irman (32) gemar hidup berfoya-foya.

Kepada “PR” ia mengaku terinspirasi dari nihilisme yang dituturkan novel/film Fight Club karya Chuck Palahniuk, saat masih kuliah di Jatinangor. Ketika itu pun ia memerhatikan gaya hidup konsumtif mayoritas mahasiswa di sana. Kemudian lahirlah pemikiran agar ia bisa menjalani hari dengan sesederhana mungkin, pengeluaran seminimal mungkin, energi seefisien mungkin, dan tidak menyumbang polusi.

“Dan kalau bisa, lebih sering berbagi rejeki dengan orang lain. Setelah coba menjalaninya, ngerasa lebih bahagia aja,” kata Irman.

Gaya hidup minimalis, menurut dia, bukan melulu soal berhemat. Ada kepuasan batin dirasanya, ketika bisa hidup simpel dan menjaga jarak keterikatan dengan benda. “Kita jadi makin menghargai esensi dan manfaat apa-apa yang sudah dimiliki,” katanya.

Hidup minimalis ala Irman dimulai dari mengeluarkan uang sesedikit mungkin buat makan, transportasi, energi, dan belanja. Sebisa mungkin, ia akan masak sendiri karena terhitung lebih hemat dibanding membeli makanan jadi, apalagi jajan camilan. Semampunya ia akan mengutamakan menumpang transportasi umum, mencuci sendiri, beli barang hanya yang dibutuhkan.

Cuma tantangannya adalah, ia cukup banyak mengeluarkan isi tabungan untuk menonton konser-konser musik, berwisata, main gim, atau ke bioskop. Bagaimana dengan kemudahan berbelanja secara daring yang sangat memungkinkan melalui gawai di tangan?

“Belanja online memang menggoda. Cara mengakalinya, sejak empat tahun lalu saya nyoba pake outfit yang setipe. Atasan kaos polos. Biar tiap hari engga ribet mikirin pake baju apa. Tapi masih punya baju formal,” katanya. Ia pun membatasi pengeluarannya maksimal Rp 30.000 per hari, kendati masih sering terlampau. Soal gadget, ia memilih membeli yang paling canggih sekaligus, supaya tetap up to date meski berganti tahun.

ILUSTRASI.*/CANVA

3. Memilah sampah, susun barang sesuai kategori dan warna

Menjalani pola makan dan pengolahan sampah yang berbeda, membuat gaya hidup minimalis yang dilakoni Imania Eka (29), berjalan tanpa sengaja.

Mulanya, sejak menikah dan tinggal di rumah kontrakan pada 2015, ia menerapkan pola pemalihan sampah. Sampah plastik, kertas, kaleng, dan organik dipisahkan. Sampah organik dari dapurnya berakhir ke takakura, alat komposting sederhana. Hasil kompos itu ia berikan kepada orangtuanya untuk tanaman di kebun.

Tahun lalu, ia merasa badannya selalu terasa kurang segar, setiap bangun tidur dan saat menjalani aktivitas. Saat itu ia memeriksakan diri ke dokter, dan diperoleh diagnosa bahwa pola makannya bermasalah.

“Lalu aku menjalankan clean eating. Berbeda-beda penerapannya pada setiap orang. Kalau buat aku, berarti tidak lagi makan makanan kemasan, tepung, manis-manis. Nah kayaknya sinkron dengan gaya hidup memilah sampah,” kata Nia, sapaan akrabnya, saat ditemui di rumahnya, di bilangan Sariwangi, Kabupaten Bandung Barat.

Ia pun secara praktis tidak lagi belanja produk kemasan untuk dimakan, dan meminimalisasi jumlah sampah. Seiring waktu, ia pindah ke rumah seluas 45/59 meter persegi, dan berpikir hemat bahwa di rumah kecil tidak dibutuhkan terlalu banyak barang. Ia pun melihat tayangan seorang konsultan pengorganisasian Marie Kondo di televisi berbayar. Gaya hidupnya terasa sejalan dengan metode merapikan benda ala Kondo. Namun, ia belum melakukan cara melipat dan mengkategorisasi benda seperti Kondo.

“Dari video aku coba praktik, dan merasa overwhelming. Di sisi lain, sangat bersyukur tidak punya barang sebanyak itu,” katanya. Prinsip Marie Kondo untuk men- declutter sebagian barang yang tidak diperlukan pun ia jalankan. Nia menyisihkan barang-barang itu dengan memberinya ke teman, saudara, atau bertukar.

Guru di sebuah sekolah swasta Kota Bandung itu, mengaku selalu bolak-balik bertanya kepada diri setiap kali akan belanja, terkait kegentingannya memiliki barang itu. Selain itu, saat membeli barang secara online, ia mengusahakan sekalian beli banyak di satu tempat. Agar tidak banyak kemasan yang  akan terbuang . 

Akhirnya barang yang ada di rumah dengan dua kamar itu benar-benar terdiri dari apa yang dibutuhkan, dan berkelanjutan. Tempat sampah di rumah itu bahkan dikemas lucu seperti tempat penyimpanan benda lain, karena umumnya terdiri dari bekas kemasan yang masih bersih. Ketika "PR" berkunjung dan disuguhi buah apel, bijinya disimpan ke sebuah wadah berperekat layaknya dompet, untuk masuk ke kulkas. Imania mengumpulkannya untuk diolah ke takakura saat jumlahnya cukup banyak.

4. Buang jauh rasa gengsi

Gaya hidup minimalis dapat menjauhkan orang dari kebiasaan berutang, sifat konsumtif dan materialistis. Setiap orang berhak mengatur urutan prioritasnya, berdasarkan jumlah penghasilannya. Gaya hidup ini, sebenarnya sudah dipraktikkan generasi-generasi pendahulu. Kendati berkecukupan, orang dulu cenderung mampu bertahan dalam kesederhanaan.

Demikian pandangan pengamat ekonomi Indriana Damaianti, yang juga mengatakan, gaya minimalis kembali digaungkan oleh banyak influencer di media sosial.

“Banyak orang yang beruang banyak tapi menjalankan hidup minimalis, karena merasa lebih bahagia. Gaya hidup minimalis kan intinya menghilangkan yang tidak penting, mengutamakan kesehatan dan kebahagiaan. Tidak lagi memikirkan gengsi dan tren,” kata pengajar di Universitas Bandung Raya ini.

Namun penerapan gaya hidup ini tidak bisa disamaratakan setiap orang. “Misalnya kebutuhan profesi penyanyi akan beda dengan orang lain. Mereka mungkin membutuhkan kostum panggung yang jauh lebih banyak dari orang biasa,” ucapnya.

Mengutamakan gengsi dan keinginan terus mengikuti tren, ujarnya, merupakan awal dari konsumerisme yang tinggi. Oleh karena itu, banyak yang demi terlihat tidak susah, menumpuk utang di sana-sini, tidak mau menabung, dan terus berbelanja.***

Bagikan: