Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Dalam Ms. Monopoly, Gaji Perempuan Lebih Besar dari Laki-laki

Huminca Sinaga
PERMAINAN Ms. Monopoly menampilkan prestasi-pretasi perempuan.*/THE GUARDIAN
PERMAINAN Ms. Monopoly menampilkan prestasi-pretasi perempuan.*/THE GUARDIAN

NEW YORK, (PR).- Bisakah sebuah papan permainan mendukung isu kesetaraan gender? Hasbro berharap begitu. Minggu kemarin, perusahaan ini merilis permainan Ms. Monopoly sebagai “permainan pertama dimana perempuan berpenghasilan lebih banyak dari laki-laki.”

Nyatanya, permainan ini malah menerapkan ketidaksetaraan gender. Pemain perempuan mendapat 240 dolar setiap melewati petak start, sementara laki-laki hanya mendapat 200 dolar.  Konsep ini seperti sengaja memancing kemarahan para pengguna internet.

“Di Hasbro, kami selalu mengutamakan kesetaraan dan kesertaan dalam segala hal, termasuk kegiatan bisnis dan produk kami,” ujar Kristina Timmins sebagai juru bicara perusahaan Hasbro. 

“Itulah sebabnya kami menciptakan maskot baru yang dinamakan Ms. Monopoly. Karakter ini merupakan seorang advokat yang mempunyai misi untuk berinvestasi dengan para pengusaha perempuan. Kami ingin mengakui dan menghargai kontribusi para wanita dalam masyarakat hingga seterusnya,” jelasnya.

Sebelumnya, Hasbro juga pernah merilis permainan khusus perempuan pada tahun 1988. Girl Talk terinspirasi dari Truth-or-Dare dimana para pemain saling bercerinta tentang berbagai hal, seperti misalnya teman laki-laki yang mereka disukai. Girl Talk terbilang cukup sukses karena sempat merilis edisi spesial Hannah Montana dan One Direction pada tahun 2000-an.

Ms. Monopoly menjadi salah satu bagian dalam tren permainan papan yang dibuat agar para pemain semakin sadar dengan isu-isu sosial di sekitar mereka. Ironsinya, masih banyak permainan lain yang gagal dalam menyampaikan konsep tersebut.

Respons negatif

Di awal tahun ini, perusahaan GMT mengumumkan tanggal perilisan permainan barunya yang dinamakan Scramble for Afrika. Tidak disangka, permainan ini justru mendapat respons negatif dari masyarakat karena mengangkat konsep kolonisasi. Masalahnya, para pemain berperan sebagai orang Eropa yang berusaha menjajah Afrika. Permainan ini akhirnya dibatalkan perilisannya dalam waktu sekejap.

Bahkan Barbie pun pernah mendapat kritik dan mengalami banyak perubahan. Mattel baru-baru ini merilis Rosa Parks versi Barbie dan versi Día de los Muertos untuk memperingati hari libur di Meksiko. Selain Barbie dan Ken, karakter boneka dibuat semakin beragam untuk merepresentasikan berbagai etnis dan kaum disabilitas. Beberapa contohnya adalah Barbie dengan kursi roda, Barbie berkulit hitam dengan gaya rambut alami, dan Ken yang memiliki masa tubuh lebih besar.

Respons masyarakat terhadap produk inklusif tersebut beragam. Beberapa kritikus setuju dengan adanya konsep kesetaraan. Namun, ada juga yang menganggap perusahaan memanfaatkan isu tersebut untuk meraup lebih banyak keuntungan.

“Jika Hasbro benar-benar serius tentang konsep pemberdayaan perempuan, seharusnya mereka bilang dari awal bahwa permainan Monopoly sendiri diciptakan oleh seorang perempuan,” ujar Mary Pilon, dikutip dari the New Yorker.

“Para komunitas game merasakan adanya upaya untuk meraup keuntungan dari permainan Monopoly,” ucap John ‘Hex’ Carter, seorang desainer dan konsultan permainan papan. “Permainan ini merilis banyak versi yang berbeda. Jadi motif dibalik perilisan Ms. Monopoly sudah dapat ditebak yaitu untuk menghasilkan lebih banyak uang bagi perusahaan.”

Prestasi

Di balik kontroversinya, Carter memuji komponen pendidikan dalam Monopoly. Permainan ini menyertakan berbagai prestasi para tokoh wanita, seperti misalnya penemuan Wi-Fi, kukis cokelat, dan korset. Namun, Carter khawatir dengan sistem perbedaan gaji yang akan membuat pemain pria merasa frustrasi. “Seringkali orang merasa bersalah saat sedang bermain tanpa alasan yang jelas. Permainan ini memberi kesan seperti itu. Semakin kuat rasa bersalah, semakin sedikit orang yang mau bermain game tersebut.”

“Pertanyaannya adalah bagaimana Hasbro memanfaatkan momen tersebut,”  kata Nadya Okamoto, seorang konsultan di JUL Consulting. Di usianya yang baru 21 tahun, Nadya fokus memberi saran kepada perusahaan-perusahaan besar tentang cara pemasaran yang baik bagi anak-anak generasi Z. “Kami melihat hal yang sama dilakukan oleh perusahaan lain, seperti misalnya restoran iHOP mengganti namanya menjadi iHOB, kemudian menjadi viral. Sepertinya Hasbro juga  ingin melakukan hal sama.”

Monopoly telah mengalami perubahan sebanyak lebih dari 2.500 kali. Di tahun lalu, Hasbro merilis dua edisi yang kontroversial, yaitu Monopoly: Sosialism dan Monopoly: Millenials. Monopoly: Sosialism seolah mempermainkan isu limbah organik, minuman bebas susu, dan kenaikan upah minimum. Sedangkan Monopoly: Millenials dikecam karena menggunakan tagline ‘Lupakan real estat. Lagipula Anda tidak mampu membelinya.’ Tentu saja kedua versi ini mendapat banyak respons negatif dari masyarakat. Meskipun demikian, Hasbro tidak belajar dari pengalaman dan terus memproduksi versi baru demi keuntungan.

Dilansir The Guardian awal pekan ini, Carter mengungkapkan para perancang sering berdiskusi menganai tanggung jawab mereka untuk membuat permainan yang sesuai menurut pandangan politik dan juga inklusif. Dia merujuk pada permainan yang menuai kritik karena memasukan isu perbudakan dalam gameplay-nya. “Sekarang ini banyak pemain yang sensitif terhadap isu tertentu. Namun, mereka membantu para desainer untuk memastikan bahwa kami sebenarnya menghargai perbedaan budaya.”

Hasbro memastikan bahwa Ms. Monopoly berbeda. Ketika disinggung tentang menggunakan isu feminis demi meraup keuntungan, Timmins membantah. Perusahaan justru sedang berbenah diri untuk memperbaiki kondisi pekerja perempuan dan memperbanyak hari cuti bagi para orang tua. Perusahaan berkomitmen untuk terus mendukung kesetaraan gender.

Pada akhirnya, Hasbro berharap perilisan Ms Monopoly meraih kesuksesan seperti halnya Barbie versi Día de Los Muertos yang dilaporkan terjual habis di mana-mana. (DN-Job)***

Bagikan: