Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya berawan, 20.5 ° C

Mengapa Badut Menjadi Sosok yang Menyeramkan?

Huminca Sinaga

ILUSTRASI sosok badut.*/VICTOR RUIZ GARVIA/REUTERS
ILUSTRASI sosok badut.*/VICTOR RUIZ GARVIA/REUTERS

LOS ANGELES, (PR) Industri perfilman Hollywood sudah lama mengeksploitasi rasa takut masyarakat terhadap sosok badut. Deretan film yang tayang di musim gugur tahun ini juga mengangkat badut sebagai tokoh utamanya.

Pennywise, badut jahat karya Stephen King, kembali beraksi di film keduanya yang berjudul ‘IT Chapter Two’. Selain itu musuh bebuyutan Batman, Joker yang diperankan oleh Joaquin Phoenix akan tampil sebagai anti-hero di film barunya yang berjudul ‘Joker’.

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana bisa sosok lucu dan jenaka ini berubah menjadi sosok yang jahat?

Seperti dilansir laman Popsci, pada tahun 2008, sebuah penelitian di Inggris mengungkapkan bahwa faktanya hanya sedikit anak-anak yang menyukai badut. Penelitian ini juga menyimpulkan menghias ruangan anak di rumah sakit dengan gambar badut justru menciptakan lingkungan yang tidak nyaman.

Seorang ahli psikologis bernama Frank McAndrew juga tertarik untuk meneliti sosok badut yang menyeramkan. Ia beserta muridnya, Sara Koehnke, mempublikasikan penelitian berjudul ‘On the Nature of Creepiness’ dalam jurnal New Ideas in Psychology.Penelitian tersebut secara garis besar dapat menjelaskan fenomena menarik ini.

Mengolok-olok

Karakter badut sudah muncul sejak ribuan tahun lalu. Menurut sejarah, badut merupakan alat satir dan digunakan untuk mengolok-ngolok orang yang berkuasa. Badut menjadi metode yang aman untuk mengekspresikan diri dengan bebas, dengan syarat nilai hiburan lebih diutamakan dari pada satirnya.

Sejarah badut juga dapat dilacak sejak zaman Mesir kuno. Kata badut muncul pertama kali pada tahun 1500-an di Inggris. Saat itu Shakespeare menggunakan kata tersebut untuk menggambarkan karakter bodoh dalam beberapa dramanya. Pada abad ke-19, badut digambarkan dengan wajah yang dicat, wig, dan baju kebesaran. Penggambaran badut tidak mengalami banyak perubahan selama 150 tahun terakhir.

Kini karakter badut berubah menjadi sosok yang jahat. Pada tahun 2016, penulis Benjamin Radford menerbitkan buku yang berjudul “Bad Clown”. Buku ini menceritakan sejarah badut berevolusi menjadi sosok yang menyeramkan.

Karakter badut yang menyeramkan semakin nyata setelah seorang pembunuh berantai bernama John Wayne Gacy ditangkap. Pada tahun 1970-an, Gacy menghadiri pesta ulang tahun anak-anak sebagai “Pogo the Clown”. Dia juga seringkali melukis gambar-gambar badut. Gacy ditangkap oleh pihak berwenang setelah diketahui membunuh 33 anak dan mengubur mereka di bawah rumahnya di Chicago. Sejak saat itu, badut mulai dikaitkan dengan perilaku psikopat dan konsep ini tertanam di pikiran orang Amerika.

Kemudian di tahun 2016, badut menyeramkan  mulai meneror warga Amerika selama beberapa bulan.

Beberapa laporan datang dari 10 negara bagian yang berbeda. Di Florida, badut jahat dilaporkan mengendap-ngendap di pinggiran jalan. Sementara itu di bagian selatan Carolina, badut dilaporkan mencoba memancing para wanita dan anak-anak untuk masuk ke hutan.

Pada titik ini, masyarakat menjadi sulit membedakan mana yang dongeng belaka dan mana yang  benar-benar terjadi. Meskipun demikian, para pelaku tampaknya merasa puas karena telah menanamkan rasa takut kepada anak-anak dan orang dewasa terhadap badut.

Sifat menyeramkan 

Psikologi dapat menjelaskan mengapa badut terkesan lebih menyeramkan dibanding lucu dan jenaka. 

Frank McAndrew melakukan penelitian ilmiah mengenai rasa takut. Dia menganggap rasa takut muncul karena adanya rasa ambiguitas atau ketidakyakinan dalam bereaksi terhadap seseorang atau situasi tertentu. 

Penelitian ini melibatkan 1.341 relawan dari usia 18 hingga 77 tahun untuk mengisi sebuah survei daring. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa pria lebih mungkin menjadi sosok yang menyeramkan dibanding perempuan. Karakter nonverbal seperti sifat yang sulit ditebak dan kontak mata yang tidak biasa menjadi indikator seseorang dianggap menyeramkan. 

Sedangkan karakteristik fisik yang tak biasa seperti mata melotot, senyum aneh, jari yang panjang tidak terlalu dianggap sebagai indikator penentu. Namun, ciri-ciri fisik tersebut dapat memperkuat kecenderungan seseorang dianggap menyeramkan. Ketika para partisipan ditanya pekerjaan yang paling menyeramkan, jawaban teratas adalah badut. 

Hasil penelitian ini sejalan dengan teori sebelumnya bahwa rasa takut adalah respon terhadap ketidakpastian atas ancaman yang bisa terjadi pada seseorang. Reaksi ini bersifat adaptif dan terus berkembang seiring rasa takut tersebut meningkatkan kewaspadaan seseorang dalam situasi yang berbahaya.
 
Rami Nader, seorang psikolog asal Kanada mempelajari Coulrophobia atau rasa takut terhadap badut. Nader percaya bahwa fobia badut dipicu oleh kenyataan bahwa badut mengenakan riasan wajah dan penyamaran untuk menyembunyikan identitas dan perasaan mereka sebenarnya. 

Sejalan dengan hipotesisnya, McAndrew menambahkan ambiguitas dari sosok badut sendiri yang membuat mereka terlihat menyeramkan. Mereka tampak bahagia namun tidak ada yang tahu perasaan mereka sebenarnya. Ditambah lagi sikap jahil yang membuat orang merasa waspada saat di dekat mereka. Tidak ada yang tahu pasti pertunjukan apa yang bisa badut lakukan kepada penontonya. Karakteristik fisik seperti rambut palsu, hidung merah, make-up, pakaian aneh menambah rasa ketidakpastian dalam sosok badut. 

Karakter inilah yang membuat badut dianggap menakutkan oleh kebanyakan orang. Rasa takut merupakan hal yang wajar terutama untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar. (DN-Job)***
 

Bagikan: