Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 21.2 ° C

Stres Selama Hamil Membuat Ibu Lahirkan Anak dengan Gangguan Jiwa

Huminca Sinaga
ILUSTRASI stres saat hamil.*/BBC
ILUSTRASI stres saat hamil.*/BBC

HELSINKI, (PR).- Sebuah penelitian menemukan bahwa para ibu yang mengalami stres pada masa kehamilan dapat berdampak buruk pada janin yang dikandung. Anak akan berisiko sepuluh kali lebih mudah terkena gangguan kepribadian saat mereka menginjak usia 30 tahun.

Seperti dilansir BBC yang mengutip hasil kajian di Finlandia itu, stres ringan yang berkepanjang bisa berdampak pada perkembangan anak dalam kandungan dan akan terus terjadi setelah masa kelahiran.

Dalam penelitian tersebut, lebih dari 3.600 wanita hamil di Finlandia ditanya mengenai tingkat stres yang mereka alami, dan memantau perkembangan anak mereka setelahnya.

Faktor-faktor lain seperti bagaimana anak dibesarkan, keadaan ekonomi keluarga, dan trauma yang dialami saat kecil, berkontribusi dan berperan penting dalam perkembangan gangguan kepribadian.

Gangguan kepribadian merujuk pada aspek tertentu dalam kepribadian seseorang yang membuat hidup mereka menjadi sulit, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Psikiatris menyarankan para calon ibu untuk memiliki akses terhadap bantuan kesehatan mental.

Penderita biasanya merasakan kecemasan berlebih, emosi yang tidak stabil, merasa paranoid, antisosial, dan banyak lagi. 

Gangguan kepribadian

Gangguan kepribadian diperkirakan dialami oleh satu dari 20 orang di dunia. Mereka cenderung memiliki gangguan mental lainnya, seperti depresi atau pecandu narkoba, serta minuman beralkohol.

Seperti gangguan mental lainnya, faktor seperti pola pengasuhan, gangguan otak, dan gen, dapat berperan besar dalam perkembangan anak.

Sebuah penelitian yang dipublikasi dalam British Journal of Psychiatry meminta para wanita hamil untuk menjawab pertanyaan tentang tingkat stres mereka di setiap bulan masa kehamilan.

Mereka disediakan tiga jawaban yaitu stres berat,  stres sedang, dan tidak stres. Partisipan dalam penelitian ini adalah para wanita yang tinggal di sekitar Helsinki, Finlandia dan melahirkan bayinya antara tahun 1975 dan 1976.

Tercatat 40 anak didiagnosa mengalami gangguan kepribadian ketika mereka menginjak usia 30 tahun. Kesemuanya merupakan kasus terparah dan melibatkan perawatan di rumah sakit.

Temuan soal stres

Penelitian ini menemukan bahwa tingkat stres yang tinggi dan berkepanjangan selama masa kehamilan memberikan efek jangka panjang pada anak.

Anak dari ibu yang mengalami stres berat saat kehamilan, 9,53 kali lebih berpotensi mengalami gangguan kepribadian dibanding ibu yang tidak mengalami stres.

Sementara itu, anak yang terdampak stres tingkat sedang memiliki peluang empat kali lipat. Stres tingkat sedang dapat dipicu oleh masalah dalam hubungan, faktor sosial atau masalah psikologis.

Sebenarnya, seperti dikutip BBC, tidak diketahui bagaimana stres pada wanita hamil dapat meningkatkan potensi gangguan kepribadian pada anak. Gangguan ini bisa saja disebabkan oleh perubahan pada otak, gen bawaan atau pola pengasuhan anak-anak.

Para peneliti mencoba untuk mengungkap efek dari stres itu sendiri dengan mempertimbangkan faktor lain seperti riwayat psikiatris sang ibu, apakah mereka merokok saat hamil, atau memang menderita depresi.

Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa memang terdapat hubungan antara stres selama kehamilan dengan kemunculan depresi, kecemasan dan skizofrenia.

Preventif

Dokter Trudi Seneviratne, Kepala Bagian Perinatal di Royal Collage of Psychiatrists, mengatakan bahwa kehamilan merupakan saat yang menegangkan, dan calon ibu sangat membutuhkan dukungan pada saat itu.

“Apabila stres tidak ditanggulangi, kemungkinan besar stres akan dialami setelah masa kelahiran,” tuturnya.

“Ini adalah topik yang sangat sensitif untuk dibahas. Kami tidak mau para orang tua merasa bahwa mereka menyakiti anaknya. Namun, memang stres yang tinggi dapat mempengaruhi mereka,” ujarnya.

Semenbtara itu, Seneviratne mengatakan NHS Inggris telah meningkatkan layanan kesehatan mental perinatal belum lama ini.

"Selama kehamilan, para wanita harus diberi dukungan selama berada di rumah maupun di tempat kerja. Mereka juga harus diajarkan beberapa strategi untuk mengendalikan diri saat stres. Mereka perlu belajar untuk beristirahat, bertanya dan mengobrol dengan orang lain tentang perasaan mereka," kata Seneviratne.

Mengonsumsi makanan seimbang, berhenti merokok, dan tidur teratur juga disarankan oleh dokter. Saran lebih lanjut dapat diakses melalui situs web the Royal College of Psychiatrists dan  NHS UK.

Sementarap penulis utama penelitian, Ross Brannigan dari the Royal College of Surgeons di Irlandia, menjelaskan, penelitian ini menyoroti pentingnya dukungan dalam menangani stres dan kesehatan mental bagi wanita hamil, maupun keluarga selama masa kehamilan dan melahirkan.

Bidan dan petugas kesehatan harus bertanya apakah sang ibu pernah mengalami gangguan kesehatan dan timbul rasa putus asa setelah anak dilahirkan.

Para ahli kesehatan dianjurkan untuk memberikan bantuan kesehatan untuk para ibu terutama dalam mengendalikan perasaan mereka.***

Bagikan: