Pikiran Rakyat
USD Jual 14.027,00 Beli 14.125,00 | Umumnya berawan, 29 ° C

Post Traumatic Tour, Menyelami Jurnal Emosional Mike Shinoda

Siska Nirmala
MIKE Shinoda.*/MIKE SHINODA OFFICIAL WEBSITE
MIKE Shinoda.*/MIKE SHINODA OFFICIAL WEBSITE

DI atas panggung, Mike Shinoda menekan salah satu tuts piano berulang-ulang. Selama beberapa detik, ia melakukannya tanpa mengatakan satu patah kata pun.

Mengira tengah sekadar mengecek alat musik, ribuan penonton yang memadati JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu, 4 September 2019 malam pun dibuat tersenyum setengah tertawa. Namun rupanya, ada kisah yang ingin diceritakan Mike dari nada berulang yang terus dimainkannya.

"Saat itu saya mendapatkan (ide-red) satu beat ini. Kemudian memikirkan apa yang ingin saya lakukan dengan nada ini, karena saya menyukainya. Dan saya ingin menjadikan ini menjadi spesial, karena saya melihat ada potensi dari nada ini. Dan Chester, dia saat itu ada disana," ujar Mike, di tengah konser Post Traumatic Tour, di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu, 4 September 2019 malam.

Mike mengenang, Chester punya kebiasaan brilian membuat lirik lagu dengan audio. Paling sering dilakukannya ketika mereka sedang dalam perjalanan di mobil, atau ketika sedang duduk-duduk dengan gitar akustik yang bahkan tidak dimainkan.

"Ketika saya memainkan beat ini berulang-ulang, Chester kemudian mencetuskan lirik 'Waiting for the end to come, wishing i had strength to stand'," ujar Mike. Yang kemudian disambut kor penonton menyanyikan 'Waiting For The End', dari salah satu album Linkin Park, A Thousand Suns, dengan iringan piano yang dimainkan Mike.

Momen tersebut menjadi salah satu momen yang paling sentimentil dalam konser Post Traumatic Tour, malam itu. Apalagi setelah itu, Mike menggeber dengan tiga lagu hits Linkin Park lainnya yakni Numb, In The End, dan Heavy tetap hanya dengan iringan piano, sehingga membuat lagu yang biasa dinyanyikan Chester tersebut terasa lebih menyayat hati.

Seperti diketahui, Chester Bennington tewas bunuh diri. Ia ditemukan tak bernyawa di tempat tinggal pribadinya di Palos Verdes Estate, Los Angeles, Kamis 20 Juli 2017 silam.

Chester sebelumnya bergabung dengan Linkin Park sebagai penyanyi utama band ini pada tahun 1999. Selama karirnya, Chester terbuka tentang kecanduannya terhadap narkoba dan alkohol. Meninggal pada usia 41 tahun karena menggantung dirinya sendiri, terungkap bahwa Chester Bennington ingin mengakhiri hidupnya sejak lama. Ia bahkan pernah mengutarakan berniat bunuh diri dengan alasan pernah dirundung (bullying) semasa kecil. 

Kematian Chester menjadi pukulan berat bagi Linkin Park. Suaranya yang khas, yang bahkan penggemar menyebutnya "angel voice", telah menjadi kekuatan utama dalam musik yang diusung Linkin Park.

Kematiannya juga terjadi hanya beberapa hari sebelum band ini memulai tur keliling dunia untuk album terbaru mereka. Bahkan, video klip "Talking to Myself" dirilis Kamis 20 Juli 2017, hanya beberapa jam sebelum kematian Chester Bennington dilaporkan.

MIKE Shinoda.*/MIKE SHINODA INSTAGRAM

Diary emosional

Meski menyanyikan sejumlah lagu-lagu Linkin Park yang memang cukup dinantikan para penggemarnya, dalam konser tersebut Mike mengaku memang lebih ingin memunculkan lagu-lagu dalam album Post Traumatic. Ia membuka konser "When They Come for Me", "Make It Up As I Go", dan "I.O.U".

Post Traumatic merupakan album solo debut Mike Shinoda, yang terdiri dari 16 lagu yang dikemas dengan ciri khas Mike Shinoda, Rap. Post Traumatic merupakan konstelasi duka Mike atas kehilangan yang mendalam akan Chester Bennington.

Mike menciptakan seluruh lagu dan memproduseri sendiri album Post Traumatic. Album ini kental dengan luapan kesedihan, kegelisahan, kebingungan yang dirasakannya setelah kehilangan Chester. Namun di satu sisi, album ini juga menjadi representasi upaya Mike untuk menguatkan dirinya, keluarga, kerabat, dan semua penggemar Linkin Park yang berduka di seluruh dunia.

Di tengah ketidakpastian nasib masa depan Linkin Park, Mike tampil sendirian mengusung lagu-lagu anyar dengan lirik yang jujur, suram dan penuh rasa frustasi. Ini mengingatkan akan masa-masa album awal Linkin Park, Hybrid Theory.

Adapun sebelum vakum karena kematian sang vokalis, Linkin Park telah merilis 6 album sepanjang karir mereka. Mulai dari Hybrid Theory, Meteora, Minutes to Midnight, A Thousand Suns, Living Things, The Hunting Party dan One More Light.

"Makna album Post Traumatic ini adalah seperti diary bagi saya. Tempat saya mengeluarkan isi pikiran dan apa yang saya rasakan," ungkap Mike.

Mulai dari "Place To Start", "Over Again", "Watching As I Fall", hingga "Promises I Can't Keep", semuanya menyiratkan kesedihan akan kehilangan sosok sang vokalis utama Linkin Park itu.

Seperti bait "This wouldn't be possible without you" yang ditulisnya dalam lagu "Looking for an Answer". Atau "There's no way that I'll be ready to get back up on that stage" dalam lagu "Over Again". Mendengarkan lagu-lagu dalam album ini memang seakan membawa kita menyelami catatan harian Mike Shinoda tentang hari-harinya yang emosional selama dua tahun terakhir ini pasca kematian Chester Bennington.

"Hal yang paling penting bagi saya dalam album ini adalah saya bisa mengeksplorasi dan bebas berkespresi. Album ini sangat penting bagi saya, karena ini adalah hal yang baru yang saya lakukan di tahun ini," ujar Mike.

Selain lagu-lagu dari album Post Traumatic, dan sejumlah hits Linkin Park, Mike juga membawakan beberapa lagu miliknya bersama Fort Minor seperti "Where'd You Go", hingga "Remember The Name". Ia juga membawakan lagu yang pernah ia nyanyikan bersama X-Ecutioners, "I'ts Going Down".

Chester Bennington.*/LINKIN PARK OFFICIAL WEBSITE

Make Chester proud

Sama seperti konser-konser Post Traumatic Tour di negara lainnya, tagar #makechesterproud juga semarak digaungkan oleh para penggemar Linkin Park. Frasa 'Make Chester Proud' memang telah muncul sejak Linkin Park menggelar konser mengenang Chester Bennington pada Oktober 2017 lalu.

Frasa ini digaungkan salah satunya untuk mendukung orang-orang dengan masalah kesehatan mental. Hal ini mengingat kasus kematian Chester sebelumnya dipicu dengan masalah kesehatan mental yang telah dialami Chester selama bertahun-tahun.

Melalui Post Traumatic Tour, Mike mengingatkan jika 'Make Chester Proud' merupakan sebuah frasa penyemangat bagi mereka yang merasa sendirian dan terluka. "Karena ada yang mengira, ide 'Make Chester Proud' ini janggal, karena terkesan negatif. Semacam kita membicarakan hal-hal yang tidak nyata atau non-human. Bukan itu," katanya. 

Justru, Mike menjelaskan, alasan ia menggaungkan ini adalah untuk mengingatkan bahwa Chester adalah manusia biasa, sama seperti semua manusia lainnya. "Ada orang-orang di ruangan ini yang juga mungkin merasa terluka (gangguan kesehatan mental-red), sama seperti sebelumnya Chester merasa terluka. Padahal mereka sebenarnya memiliki talenta yang bisa membawanya ke titik dalam hidup yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya," ujarnya.

Mike menuturkan, 'Make Chester Proud' adalah frasa penyemangat bagi semua orang untuk bangga pada dirinya sendiri, dan fokus pada hal yang paling bisa dilakukan secara individu. Tidak fokus pada kekurangan dan menyalahkan keadaan, sehingga berdampak pada masalah kesehatan mental.

"Setiap orang punya starting poin yang berbeda. Ada yang terlahir serba berkecukupan, namun sebaliknya ada yang lahir di tengah-tengah kondisi serba kekurangan. Dan yang bisa kamu lakukan adalah bukan menyalahkan kondisi yang ada, namun syukuri yang kamu miliki dan lakukan yang terbaik yang bisa kamu lakukan. Do what you best. Itulah maksud dari Make Chester Proud," ujarnya.

Make Chester Proud juga sekaligus menjadi pengingat bagi Mike Shinoda, untuk tidak terus bergulat dengan kenangan gelap. Seperti yang dituangkannya dalam lagu 'Running From My Shadow', yang lantas menjadi sajian penutup konser Post Traumatic Tour malam itu.***

Bagikan: