Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 22.6 ° C

Minuman Bersoda Percepat Kematian Dini

Huminca Sinaga
ILUSTRASI minuman bersoda.*/ANTARA
ILUSTRASI minuman bersoda.*/ANTARA

LONDON, (PR).- Para peneliti menemukan fakta bahwa orang yang sering mengonsumsi minuman ringan memiliki risiko kematian dini lebih tinggi, termasuk kecenderungan dalam mengonsumsi minuman yang mengandung pemanis alami dan buatan.

Seperti dilaporkan The Guardian, Rabu 4 September 2019, meskipun penelitian belum dapat membuktikan bahwa minuman ringan adalah satu-satunya pemicu meningkatnya risiko kematian, para peneliti berargumen bahwa penelitian terbesar dalam bidangnya ini, turut serta mendukung upaya kesehatan masyarakat dalam mengurangi konsumsi minuman ringan. Upaya ini direalisasikan dengan adanya kebijakan pajak minuman manis di Britania Raya.

“Hasil penelitian kami mendukung adanya pembatasan konsumsi minuman ringan dengan pemanis dan menggantikkannya dengan minuman yang lebih sehat, seperti air misalnya,” kata Dr Neil Murphy, penulis penelitian dari the International Agency for Research on Cancer, yang juga bagian dari World Health Organisation.

Murphy mengatakan penelitian lebih lanjut mengenai dampak pemanis buatan pada kesehatan perlu dilakukan.

“Ini merupakan penelitian terbesar ketiga yang diterbitkan tahun ini. Penelitian ini melaporkan adanya hubungan positif antara minuman ringan pemanis buatan dengan semua penyebab kematian,” ujarnya dikutip The Guardian.

Gangguan kesehatan

Ditulis dalam jurnal Jama Internal Medicine, Murphy dan rekan-rekannya melaporkan bagaimana mereka menganalisis data lebih dari 450.000 orang. Sebanyak 70% di antaranya adalah wanita yang berasal dari 10 negara Eropa termasuk Inggris. Usia rata-rata para partisipan adalah lebih dari 50 tahun. Sementara itu, partisipan yang sedari awal memiliki gangguan kesehatan seperti kanker, penyakit jantung atau diabetes tidak dimasukkan dalam analisis.

Individu yang berpartisipasi antara tahun 1992 dan 2000 ditindaklanjuti selama rata-rata 16 tahun dan selama jangka waktu tersebut tercatat lebih dari 41.600 kematian terjadi.

Ketika para partisipan ikut serta dalam penelitian ini, mereka ditanyai sejumlah pertanyaan mengenai aspek gaya hidup mereka seperti olah raga, merokok dan berat badan serta asupan makanan dan nutrisi, termasuk konsumsi rata-rata minuman seperti minuman bersoda, minuman squash, dan minuman energi. Sementara itu, konsumsi jus buah tidak termasuk.

Hasil penelitian menunjukkan 9,3% dari mereka yang minum kurang dari satu gelas dalam sebulan meninggal selama penelitian, dibandingkan dengan 11,5% dari mereka yang minum dua gelas atau lebih 250ml dalam sehari.

Tim peneliti mengatakan bahwa ketika faktor lain dipertimbangkan seperti indeks massa tubuh, makanan, aktivitas fisik, merokok dan pendidikan, maka partisipan yang mengonsumsi dua gelas minuman sehari memiliki risiko kematian 17% lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang minum kurang dari satu gelas dalam sebulan.

Kecenderungan ini terlihat pada minuman dengan pemanis alami dan pemanis buatan. Hasil yang serupa juga terlihat pada pria dan wanita.

Pemanis buatan

Meskipun sebelumnya minuman manis selalu dikaitkan dengan penyebab obesitas, para peneliti berpendapat bahwa konsumsi yang berlebih tidak sepenuhnya menjadi faktor meningkatnya risiko kematian.

Ketika tim peneliti memerika penyebab spesifik kematian, mereka menemukan bahwa konsumsi minuman dengan pemanis buatan dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit peredaran darah. Sementara itu, minuman ringan dengan pemanis alami dikaitkan dengan risiko kematian akibat masalah pencernaan. Dan minuman ringan secara keseluruhan juga dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit Parkinson.

Murphy berpendapat ada kemungkinan bahwa mereka yang sering mengonsumsi minuman dengan pemanis buatan adalah memang orang yang sangat suka manis, dan mungkin lebih sering mengonsumsi makanan manis. Akan tetapi, tanda-tanda tersebut tidak ditemukan dalam data.

Dr Mathilde Touvier dari Inserm, sebuah institut nasional kesehatan dan penelitian medis di Prancis, menyambut baik penelitian terbaru ini.

Hasilnya "jelas memperkuat rekomendasi dari otoritas kesehatan masyarakat untuk membatasi minuman dengan pemanis alami dan buatan,” katanya, seraya menambahkan bahwa ada beberapa penasihat badan kesehatan masyarakat yang meragukan bukti ilmiah di balik adanya kebijakan pajak untuk minuman manis.

Kerbatasan

Akan tetapi, penelitian terbaru ini memiliki sejumlah keterbatasan, misalnya peserta hanya ditanya tentang minuman dan gaya hidup mereka pada satu waktu tertentu dan hanya bergantung pada pelaporan diri dari masing-masing partisipan.

Amelia Lake, seorang profesor nutrisi kesehatan masyarakat di Teesside University, mengatakan penemuan tentang meningkatnya risiko kematian oleh minuman dengan pemanis buatan ini merupakan hal yang menarik, paling tidak karena minuman ini sering dipasarkan dengan label "lebih sehat" dibanding minuman ringan lainnya.

"Tentu saja ini merupakan bidang ilmu yang sangat penting untuk menemukan lebih banyak bukti dan informasi yang jelas tentang kondisi ini," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa penelitian ini memperkuat kebutuhan akan tersedianya alternatif terbaik yaitu air. "Kita perlu memudahkan masyarakat untuk memilih pilihan yang lebih sehat," ungkap Lake. (DN-Job)***

Bagikan: