Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya cerah, 32 ° C

Hodgepodge Superfest 2019, Isu Palestina hingga Ode untuk Masa Muda

Muhammad Irfan
THE Used, band asal Utah, Amerika Serikat tampil di Hodgepodge Superfest 2019 di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, Sabtu 31 Agustus 2019. Panggung tersebut menjadi arena penampilan kedua mereka di Indonesia.*/DOK. PR
THE Used, band asal Utah, Amerika Serikat tampil di Hodgepodge Superfest 2019 di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, Sabtu 31 Agustus 2019. Panggung tersebut menjadi arena penampilan kedua mereka di Indonesia.*/DOK. PR

THE Used boleh jadi dapat label sebagai band emo yang penuh ­dengan lirik depresif dan ­cengeng. Akan tetapi, mungkin itu citra yang didapat saat mendengarkan ­album-album awal mereka ­saja.

Sejak Imaginary Enemy (2014), Bert McCracken cs di­ketahui lebih punya kepekaan politis yang ditransformasi­kan pada musik dan lirik mereka. Hal itu pula yang terlihat di gelaran Hodgepodge Superfest 2019. Di hadapan ratusan penonton, Brett si vokalis ­mengangkat tangan kirinya seraya berteriak, ”Free Gaza, I’m not scared.”

Dukungan Bert untuk Palestina dari panggung Hodgepodge Superfest 2019 sedianya sudah terlihat sejak The Used belum naik panggung. Pasalnya dalam acara yang digelar di Allianz Ecopark Ancol, Sabtu 31 Agustus 2019 malam itu, penyangga mikrofon yang hendak digunakan Bert sudah diikat dengan kafiyeh berwarna hitam-putih. Kita ketahui bahwa kafiyeh adalah simbol perlawanan Palestina.

THE Used, band asal Utah, Amerika Serikat tampil di Hodgepodge Superfest 2019 di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, Sabtu 31 Agustus 2019. Panggung tersebut menjadi arena penampilan kedua mereka di Indonesia.*/DOK. PR

Akan tetapi, di beberapa jeda lagu Bert nampaknya ingin mentransformasikan kepedulian yang sama kepada penonton. Tak heran kalau kemudian selain pekik teriakannya mendukung kebebasan Palestina, Bert juga menjelaskan makna dari kafiyeh yang menjuntai sejak awal.

”Bila kalian tidak tahu, ini adalah Arabian kafiyeh. Ini adalah bentuk solidaritas kami pada Palestina,” ucapnya yang disambut oleh riuh tepuk tangan dan kepalan tangan di udara dari para penonton.

Selanjutnya penampilan The Used malam itu adalah ode buat masa muda. Seperti kita mafhumi, pada dekade 2000, The Used pernah meraih popularitas di belantika musik dunia termasuk Indonesia saat bersama band-band senapas membawa karakteristik musik baru yang kemudian dikenal ­dengan emo.

Untuk merayakan masa keemasan itu, The Used memilih untuk membawakan daftar lagu nostalgia. Take It Away, The Bird and The Worm, dan Listening pun secara bergiliran dilantunkan Bert McCracken, Jeph Howard, Dan Whitesides, dan Joey Bradford ke arah penonton yang langsung menyambutnya dengan nyanyian bersama dan sedikit lompatan. Suasana semakin meriah ketika All That I’ve Got—salah satu tembang hits The Used— dinyanyi­kan.

Intim

The Used juga pandai meracik interaksi dengan penonton. The Used yang pada 2008 pernah tampil di Jakarta misalnya, mengaku sangat senang bisa tampil kembali setelah lebih dari satu dekade. Bert kemudian mengabsen penonton yang hadir pada 2008 dan disambut acungan tangan oleh para penonton.

”Saya sangat senang berada di sini,” ucapnya. Atau ketika hendak membawakan Taste of Ink, Bert meminta penonton ­mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke atas.

”Lalu turunkan dan rangkul orang di sebelahmu,” ucap Bert yang disambut tepuk tangan dan seruan penonton.

Beberapa kali juga Bert mengajak penonton membuat kor. Serupa dirigen, dari atas panggung Bert memandu sambil meng­angkat kedua tangannya dan digerakkan dari atas ke bawah. Penonton pun berseru dengan nada yang dipandu Bert.

The Used juga enggan membuat malam itu biasa saja. Dia pun meminta penonton membuka lingkaran untuk menyediakan tempat bagi mereka yang hendak moshing.

”Lakukanlah seperti seorang anak emo,” kata Bert sambil bercanda.

THE Used, band asal Utah, Amerika Serikat tampil di Hodge Podge Superfest 2019 di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, Sabtu 31 Agustus 2019. Panggung tersebut menjadi arena penampilan kedua mereka di Indonesia.*/DOK. PR

Cry dan Blood on My Hand dimainkan dan membuat penonton yang hendak moshing turun ke gelanggang.

Melihat raut-raut wajahnya, boleh jadi mereka melakukan hal yang sama ketika masih belia, setengah atau satu dekade ke belakang. Momen itu menjadi pengingat tentang keriaan masa muda. Moshing battle pun terjadi saat Bert menggeber lagu Pretty Handsome Awkward.

”Kami ingin kalian bergerak, apabila seseorang terjatuh, angkat mereka kembali! Apabila seseorang terjatuh, angkat mereka kembali,” pesan Bert sebelum mencetus lagu yang ada di album Lies for the Liars itu.

”Susunan lagu kali ini sungguh-sungguh fenomenal, hit demi hit,” ucapnya setelah beberapa lagu dilahap habis oleh penonton.

Itu memang benar karena selain beberapa lagu yang sudah disebut sebelumnya, beberapa hit lain seperti Buried Myself Alive, I Caught on Fire, hingga Blue and Yellow turut dimainkan.

Melankolis

Menurunkan sejenak tensi penonton, The Used juga tampil mem­bawakan On My Own yang melankolis dengan bagian sajak Hamlet yang ditulis oleh Shakespeare sebagai pembuka. Lagu penuh nuansa kegalauan ini pun disambut nyanyian penonton.

Panggung Hodgepodge Superfest 2019 nyatanya tak hanya jadi panggung The Used untuk membawakan lagu-lagunya. Mereka juga menyelipkan Wonderwall dari Oasis yang dikemas dengan entakan lebih cepat dari aslinya.

THE Used, band asal Utah, Amerika Serikat tampil di Hodge Podge Superfest 2019 di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, Sabtu 31 Agustus 2019. Panggung tersebut menjadi arena penampilan kedua mereka di Indonesia.*/DOK. PR

Setelah penonton melakukan kor And after all, you’re my wonderwall Bret ber­teriak ”I hate Oasis!” yang kemudian ditimpali, ”I’m joking”. Momen ini lantas membuat penonton terbahak.

Penampilan The Used malam itu ditutup oleh A Box Full of Sharp Object yang diambil dari debut self-titled mereka pada 2002. Di lagu ini, The Used seolah ingin kembali berkampanye kalau dunia dengan beragam konfliknya sedang tidak baik-baik ­saja.

Ditampilkan lewat video kerusuhan yang diputar sebagai latar, The Used seperti berpesan kalau itu bisa dihantam balik ­dengan kepedulian. Sebagaimana dalam baitnya:

”It's our time to shine through the down//Glorified by what is ours//We've fallen in love//It was the best idea I ever had”.

Meski itu lagu terakhir, kejutan nyatanya belum selesai. Di bagian akhir lagu, The Used menggebrak dengan bagian kecil Killing in the Name milik Rage Against the Machine.

Ibarat penghormatan untuk band dengan kadar aktivisme tinggi yang di Hodgepodge Superfest 2019 hari kedua sebagian personelnya tampil di bawah nama Prophets of Rage.

Penonton terperenyak sejenak, sebelum kemudian ikutan meng­entak. The Used memang penuh kejutan.

Berbeda-beda tetapi party jua

Seperti pergelaran pertamanya tahun lalu, Hodgepodge ­Superfest 2019 menghadirkan berbagai macam genre musik pada empat panggung dalam satu acara.

Oleh karena itu, Hodgepodge Superfest bukan hanya milik The Used. Di sana ada pula band groove funk/R&B Phony Ppl, unit dream pop Japanese House, lo-fi pop seperti Superorganism, hingga kompatriot rap-metal Prophets of Rage. Berbeda genre tetapi bisa party juga.

BAND asal New York, Amerika Serikat, Phony Ppl tampil di Hodgepodge Superfest 2019 di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, Sabtu 31 Agustus 2019.*/DOK. PR

BAND indie pop asal Inggris The Japanese House tampil di Hodgepodge Superfest 2019 di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, Sabtu 31 Agustus 2019.*/DOK. PR

Sementara itu, penampilan band lokal tentu tak kalah meriah. Trio Gamaliel Tapiheru, Audrey Tapiheru, serta Cantika Abigail atau yang dikenal sebagai GAC misalnya, menggunakan Hodgepodge Superfest 2019 ­sebagai momen perpisahan mereka. Lebih dari sepuluh tahun berkarier, mereka mantap hiatus dan memilih jalan ­masing-masing.

”GAC mau ngucapin terima kasih buat semua yang sudah subscribe dan like video kita dari di Friendster, Facebook, sampai rilis album pertama, kedua, dan sudah 10 tahun dan menyumbang apa pun. Terima kasih buat support-nya, kita enggak tahu mau ­ngucapin apa. Terima kasih sudah bertumbuh bersama kita,” kata Gamaliel.

Setelah membawakan sejumlah lagu di BNI Stage, GAC pamit. ”Kami Gamaliel, Audrey, dan Cantika undur diri dulu,” ucap ketiganya bersamaan.

Iwa K dan Sweet Martabak juga mampu menggebrak. Menggantikan Snow Patrol yang gagal tampil, rapper 1990-an itu tampil lebih malam dari jadwal yang ditentukan. Sementara itu, jam mereka tampil sebelumnya digantikan NTRL.

IWA K tampil di Hodgepodge Superfest 2019 di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, Sabtu 31 Agustus 2019.*/DOK. PR

Dengan tembang-tembang klasik mereka membuat penonton asyik bergoyang seperti lewat lagu Sumur di Ladang, Tididit, hingga Cewek Matre. Lagu itu mengajak penonton bernostalgia dengan album Pesta Rap yang rilis tahun 1995.

Sama seperti Sweet Martabak, Iwa K menyajikan lagu-lagu lamanya yang membuat penonton bernostalgia seperti Nombok Dong dan Kram Otak.

Iwa K menuntaskan penampilannya dengan lagu Bebas dan Malam Indah yang disambut kor penonton di refrein-nya.***

Bagikan: