Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 20.4 ° C

Amuk Prophets of Rage, Momen Sumurung Menikmati Rage Against the Machine

Tim Pikiran Rakyat
PROPHETS of Rage tampil di panggung Hodgepodge Superfest 2019 di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, Minggu 1 September 2019.*/DOK. PR
PROPHETS of Rage tampil di panggung Hodgepodge Superfest 2019 di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, Minggu 1 September 2019.*/DOK. PR

SEHARI sebelum tampil di panggung Hodgepodge Superfest 2019, Tom Morello, gitaris Prophets of Rage, menyempatkan diri mengunjungi Masjid Istiqlal di Jakarta.

Foto-foto kunjungannya ke Masjid Istiqlal diunggah di akun Instagram dia dengan nada kekaguman terhadap semangat keragaman di Indonesia. Tersirat, ada dorongan dalam dirinya untuk mempelajari dan memahami kultur serta pemikiran masyarakat di tempatnnya menggelar konser.

GITARIS Prophets of Rage mengunjungi Masjid Istiqlal di Jakarta.*/INSTAGRAM TOM MORELLO

Momen itu menjadi petunjuk akan seperti apa penampilan Prophets of Rage saat mentas sehari kemudian, Minggu 1 September 2019 menjelang tengah malam. Benar saja, sejumlah pesan lokal bernada keragaman dan perlawanan terhadap ketidakadilan muncul dari awal hingga akhir konser.

Semangat aktivisme sudah terasa sejak Tom Morello dan kawan-kawan naik panggung. Dengan mengepalkan tangan, mereka membuat penonton berteriak riuh hampir semenit lamanya. Padahal para personel band hanya mematung sambil mengepalkan tangan ke atas.

Backdrop dari kain sederhana tetapi sarat makna dikerek naik menutup layar plasma yang selama dua hari menjadi latar para penampil di Hodgepodge Superfest 2019. Meski sederhana, backdrop bergambar kepalan tangan dan bintang merah itu justru mendongkrak daya magis penampilan mereka.

PROPHETS of Rage tampil di panggung Hodgepodge Superfest 2019 di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, Minggu 1 September 2019.*/DOK. PR

Tom Morello tampil menonjol dengan topi bertuliskan “Make Indonesia Rage Again”. Kalimat itu merupakan variasi dari slogan kampanye politik Amerika Serikat yang digaungkan Presiden Doland Trump, “Make America Great Again”. Saat menggelar tur di negara asalnya, Tom Morello kerap memakai topi serupa dengan tulisan “Make America Rage Again”.

Tak hanya itu, Tom Morello, yang dikenal punya kepedulian khusus terhadap isu-isu kesetaraan, menempelkan kertas bertuliskan “Bhineka Tunggal Ika” di balik gitarnya. Saat dia menunjukkan tulisan itu, sorak-sorai penunton semakin keras.

PROPHETS of Rage tampil di panggung Hodgepodge Superfest 2019 di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, Minggu 1 September 2019.*/DOK. PR

B-Real tak kalah menonjol. Dia mengenakan track jacket Adidas putih serta kafiyeh yang jadi simbol khas perlawanan masyarakat Arab Palestina. Penampakannya itu memberi efek kontras terhadap para personel lain yang memakai pakaian berwarna gelap atau bertelanjang dada.

Menjelang akhir konser, backdrop diturunkan dan layar plasma raksasa menampilkan kalimat “Make Jakarta Rage Again” dengan warna merah menyala. Pertunjukan serupa diterapkan dalam konser tur Eropa dan Asia mereka tahun ini dengan mengganti nama kotanya atau menggunakan bahasa lokal setempat.

PROPHETS of Rage tampil di panggung Hodgepodge Superfest 2019 di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, Minggu 1 September 2019.*/DOK. PR

Konsep ideal

Nama Prophets of Rage diambil dari judul lagu Public Enemy yang dirilis 1988 dalam album It Takes a Nation of Millions to Hold Us Back.

Prophets of Rage adalah band yang terdiri atas rapper Cypress Hill B-Real, dua personel Public Enemy Chuck D dan DJ Lord, serta tiga mantan personel Rage Against the Machine yaitu Tom Morello, Tim Commerford, dan Brad Wilk.

Alih-alih band, mereka menamakan diri sebagai supergrup rap rock. Mereka juga mentasbihkan diri sebagai satuan tugas elite musisi revolusioner. Aktivisme yang menyangkut isu sosial, politik, dan budaya menjadi tenaga mereka.

PROPHETS of Rage tampil di panggung Hodgepodge Superfest 2019 di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, Minggu 1 September 2019.*/DOK. PR

Makna ‘rage’ yang diusung Prophets of Rage dalam setiap kemunculannya bisa dimaknai secara luas dan multitafsir.

‘Rage’ dalam pengertian dasarnya berarti mengamuk, menggila, gusar, atau kemarahan yang tak terkontrol. Namun, ‘rage’ punya tafsir jauh lebih liar dari pengertian dasar itu jika dikaitkan dengan konteks sosial, politik, dan budaya yang melahirkan dan menjadi semestanya.

‘Rage’ dalam kalimat-kalimat yang dilontarkan Prophets of Rage menawarkan penafsiran akan suatu konsep atau tatanan ideal yang tidak dapat hadir di masa aktual sekarang. Sementara pembubuhan ‘again’ menyiratkan bahwa konsep ideal itu pernah hadir di waktu lampau.

PROPHETS of Rage tampil di panggung Hodgepodge Superfest 2019 di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, Minggu 1 September 2019.*/DOK. PR

Karena segala sesuatu yang bersifat ideal hanya ada di alam pikiran, konsep ideal bagi setiap individu tentu berbeda. Namun, keragaman itulah yang Prophets of Rage ramu dalam harmoni.

Dalam bingkai besarnya, ‘rage’ ala Prophets of Rage memiliki keenderungan makna glorifikasi semangat perlawanan terhadap bentuk-bentuk penindasan dan ketidakadilan.

Momen terbaik menikmati Rage Against the Machine

Prophets of Rage memang bukan Rage Against the Machine. Namun, setidaknya kehadiran ketiga mantan personel Rage Against the Machine menuntaskan rindu tak terperi para penggemarnya di Indonesia.

Banyak penonton yang berseloroh bahwa kini melihat dan mendengar langsung lagu-lagu Rage Against the Machine bukan lagi sekadar mimpi.

Prophets of Rage memainkan 21 lagu di panggung Hodgepodge Superfest 2019. Selain membawakan karya-karya band sebelumnya dari setiap personel, Prophets of Rage juga mentransfer semangat dari lagu-lagu gubahan mereka. Unfuck the World, Hail to the Chief, Heart Afire, Living on the 110, adalah empat di antaranya.

Terdapat sesi rap tepat di tengah konser saat mereka memabawakan lagu-lagu milik Cypress Hill seperti Hand on the Pump, Insane in the Brain, dan How I could just Kill a Man.

Tiga karya Public Enemy yaitu Prophets of Rage, Can't Truss it, dan Fight the Power juga menarik penonton bernostalgia ke era awal 1990-an. Ditambah lagi lagu Jump Around milik House of Pain yang sudah sangat familier di telinga orang penikmat musik indonesia.

Lagu-lagu milik Rage Against the Machine mejadi menu utama. Pertukaran energi antara penonton dan penampil begitu kencang tersalurkan lewat judul-judul seperti Testify, Guerilla Radio, Know Your Enemy, Take The Power Back, Sleep Now in The Fire, Bullet in the Head, Bulls on Parade, Killing in the Name, dan Bombctrack. Meski demikian, pilihan Bombtrack sebagai encore terasa antiklimaks.

Rentetan riff yang akrab di telinga para penggemar Rage Against the Machine menjadi lawan sepadan bagi dersik angin dingin musim kemarau malam itu dan akan membekas lama di benak para saksi konser tersebut.

Agaknya, itulah momen terbaik menikmati Rage Against the Machine secara langsung karena kita di Indonesia bisa dibilang hampir tidak mungkin menyaksikan Rage Against the Machine secara komplet, lengkap dengan Zack de la Rocha, seandainya mereka reuni.

Cochise untuk Chris Cornell

Setelah sesi rap, ada momen sakral ketika di panggung hanya berdiri Tom Morello, Tim Commerford, dan Brad Wilk. Tom Morello bergerak ke tengah panggung dan meminta penonton ikut menyanyikan salah satu lagu Audioslave.

Dia meminta penonton menyanyi koor menggantikan vokal mendiang Chris Cornell. Audiens menyanggupinya. Tak puas dengan sambutan penonton, Tom Morello berkata, “Saya bilang, ‘Chris Cornell’.” Penonton lembali menyambutnya dengan teriakan yang lebih lantang dan panjang.

Saat intro salah satu hit Audioslave, Cochise berkumandang, penonton menggila dan mosh pit melebar. Sepanjang lagu, penonton terus menyanyi koor diiringi ketiga mantan personel Audioslave itu.

Tim Commerford yang membetot bas terlihat paling menikmati lantunan koor saat audiens meneriakkan bagian chorus “Go on and save yourself”.

PROPHETS of Rage tampil di panggung Hodgepodge Superfest 2019 di Allianz Ecopark, Ancol, Jakarta, Minggu 1 September 2019.*/DOK. PR

Di tengah panggung, penyangga mikrofon ditembak lampu sorot keperakan sebagai bentuk penghormatan kepada Chris Cornell. Panggung hampir gelap. Para pesronel kadang hanya terlihat sebagai siluet berlatar cahaya kemerahan.

Saat bubaran, track Black Hole Sun milik band Chris Cornell, Soundgarden, diperdengarkan. Tak sedikit penonton yang kemudian menyanyi koor sambil meninggalkan arena konser.

Bagi siapa saja yang tumbuh dewasa dengan mendengarkan karya-karya Rage Against the Machine, Public Enemy, Cypress Hill, atau Audioslave, pentas Prophets of Rage di Jakarta itu bak paket eceran yang mengenyangkan.

Meski demikian, selepas konser, banyak penonton berkesimpulan bahwa di negara yang jarang dikunjungi band besar, seharusnya band dengan karakter personel-personel kuat seperti Prophets of Rage mendapat panggung yang lebih besar, dengan kekuatan audio yang juga lebih kencang. Bukan justru dijadikan sebagai headliner festival musik.***

Bagikan: