Pikiran Rakyat
USD Jual 14.118,00 Beli 14.216,00 | Umumnya cerah, 23.8 ° C

Usia 25, Bersiaplah dengan Penuaan Kulit!

Vebertina Manihuruk
BEAUTY blogger, Olivia Lazuardy, sedang mencoba perawatan dalam rangkaian Skin Restoration Program di Bandung Skin Centre, Jalan Ir. H. Djuanda No. 106 Kota Bandung.*/VEBERTINA MANIHURUK/PR
BEAUTY blogger, Olivia Lazuardy, sedang mencoba perawatan dalam rangkaian Skin Restoration Program di Bandung Skin Centre, Jalan Ir. H. Djuanda No. 106 Kota Bandung.*/VEBERTINA MANIHURUK/PR

MENJELANG usia 30 tahun, inilah yang akan mulai terjadi pada kulit seseorang. Kulit akan berjerawat, beruntusan, tekstur kulit kasar, pori-pori membesar, kering, sensitif, kendur, dan mulai muncul spot hitam.

Hal itu memang secara alamiah akan terjadi, karena itulah fase perkembangan kulit kita. Kerusakan mulai muncul, dan bila tidak ditangani dengan baik, tampilan kulit di usia 30an bisa membuat kita seakan berusia 20 tahun lebih tua.

Menurut Rosalin Naomi Harsono, dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, secara teoritis, setidaknya ada tiga jenjang usia yang memperlihatkan perbedaan kondisi kulit. Pada jenjang usia 0-11 tahun, sel kulit sangat sehat, regenerasi masih aktif, dan fungsi celullar masih baik. Pada jenjang 11-30 tahun, kemampuan regenerasi itu melambat namun masih bekerja dengan baik.

"Usia di atas 30 tahun, kulit sangat rentan kerusakan. Pada rentang usia ini, perawatan harus dilakukan yang fokusnya untuk memperbaiki sel kulit agar kembali sehat dan cantik," kata Rosalin ketika konferensi pers bertajuk "Skin Restoration Program" di Bandung Skin Centre, Jalan Ir. H. Djuanda No. 106 Kota Bandung.

EDUKASI mengenai program restorasi kesehatan kulit dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Bandung Skin Centre, Jalan Ir. H. Djuanda No. 106 Kota Bandung. Edukasi diisi dengan paparan dokter Spesialis Kulut dan Kelamin, Rosalin Naomi Harsono (paling kiri), dan dokter Spesialis Gizi Klinik, Abdullah Firmansah Wargahadibrata (duduk paling kanan).*/VEBERTINA MANIHURUK/PR

Kerusakan itu, kata Rosalin, terjadi akibat beberapa hal. Pertama, proporsi ketebalan kulit mulai "kacau". Lapisan kulit yang tadinya memiliki ketebalan masing-masing akan mulai mengalami perubahan.

"Sampai 25 tahun, regulasinya bagus dan masih bisa maintain ketebalanannya. Begitu masuk 25 ke atas, mulai kacau. Kadang kukit ari menjadi lebih tebal dari seharusnya, atau lapisan lain yang menebal.  Hal itu membuat situasi kulit enggak sama," ujar Rosalin yang juga merupakan Medical Director di BSC.

Sementara, semakin tua, lapisan itu pun ada yang menipis. Itu bisa dilihat dari orang lanjut usia yang kulitnya menipis dan keriput. Kulit menjadi ibarat selembar kertas yang mudah lecek. Bahkan pada kulit wajah, lemaknya akan berkurang sehingga terlihat seolah-olah kulit wajah menurun seperti sad face.

Selain itu, ada pula faktor luar seperti makanan, hormon, dan polusi yang akan mulai memperlihatkan dampak gangguannya di atas usia 25 tahun. Apalagi, apabila di rentang  usia pubertas, seseorang tidak menjalankan perawatan kulit sebagai bentuk pencegahan.

Merestorasi kesehatan kulit

DOKTER Spesialis Kulit dan Kelamin, Rosalin Naomi Harsono.*/VEBERTINA MANIHURUK/PR

Rosalin menuturkan, berbagai kondisi kerusakan kulit di usia 30 tahun ke atas bisa diperbaiki, namun memang harus melalui beberapa tahapan yang harus diikuti dengan konsisten. Metode yang dirancangnya di BSC, yaitu Skin Restoration Program, bahkan membutuhkan waktu enam bulan sampai tahap akhir.

Tahap pertama, kata dia, mengoreksi masalah kulit yang timbul. Tahap kedua adalah stabilisasi untuk menjamin hasil koreksi dan ke tiga tahap pemeliharaan. Kulit dikatakan stabil apabila penetrasi semakin baik, sebum dapat terkontrol, dan kulit dapat memperbaiki kerusakan selnya dengan respon cepat.

“Kalau hanya datang sekali lalu merasakan benefit dan tidak datang lagi, itu enggak akan dapat apa-apa. Hasil yang baik tentu butuh konsistensi, kerja keras, dan ketekunan,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, setiap tahapan yang dilakukan untuk merestorasi kesehatan kulit harus sesuai dengan kebutuhan kulit masing-masing yang berbeda. Agar hasil optimal, terapi pun ditunjang dengan memperbaiki internal tubuh yang dimulai dengan detoksifikasi dan pemeriksaan status genetik nutrisi, untuk menjadi pedoman dalam pengaturan pola makan dan bentuk olahraga yang akan dianjurkan.***

Bagikan: