Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 21.2 ° C

Sinopsis Film Gundala, Perjuangan Melawan Ketidakadilan

Windy Eka Pramudya
AKTOR Abimana Aryasatya berpose saat menghadiri acara peluncuran film Gundala di Jakarta, Rabu, 28 Agustus 2019. Film yang diangkat dari komik karya Harya Suraminata (Hasmi) itu akan tayang secara serentak di bioskop Indonesia pada 29 Agustus 2019.*/ANTARA
AKTOR Abimana Aryasatya berpose saat menghadiri acara peluncuran film Gundala di Jakarta, Rabu, 28 Agustus 2019. Film yang diangkat dari komik karya Harya Suraminata (Hasmi) itu akan tayang secara serentak di bioskop Indonesia pada 29 Agustus 2019.*/ANTARA

"KARENA kalau kita diam saja melihat ketidakadilan di depan mata kita, itu tandanya kita bukan manusia lagi."

Ucapan sang ayah (Rio Dewanto) kepada Sancaka kecil (Muzakki Ramdhan) tertanam kuat di benaknya. Sejak kecil, Ayah dan Ibu (Marissa Anita) telah menanamkan berbagai kebaikan di dalam diri Sancaka. Namun, takdir Tuhan berbicara lain.

Hidup Sancaka berubah ketika akhirnya dia harus menghadapi kehidupan seorang diri. Perjuangan melawan ketidakadilan ternyata tak pernah mudah. Saat bertemu dengan Awang (Farish Fadjar), sosok itu malah memberi pandangan lain tentang hidup kepada Sancaka. Awang bilang, jangan suka mencampuri urusan orang lain, agar tidak susah.

Bertahun-tahun kemudian, hidup membawa Sancaka berhasil bertahan hidup. Dia bekerja sebagai petugas keamanan di percetakan surat kabar. Selain mahir bela diri, Sancaka juga piawai memperbaiki peralatan listrik. Saat hujan, Sancaka kerap bersembunyi karena petir adalah musuhnya.

Suatu ketika dia berkenalan dengan Wulan (Tara Basro), tetangganya di rumah susun. Pertemuan dengan Wulan membawa Sancaka pada petualangan baru. Lewat Wulan dia mengingat sosok ayahnya. Wulan membawa Sancaka untuk kembali melawan ketidakadilan.

Sancaka tidak menyangka, ketakutan dia terhadap petir saat hujan malah memberi dia kekuatan untuk melawan ketidakadilan. Bersama Wulan, dan Ridwan Bahri (Lukman Sardi), Sancaka memburu musuh utama yaitu Si Pengkor atau Bandi (Bront Palarae). Berhasilkan Gundala menjelma menjadi sosok jagoan yang memberi harapan untuk menciptakan perdamaian?

SUTRADARA Joko Anwar berpose saat menghadiri acara peluncuran film Gundala di Jakarta, Rabu, 28 Agustus 2019. Film yang diangkat dari komik karya Harya Suraminata (Hasmi) itu akan tayang secara serentak di bioskop Indonesia pada 29 Agustus 2019.*/ANTARA

Suguhan beragam emosi

Mulai tayang Kamis, 29 Agustus 2019, Gundala merupakan film pertama sekaligus pembuka kisah Bumilangit Jagat Sinema. Sutradara sekaligus penulis skenario Gundala, Joko Anwar berhasil menyajikan film yang brilian dalam durasi sekitar 2,5 jam.

Alur film yang berjalan dinamis, cerita yang kaya akan bumbu, serta akting para aktor yang mumpuni menjadi kekuatan film ini.

Aktor Abimana berhasil menghidupkan sosok Gundala tanpa ragu. Karakternya adalah seseorang yang dekat dengan keseharian, tapi mendapat kekuatan super. Hal ini membuat Gundala terasa sangat manusiawi. Begitu pula dengan aktor cilik, Muzakki Ramdhan yang memerankan Sancaka kecil. Dia mencuri perhatian sejak film ini dimulai.

Selama menonton Gundala, penonton akan disuguhi beragam emosi. Ada sisi haru, sedih, kecewa, gemas, dan lucu. Ya, Gundala memang hadir semenyenangkan itu karena Joko sengaja mengemas ceritanya dengan sarat unsur hiburan.

Setelah era The Raid (201), Gundala menjadi babak baru film laga dengan tokoh jagoan di industri film Indonesia. Adegan laga yang dirancang koreografer laga Cecep Arif Rahman hadir dengan meyakinkan tanpa harus penuh darah dan kekerasan yang berlebihan. ‎

Kendati adegan laga antara Gundala dan anak buah Pengkor kurang greget sedikit, tapi hal ini bisa tertutupi adegan laga yang lain. Sangat menarik melihat Gundala dengan sekuat tenaga melawan Swara Batin (Cecep Arif Rahman), salah satu anak buah Pengkor yang tangguh. 

"Film ini memang ditunjukan untuk usia 13+, tapi bisa ditonton untuk keluarga. Bisa membawa anak, tapi dengan bimbingan orangtua. Adegan laganya memang banyak, tapi enggak berdarah-darah yang sadis," tutur Joko seusai pemutaran perdana Gundala di Epicentrum Walk Jakarta, Rabu, 28 Agustus 2019.

SEJUMLAH pemeran film Gundala menghadiri acara peluncuran film tersebut di Jakarta, Rabu, 28 Agustus 2019. Film yang diangkat dari komik karya Harya Suraminata (Hasmi) itu akan tayang secara serentak di bioskop Indonesia pada 29 Agustus 2019.*/ANTARA

Joko menyebutkan, dia mulai membangun cerita Gundala mulai September 2017. Setelah itu dia melakoni persiapan sebelum shooting selama sembilan bulan, dan proses pascaproduksi hampir satu tahun. Jadi, film Gundala total dikerjakan selama dua tahun.

Film Gundala merupakan hasil produksi bersama Bumilangit Studios, Screenplay Films, dan bekerja sama dengan Legacy Pictures dan Ideosource Entertainment.

"Yang paling susah itu cari lokasi, karena kami tidak pakai green screen. Kami pakai lokasi asli. Total ada 70 lokasi yang dipakai dengan 1800 pemain termasuk extras," ungkap Joko.

Joko mengaku, film Gundala tidak mendasarkan ke film Gundala Putra Petir yang dibuat pada 1981. Namun, film Gundala menggabungkan cerita komik dan catatan yang dibuat Hasmi. Jadi, film dan komik saling melengkapi.

Sedikit tips saat menonton film Gundala, yaitu nantikan satu adegan penting yang akan muncul setelah credit title. Adegan ini akan menjadi kunci menuju cerita kedua Bumilangit Jagad Sinema.***

Bagikan: