Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya cerah, 22.7 ° C

Kondisi Bahasa Daerah Nusantara Memprihatinkan

Retno Heriyanto
KESENIAN drama maupun teater daerah menggunakan bahasa Sunda yang  menampilkan kelompok teater Dongkrak dari Kota Tasikmalaya dengan cerita “Sadrah” oleh UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, Rabu, 28 Agustus 2019 petang di Gedung Kesenian Rumentang Siang Kosambi Bandung merupakan salah satu upaya pemuliaan bahasa daerah.*/RETNO HY/PR
KESENIAN drama maupun teater daerah menggunakan bahasa Sunda yang menampilkan kelompok teater Dongkrak dari Kota Tasikmalaya dengan cerita “Sadrah” oleh UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, Rabu, 28 Agustus 2019 petang di Gedung Kesenian Rumentang Siang Kosambi Bandung merupakan salah satu upaya pemuliaan bahasa daerah.*/RETNO HY/PR

BANDUNG,(PR).- Semakin jarang masyarakat pengguna bahasa daerah dikemudian hari akan membuatnya semakin eksklusif. Masih menggunakan bahasa daerah dalam kesenian menjadi sarana sangat efektif untuk pelestarian bahasa daerah.

“Bahasa daerah seperti di Jawa Barat yang memiliki tiga bahasa daerah (Sunda, Jawa Ora Cirebon dan Indramayu serta Betawi) serta kekayaan logat, kondisinya tidak jauh berbeda dengan bahasa daerah di negeri ini. Masyarakatnya berangsur meninggalkan dan mulai menggunakan bahasa nasional (bahasa Indonesia) dan banyak yang menggunakan bahasa campuran daerar dengan Indonesia,” ujar Endo Suwanda Etnomusikologi yang kini lebih memerhatikan seni teater dari sisi bahasa, ditemui seusai menyaksikan pengelaran teater Sunda, “Sadrah” di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang Kosambi Bandung, Rabu 28 Agustus 2019 petang.
 

Disejumlah wilayah Nusantara menurut Endo, dari tahun ke tahu bahasa daerah secara perlahan namun pasti mendekati ambang kepunahan. Punahnya bahasa daerah paling utama akibat ditinggalkan oleh masyarakat penggunanya, dan sebab lainnya.

"Tidak terkecuali dengan bahasa Sunda saat ini. Meski yang dikhawatirkan baru sebatas logat atau lentong, tapi suatu saat akan ditinggalkan masyarakat penggunanya,” tambah Endo.

Masalah bahasa di Nusantara, menurut Endo, saat ini menjadi masalah budaya bangsa yang sangat memprihatinkan ketimbang masalah kesenian. Hingga tahun ini berdasarkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah diidentifikasi 652 bahasa yang divalidasi dari 2.452 daerah di Indonesia.

“Dari jumlah tersebut, ada 11 bahasa yang sudah punah, yaitu bahasa daerah Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, dan Serua dari kepulauan Maluku serta Nila serta bahasa Papua. Sementara empat lainnya dalam kondisi kritis bahasa Ibo dan Meher dari Maluku, bahasa Reta dari NTT, dan bahasa Saponi dari Papua,” ujar Endo seraya menam bahkan bahwa 16 bahasa lainnya kinidalam kondisi terancam punah dan hanya 19 bahasa daerah yang masuk paling aman.

Adanya kemunduran dalam hal pengguna bahasa daerah, termasuk bahasa Sunda, menurut seniman teater Bambang Arayana Sambas, budaya daerah merupakan sarana paling ampuh untuk menyelamatkan bahasa daerah. “Paling utama kesenian seperti seni panggung atau seni pentas semisal teater, drama, dan sandiwara daerah atau tradisional yang masih menggunakan bahasa daerah, mulai dari proses, pementasan, hingga penonton yang mengapresiasinya yang pasti akan faham bahasa daerah,” ujar Bambang.
 

Karenanya menurut Bambang sejumlah pelaku seni panggung sangat mendukung upaya yang dilaksanakan UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat dalam mempertahankan tradisi festival sandiwara Sunda maupun dramamusikal Sunda. “Instansi yang menangani masalah kebudayaan di Jawa Barat ini banyak, bahkan yang menangani khusus bahasa, tapi anehnya hanya UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat yang melakukan pemeliharaan secara langsung oleh para pelakunya,” ujar Bambang.

Terkait dengan permasalahan bahasa daerah yang mulai memudar dan ditinggalkan penggunannya, Kepala UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat Erick Henriana, menegaskan bahwa pihaknya memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi dalam melakukan pelestarian, pewarisan dan pengembangan seni budaya daerah. “Sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No 14 tahun 2014 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, Dan Aksara Daerah, karenanya sudah menjadi kewajiban kami dan kita semua sebagai warga Jawa Barat memelihara dan menjaga,” ujar Erick mewakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Dedi Taufik.

Sementara pegelaran teater “Sadrah” yang ditampilkan kelompok teater Dongkrak dari Kota Tasikmalaya menceritakan tentang petugas kebersihan Sadra yang memililiki sifat menerima akan nasib dan Sandra seorang sastrawan pemberontak. Seluruh dialog dibawakan dengan gaya bahasa Sunda yang dapat diterima serta dimengerti oleh penonton dari berbagai lapisan.****

Bagikan: