Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 20.1 ° C

Once Upon a Time... in Hollywood, Karya Quentin Tarantino Paling Obsesif dan Personal [Spoiler-Free]

Yusuf Wijanarko
ONCE Upon a Time... in Hollywood/SONY PICTURES
ONCE Upon a Time... in Hollywood/SONY PICTURES

DARI sembilan feature film yang ­ditulis dan disutradarai Quentin ­Tarantino, Once Upon a Time... in Hollywood merupakan yang paling obsesif dan personal.

Obsesif karena dia menjadikan kultur industri film Hollywood pada masa keemasannya sebagai gagasan Once Upon a Time... in Hollywood. Hal itu menguatkan kalimatnya yang terkenal, ”When people ask me if I went to film school, I tell them, ’No, I went to films’.”

Personal karena gagasan itu menjadi sehamparan kanvas besar untuk mengekspresikan gaya bertutur khas Quentin Tarantino. Keduanya merupakan sesuatu yang tak terakomodasi dengan sempurna dalam karya-karya dia sebelumnya, termasuk film My Best Friend’s Birthday.

Once Upon a Time... in Hollywood berpotensi membuat mereka yang mengagumi Quentin Tarantino menangis kagum setelah menyaksikannya. Betapa film, sebagai medium seni, mengingatkan bahwa ada suatu masa dalam hidup seorang insan manusia ketika dia layak mendapat kebahagiaan.

ONCE Upon a Time... in Hollywood/SONY PICTURES

Kisah Once Upon a Time... in Hollywood berseputar tentang kehidupan Rick Dalton (diperankan Leonardo DiCaprio), aktor yang mulai kehilangan sinar kebin­tangannya. Bersama Cliff Booth (Brad Pitt), stuntman-nya, mereka mencoba meraih kembali kejayaan pada penghujung era emas industri film Hollywood, tahun 1969 di Los Angeles.

Quentin Tarantino membuat cerita itu bersinggungan dengan kisah pembunuhan Helter Skelternya Charles Manson yang mengguncang dunia hiburan abad ke-20.

Sederet tokoh nyata seperti Steve McQueen (Damian Lewis), Bruce Lee (Mike Moh), Roman Polanski (Rafal Zawierucha), dan James Stacy (Timothy Olyphant) juga dimunculkan bukan sebagai pencuri perhatian atau pemanis, tetapi sebagai penegas yang memperkaya lakon.

ONCE Upon a Time... in Hollywood/SONY PICTURES

Banyak yang menyebut bahwa duet Rick Dalton dan Cliff Booth adalah representasi sosok nyata aktor Burt Reynolds dan stuntman-nya, Hal Needham. Dulu, aktor dan stuntman-nya memang sepaket dalam produksi film Hollywood. Mereka punya hu­bungan dekat dan kerap bepergian bersama.

Sejak Jackie Brown, baru sekarang sang sutradara kembali membuat film yang menjadikan kekuatan karakter sebagai pilar­nya. Bukan dialog atau plot seperti Reservoir Dogs atau The Hateful Eight.

Akting dalam akting

Rentetan scene dan shot panjang dalam Once Upon a Time... in Hollywood memberi se­tiap tokoh, bahkan yang paling minor sekalipun, untuk menonjolkan karakternya. Cara bertutur seperti itu membuat penonton kadang lupa bahwa Once Upon a Time... in Hollywood sedang mempertunjukkan film di dalam film atau akting di dalam akting.

Saat muncul terpisah, para aktor menampilkan tokoh Rick Dalton ataupun Cliff Booth sebagai pribadi yang terkoneksi satu sama lain. Bayang-bayang Rick Dalton yang naif dan rapuh muncul di belakang visualisasi Cliff Booth yang kalem dan flamboyan. Pun demikian sebaliknya.

Akan tetapi, saat tampil sebingkai, keduanya menyiratkan batas­an yang jelas. Sosok yang satu tak pernah lebih menonjol dari yang lainnya. Bahkan ada kecenderungan pendekatan penokohan yang membuat keduanya terihat kontras.

Meskipun berlatar tempat dan waktu yang spesifik serta adanya tokoh-tokoh nyata, Once Upon a Time... in Hollywood tetap punya elemen fiksi yang ganjil. Sebagaimana Quentin Tarantino ”membunuh” Adolf Hitler dalam Inglou­rious Basterds, elemen fiksi seperti itu menuntun cerita Once Upon a Time... in Hollywood ke akhir yang menenangkan.

Oleh karena itu, tak salah jika saat menyaksikan setiap gambar dalam Once Upon a Time... in Hollywood, penonton ­dibuat bertanya-tanya proses ­kreatif seperti apa yang dilalui tim produksinya sehingga menghasilkan setiap shot yang begitu istimewa.

Matangnya narasi terlihat dari bagaimana sinematografi, edi­ting, cara menempatkan kamera, pemi­lihan lagu, referensi budaya, kostum, hingga palet warna. Semua itu bisa membawa kita, orang Indonesia, nyaman menelusuri kisah tentang suatu masa dalam kehi­dupan privat Hollywood akhir tahun 1960-an, tempat dan waktu yang sangat berjarak serta asing.

Once Upon a Time... in Hollywood yang penuh gaya, menghibur, berkelas, dan simpel memberi pengalaman sinematik menyenangkan serta penuh pengharapan akan hidup damai sentosa.

Festival kaki

Satu hal yang paling mudah penonton identifikasi soal kenapa Once Upon a Time... in Hollywood begitu personal adalah pemujaan Quentin Tarantino terhadap ­kaki. Fokus penggambaran kaki secara close up sudah menjadi hal yang umum ditemukan dalam film-filmnya, baik telanjang kaki maupun bersepatu atau bersandal.

Sampai sejauh ini, penggambaran kaki Uma Thurman dalam Pulp Fiction dan Kill Bill: Vol. 1 menjadi yang paling ikonik. ­Namun, kesadaran publik terhadap kebiasaan Quentin Tarantino itu mulai muncul setelah adegan ­Quentin Tarantino menjilat kaki Salma Hayek dalam From Dusk ’Till Dawn yang naskahnya dia tulis sendiri.

Bagi siapa saja yang tidak menyadari bahwa Quentin Tarantino punya ­kecenderungan menjadikan filmnya sebagai festival kaki, banyak video kompilasi shot kaki dalam film-film Quentin Tarantino di Youtube, kadang disertai pula berbagai asumsi dan pemaknaan.

ONCE Upon a Time... in Hollywood/SONY PICTURES

Dalam Once Upon a Time... in Hollywood, hampir semua aktor, baik pemeran utama maupun pemeran pendukung, mendapat porsi untuk menunjuk­kan kakinya. The Sun bahkan bersedia repot-repot menghitung ­berapa menit total shot kaki dalam film ini.

Tercatat ada 36 shot kaki dengan perincian Leonardo DiCaprio 1 menit 34 detik, Brad Pitt 39 detik, Margot Robbie 1 menit 26 detik, Margaret Qualley 1 menit. Di luar itu, masih banyak lagi shot kaki para aktor meskipun hanya beberapa detik.

Terkait dengan kaki dan Sharon Tate, tokoh yang diperankannya, Margot Robbie berkata, ”Dia (Sharon Tate) sepertinya benci memakai ­sepatu. Saya merasakan hal yang sama. Saya perempuan yang ­berasal dari Gold Coast. (di sana) Anda bisa hampir ke semua ­tempat dengan bertelanjang kaki.”

Selain kaki, unsur-unsur detail khas Quentin Tarantino seperti rokok Red Apple, lagu-lagu ajaib, dialog renyah, mobil, dan glorifikasi western movie menebalkan narasinya. Namun, tak biasanya, film ini tak begitu banyak mengumbar darah dan kematian, setidaknya tak sedahsyat Kill Bill: Vol. 2.

Aktor-aktor selingkar

Quentin Tarantino terkenal sebagai sineas yang selalu menggunakan aktor-aktor dari daftar yang sama hampir di setiap filmnya. Leonardo DiCaprio sebelumnya membintangi Django Unchained sedang­kan Brad Pitt pernah tampil di Inglourious Basterds.

Aktor gaek Bruce Dern yang muncul singkat dalam film ini berperan sebagai veteran perang dalam The Hateful Eight. Kurt Russell yang juga muncul singkat merupakan aktor utama Death Proof.

Jangan lupa pula bahwa Michael Madsen, meskipun muncul sebentar, adalah aktor yang membin­tangi Reservoir Dogs, Kill Bill: Vol. 1, Kill Bill: Vol. 2, dan The Hateful Eight. Satu nama langganan yang tak masuk barisan aktor Once Upon a Time... in Hollywood adalah Samuel L Jackson. Padahal, dia tampil dalam 6 karya yang disutradarai Quentin Tarantino.

Adalah hal lazim saat seorang sineas, sebagai pribadi, bukan ­sebagai sutradara, bekerja dengan orang-orang yang menurut dia cakap serta paham apa yang dikehendakinya. Ada Martin Scorsese dengan Robert DeNiro, Steven Spielberg dengan Tom Hanks, dan Quentin Tarantino dengan ­selingkar aktor yang selalu ada dalam daftarnya.

Alasannya barangkali serupa dengan kenapa kita selalu bermain bersama sahabat yang sama selama bertahun-tahun. Sementara secara profesional, bisa jadi wajah sang aktorlah yang muncul dalam theatre of mind Quentin Tarantino saat mengerjakan skenarionya.

Kini setelah Once Upon a Time... in Hollywood tayang di bioskop, giliran para cinephile untuk sibuk mencari-cari rujukan film yang memengaruhi film ini karena seperti Quentin Tarantino bilang, ”I steal from every ­single movie ever made.”

Agaknya, hal itu tak akan terlalu sulit karena dalam sejumlah wawancara, Quentin Tarantino menyebut bahwa visi dan obsesinya dalam sinema banyak dipengaruhi era keemasan Hollywood.

Kisah Helter Skelter dan Manson Family

Saat Once Upon a Time... in Hollywood diputar di midnight show di bioskop, Sabtu 24 Agustus 2019, sejumlah remaja keluar ketika film baru berjalan sekira 40 menit. Mereka bak tidak tahan dengan cerita yang tak gamblang menampakkan relasi sebab-akibat sejak awal. Atau boleh jadi, mereka tak memahami konteks budaya dan sejarah yang melatarbelakanginya.

ONCE Upon a Time... in Hollywood/INSTAGRAM QUENTIN_TARANTINO_FAN_CLUB

Agar dapat memahami konteks cerita Once Upon a Time... in Hollywood dengan baik, ada sejumlah latar peristiwa dan budaya yang harus diketahui sebelum menontonnya. Satu yang paling penting adalah tentang Helter Skelter dan Charles Manson.

Charles Manson bukanlah tokoh rekaan. Dia adalah tokoh nyata yang sontak menjadi buah bibir karena serangkaian peristiwa pembunuhan yang dikaitkan dengan namanya pada akhir 1960-an.

CHARLES Manson/WIKIPEDIA

Charles Manson sudah dimitoskan di Amerika Serikat bahkan di dunia sebagai pembunuh berantai walaupun konon dia tidak melaku­kan­nya secara langsung. Sudah banyak film dan musik yang me­makai istilah itu. Salah satunya adalah film berjudul Helter Skelter produksi tahun 1976.

Penggemar The Beatles juga pasti mafhum dengan lagu Helter Skelter. Menurut pengakuan Paul McCartney, Helter Skelter diambil dari nama roller coaster di Inggris. Paul terinspirasi setelah membaca artikel tentang lagu I Can See for Miles dari The Who pada majalah Guitar Player tahun 1967.

Dalam bahasa Inggris, terminologi helter skelter tidak hanya merujuk pada makna ”kekacauan yang gamang atau kebingung­an” tapi juga bisa berarti ”nama wahana yang melingkar-lingkar di taman bermain”. Helter Skelter juga dikenal sebagai ­pelesetan dari Heather Leather. Saat ini istilah helter skelter sudah menjadi idiom tersendiri di negara Amerika Serikat.

Tafsir ala Charles Manson

Nama aslinya adalah Charles Milles Madox. Dia Lahir 12 November 1934 di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat. Dia mengalami masa kecil yang sulit. Ibunya, sewaktu muda terkenal sebagai pemabuk yang suatu ketika pernah menjual Charles kecil kepada pelayan bar hanya untuk mendapatkan satu kerat bir. Saat remaja, dia juga kerap keluar masuk penjara.

Pernah suatu ketika saat dipenjara tahun 1951, dia menggorok leher seorang anak laki-laki ketika dia menyodominya.

Charles Manson melakukan interpretasi sendiri terhadap lagu The Beatles, Helter Skelter. Menurut dia, lagu tersebut adalah upaya The Beatles untuk mencari ”Nabi” dan pemberitahuan kepada dunia bahwa kehancuran dunia sudah sedemikian dekat.

CHARLES Manson/WIKIPEDIA

Menurut dia, Helter Skelter adalah tanda akan datangnya pe­rang antara ras kulit putih dan kulit hitam. Peperangan akan dimenangi ras kulit hitam dan Charles Mansonlah yang akan menjadi penyelamat para pengikutnya. Saat itu memang sedang gencar terjadi pergerakan kaum kulit hitam di Amerika untuk menuntut persamaan ras atas hak sipil atau lebih dikenal dengan Afro-American Civil Right Movement.

Menurut teori yang dikarang Charles, peperangan global antarras akan dimulai dengan pembunuhan orang kulit putih yang nantinya akan dituduhkan kepada orang kulit hitam.Pemahaman itu didapatnya dari filosofi yang dipelajarinya di penjara.

Manson mengatakan kepada para pengikutnya bahwa suatu saat ras kulit hitam akan semakin banyak dan akan mulai membunuh ras kulit putih dan akhirnya mereka akan mendominasi dunia. Bahkan Charles Manson mengklaim diri sebagai Yesus ­Kristus.

Suatu ketika, Charles berkenalan dengan gadis 23 tahun bernama Mary Bruner. Setelah tinggal bersamanya, Charles mengajak 18 gadis lain tinggal bersama. Pada Agustus 1968, mereka pindah ke peternakan bernama Span Ranch Movie, 30 km di utara Los Angeles. Di sanalah seluruh anggota ”Manson Family”, sebutan untuk para pengikutnya, berkumpul.

Charles dikenal sebagai sosok manusia yang mempunyai daya pikat dahsyat. Dia mampu me­mengaruhi para pengikutnya. Manson Family sangat peduli terhadap lingkungan dan polusi sehingga tidak segan melakukan pembunuhan terhadap para tokoh yang dianggap sebagai penyebab kerusakan lingkungan dan kerusakan moral. Puncak kebenciannya diwujudkan dengan membunuh Gary Hinman, musisi dan pengedar obat di Los Angeles pada 31 Juli 1969.

Pada 1969, Charles Manson memerintahkan kepada beberapa pengikutnya untuk memulai Helter Skelter dengan maksud mempercepat terjadinya kehancuran dunia yang dimulai dengan pembunuhan aktris Sharon Tate, istri sutradara Roman Polanski yang sedang ­mengandung. Peristiwa yang juga menewaskan tiga kerabat Sharon Tate itu terjadi 9 Agustus 1969.

Setelah itu, aksi liarnya terus berlanjut. Pembunuhan demi pembunuhan terjadi dan seantero Amerika Serikat gempar. Hampir di setiap TKP, para pelaku meninggalkan pesan di dinding. Hal inilah yang membuat para penegak hukum menyatakannya sebagai pembunuhan berantai berdasarkan bukti-bukti di TKP.

Ada berbagai versi yang menerangkan keterlibatan Charles Manson dalam setiap pembunuhan. Konon, Charles Manson tidak terjun langsung hampir pada setiap operasi pembunuhan. Para pengikutnyalah—yang kebanyakan perempuan—yang melakukannya atas instruksi Charles.

Setelah penyelidikan pihak berwajib mengarah kepada Manson Family dengan bukti-bukti kuat, dilakukanlah penyerbuan ke markasnya. Charles Manson dan para pengikutnya ditangkap di sana. Charles Manson akhirnya masuk penjara hingga dia meninggal pada 19 November 2017 dalam usia 83 tahun di Bakersfield, California.

Riwayat Charles Manson telah menginspirasi banyak orang, salah satunya adalah bintang rock Marilyn Manson yang nama aslinya Brian Hugh Warner. Dia mengambil nama ”Marilyn” dari Marilyn Monroe dan ”Manson” dari Charles Manson.***

Bagikan: