Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 21.2 ° C

Emo, Lagu Galau yang Dicaci dan Dicari

Muhammad Irfan
THE Used/THEUSED
THE Used/THEUSED

JAUH sebelum penyanyi campur sari pada Didi Kempot mengampu para sadboys dan sadgirls di kancah musik ­independen, para scenester lebih ­dulu kenal dengan emo (dibaca: /iːmoʊ/, singkatan untuk ­emotional music). Ini adalah subgenre dari punk yang secara internasional sempat hip di awal 2000. Bercerita tentang tema-tema patah hati ­dengan riff yang kencang dan entakan drum yang keras, emo tidak hanya digemari, tetapi juga kerap dicaci. ­Sempat redup, kini emo bangkit lagi!

Dimulai pada akhir 1980-an oleh scene hardcore ­Wa­shington DC di Amerika, emo lantas berkecambah pada bentuk-bentuk barunya. Gaya bermusik campuran pop punk dan indie rock ini pun mulai dikenal pada 1990-an.

Istilah emo-core misalnya terlacak ada di Oxford English Dictionary 1992. Genre ini kemudian meraih popularitas pada era 2000-an setelah sejumlah band seperti Jimmy Eat World, Dashboard Confessional, dan My Chemical Romance meraih sukses besar. Feno­mena itu bahkan memunculkan subgenre baru yang lebih agresif: screamo.

MY Chemical Romance/ROLLINGSTONE

Di Indonesia terutama Bandung, jejak emo mulai terekam pada ma­sa yang kurang lebih sama. Masuknya referensi band emo luar se­perti Finch, The Ataris, atau The Used ke sejumlah anak nong­krong di scene bawah tanah (underground) era awal 2000 membuat katalog musik tak hanya berputar di punk, hardcore, atau metal.

Geja­la ini lantas diperkuat dengan kehadiran Alone at Last, band yang di kemudian hari kerap dilabeli publik musik sebagai ­pionir emo di kancah lokal.

”Sejak dibentuk pada 2002, sebenarnya kami tidak pernah melabelkan diri sebagai emo, hanya bermain musik, membuat ­ri­lisan, tapi memang kami dipengaruhi band-band luar yang saat itu disebut emo. Nama kami saja terinspirasi dari salah satu lagu The Ataris,” kata Athink, drummer Alone at Last.

Akan tetapi, seingat Athink, pada era itu memang hanya bandnya yang lekat dengan tipikal musik ini. Sementara itu,band underground Bandung lainnya, lebih banyak memainkan musik hardcore, punk, metal, atau melodic punk yang saat itu juga tengah kencang-kencangnya.

Athink bersama para personel Alone at Last diakuinya lahir dari skena yang sama. Hanya, ketika referensi baru yang kemu­dian di­sebut emo itu datang, dia cukup cepat menangkap geja­lanya dan mengejawantahkan kesukaannya itu pada bentuk band yang dia dirikan.

Selain Athink, band yang pada era awalnya diisi juga oleh Di­din Bahe (gitar) Indra Papap (gitar), Yas Budaya (vokal), dan Ubey (bass) ini kemudian menelurkan rekaman pertamanya pada 2004, ”Sendiri vs Dunia”.

”Mungkin ya saat itu band lokal yang memainkan dan merekam lagu-lagu seperti ini baru Alone at Last. Setelah itu, baru ­teman-teman lain seperti Jolly Jumper,” ucapnya.

JOLLY Jumper/XBARX

Lagu patah hati

Sambutan publik musik pada karakteristik musik baru yang di­usung Alone at Last saat itu mendapat sambutan hangat.

Menurut Athink, formula musik yang diusung Alone at Last era awal tidak jauh berbeda dengan band-band yang menjadi inspirasi mereka.

Sementara itu, lirik, seperti halnya band-band emo di luar, lagu Alone at Last di era ini juga berkisar pada tema-tema patah hati yang sebagian di antaranya diangkat dari kisah para personel atau orang-orang di lingkaran mereka.

”Memang, pada 2004 itu, ketika rilis EP pertama itu lebih dark, ada beberapa kisah nyata juga seperti ditinggal pacarnya meninggal. Saat itu, kami masih di umur 20-an dan melimpahkan cerita itu lewat lagu,” ucapnya.

Akan tetapi, Athink tak mengiyakan bahwa sambutan yang baik ini didapat cuma karena lirik brokenheart atau gelap yang diusung Alone at Last. Karena pada masa yang sama, meski tak bermain di mu­sik emo, band punk atau metal seperti Sendaljepit atau Burger­kill juga kerap punya preferensi lirik yang sama.

”Cuma mungkin yang dengan musik seperti ini saat itu baru kami,” ucapnya.

SENDIRI vs Dunia/ALONE AT LAST

Sejak ”Sendiri vs Dunia” dirilis, Alone at Last pun secara perlahan mulai berkibar. Makin kencang karena lagu tunggalnya ­”Ama­rah, Senyum, dan Air Mata” sering wara-wiri di radio. Video musik­nya pun ke­rap tampil menjadi highlight di acara musik di salah satu TV lokal, Ziggy Wiggy.

Hal yang sama juga sebenarnya terasa oleh sejumlah band lainnya yang kerap diasosiakan dengan adegan emo. Video musik Jolly Jumper misalnya juga punya porsi yang kurang lebih sama. Yang paling hits adalah ”Siklus Tanpa Arah” selain single lainnya ”Terbunuh dalam Sepi”.

Musik cengeng

Berkembangnya jenis musik ini di scene lokal tak serta-merta mulus-mulus saja. Memasuki paruh kedua dekade pertama 2000, emo mulai disaingi dengan genre yang lebih keras, metalcore hingga deathmetal. Screamo, jenis yang lebih keras dari emo memang muncul, tetapi tema patah hati dan depresif yang diangkat justru sering jadi bahan gunjingan.

Athink tak menampik bahwa fenomena ini pernah terjadi. Stigma ”musik cengeng” menempel pada band-band yang dicap emo. Belum lagi sejumlah band emo/screamo di luar tampil dengan fa­shion yang juga tak lazim. Rambut dengan poni menyamping yang menutupi mata atau penggunaan eyeliner seperti My Chemical Romance. Namun, Alone at Last mengaku tak pernah terpengaruh dengan cap ini.

”Dari segi musik, Alone at Last juga being alone saja saat itu. Di album kedua (”Jiwa” dirilis tahun 2008) kami lebih banyak melibat­kan artis tamu, ada dari Jeruji, hingga Addy Gembel dari Forgotten.”

Athink mengatakan, ”Kami buktiin lagi pada 2010 lewat single ’Takkan Terhenti di Sini’ yang lebih tegas dari lirik, chord dan se­olah membuktikan emo tuh enggak ­cengeng, lemah, sampai malah ada yang melabeli kami tough emo.”

Perlahan di tengah bermunculannya tren musik baru di kancah bawah tanah, emo pun mulai turun. Beberapa band emo yang dulu muncul, perlahan mulai tak kedengaran. Bagi Alone at Last sendiri, fase ini diakui cukup terasa, meski bukan satu-satunya yang membuat Alone at Last jadi kurang gaung.

”Ketika redup berdampak, seperti tawaran manggung berkurang ka­rena EO juga menilai kami kurang menjual, lebih memilih yang banyak massanya. Sebetulnya kami tetap produktif, ­hambatan justru bukan dari karena gak musimnya, tapi kesibukan personel yang semakin tua dengan prioritas yang sudah beda-beda,” ucapnya.

Akankah Emo Bangkit Lagi?

Hampir separuh dekade emo kehilangan penggemarnya. Akan tetapi, gejala kembalinya dia ke panggung mulai te­rasa ­bebe­rapa tahun belakangan. Beberapa event dengan menu karaoke lagu emo beberapa kali digelar terutama Bandung dan Jakarta. Band dengan karakteristik emo pun mulai hadir lagi.

Tahun ini gejala itu menguat. Baru kemarin, band emo, American Football, tampil di Jakarta. Pekan depan, giliran salah satu ikon emo, The Used, yang unjuk gigi.

Menjawab dahaga penggemar lamanya yang dulu hanya melihat videonya via filesharing dari PC ke PC, The Used dijanjikan tampil di Hodgepodge Festival hari pertama. Selang sebulan, sejumlah band emo lokal yang mewarnai ade­gan dekade 2000-an pun dijadwalkan manggung di event ­ta­hunan, Synchronize Fest.

Menuntaskan dahaga pendengar lama

Penulis dan pengamat musik asal Bandung Idhar Resmadi tak menampik fenomena ini. Kendati demikian, Idhar menilai ramai­nya kembali emo baru sebatas nostalgia dan belum bisa disebut pe­ngulangan alias revival. Hal ini pun tak begitu mengherankan ka­re­na memang sudah saatnya emo bisa dijual sebagai nostalgia.

”Karena di budaya pop menjual nostalgia memang selalu menjadi sesuatu yang menarik ditambah beberapa komunitas selalu aktif seperti bikin karaoke night di beberapa kota. Cuma si emo ini sih masih belum terlalu ­establish jika dibilang revival,” kata ­Idhar.

Menurut dia, jika dibandingkan dengan era trennya dulu, saat ini emo lebih menuntaskan dahaga para pendengar lamanya. Perlu pe­nguatan kembali komunitas dan ekosistemnya agar emo lebih men­dapat tempat yang layak dibandingkan dengan sekadar ­nostalgia.

”Di festival seperti Synchronize juga kan yang dijual emo sebagai nostalgia saja,” ucapnya.

Pengaruh film

Menarik mundur ke masa lampau, Idhar menyebut emo menjadi me­narik karena menawarkan hal yang baru. Jenis musik ini dikenal karena mengglorifikasi kesedihan, kegalauan, dengan balutan musik yang relatif gahar.

Asumsi Idhar, publik musik baik di lokal dan internasional pun saat itu dilanda kebosanan dengan musik-musik rock sebelumnya yang cenderung macho seperti grunge atau hip metal.

”Didukunglah sama MTV yang saat itu mulai muterin video mu­sik semisal My Chemical Romance, Finch, Funeral for a Friend, dan terutama Dashboard Confessional. Selain itu, memang penga­ruh emo makin besar ketika band-band ini masuk ke soundtrack film dan serial di Amerika. Seperti Dashboard mengisi soundtrack film ’Spiderman 2’. Jadi, pengaruhnya makin besar,” ucapnya.

Bukan hanya musik, emo juga hadir dengan paket yang lengkap. Layaknya subkultur lain, dia membawa gaya dan fashion yang khas. Ini berkelindan ­dengan kecenderungan anak muda yang relatif lebih mudah mengapresiasi hal yang membawa gaya tersendiri apalagi jika mudah diaplikasi. Emo pun hadir di waktu yang tepat saat internet ter­utama laman MySpace sedang di­gandrungi.

”Akhirnya, di Indonesia bisa mulai diterima karena musiknya rock tapi catchy, kemudian muncul kompilasi-kompilasi emo di Bandung dan Jakarta, kemudian komunitasnya mulai terbentuk lewat gigs karena si band emo ini masih bisa diapresiasi di gigs metalcore, hardcore, atau pop punk,” ucapnya.

Tema kesedihan dengan balutan musik yang relatif kencang juga jadi resep tersendiri karena boleh jadi selama ini remaja yang gandrung pada musik underground tak punya soundtrack untuk me­re­presentasikan rasa sedih mereka. Akhirnya, emo jadi wakil yang tepat.

”Usia remaja kan krisis identitas termasuk urusan percintaan. Emo ini bisa diapresiasi di anak muda karena mewakili kegalauan remaja yang merasa risi jika harus direpresentasikan dengan musik pop,” ucapnya.

Namun, resep ini pula yang meluruhkan taji emo di kancah. La­ma-kelamaan, ketika semakin tren, emo dianggap picisan. Stigma muncul seperti dandanan hitam tetapi mudah menangis. Bahkan, di luar negeri emo kids (sebutan untuk anak emo) sampai dirisak dan disiksa secara fisik.

”Tapi akhirnya tren ini jadi ’menurun’ karena emang sudah over-mainstream. Dalam artian sudah enggak keren lagi karena sudah saking banyaknya dan semua orang sudah berdandan emo. Jadi, selain pengaruh stigma juga emang sudah overhype jadi pelaku awalnya bosan dan jengah. Akhirnya, banyak band-band atau anak emo banting setir jadi ke chaotic core, metalcore, atau indie rock macam Copeland,” ucapnya.

Semangat pengulangan

Sementara itu, Athink menanggapi kembalinya emo saat ini ada­lah hal yang lumrah. Menurut dia, di publik boleh jadi beredar ta­gar #makeemogreatagain untuk menunjukkan kembalinya lagi emo di kancah, tetapi bagi para pelakunya emo tetap great dari dulu sampai kini.

”Jadi (untuk pelaku) enggak ter­pengaruh musim, Alone at Last tetap ada karya, 2012 ada lagi. Mungkin bagi sebagian orang itu emo musiman, tapi kami istikamah,” katanya.

Meski demikian, Athink menilai semangat pengulangan itu te­ra­sa. Meski bukan hal yang spesial karena peng­ulangan yang sama juga terjadi di beberapa jenis musik seperti ska bahkan alternative 90’s. Mungkin yang dulu menik­mati musik ini di usia SMA mulai kembali kangen dan mencari lagi musik ini.

”Itu fenomena yang bagus, tapi jang­an gairah ada karena musim kembali. Jujur dalam berkarya saja,” katanya.***

Bagikan: