Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sebagian cerah, 31.2 ° C

Kutu Kucing, dari Gatal, Infeksi, dan Potensi Menularkan Penyakit

Vebertina Manihuruk
ILUSTRASi.*/CANVA
ILUSTRASi.*/CANVA

KESEHATAN yang tidak prima bisa membuat kualitas hidup kita menurun karena produktivitas kerja ataupun belajar menjadi rendah. Bukan hanya penyakit yang menimpa organ-organ vital, rasa gatal yang tidak tertahankan, apalagi sampai membuat infeksi kulit, bisa membuat kualitas hidup menurun.

Gatal yang tidak tertahankan itu salah satunya bersumber dari kutu kucing. Mendengar kata kutu, mungkin kita otomatis menggaruk-garuk karena membayangkan rasa gatalnya. Meskipun bermula menjadi parasit di tubuh kucing, namun kutu itu juga bisa hinggap di tubuh manusia dan menggigit untuk menghisap darah sebagai makanannya.

Kutu kucing itu pun bisa didapat dari mana saja. Bukan hanya kucing peliharaan, tapi juga kucing liar yang melewati rumah. Bahkan, ketika kita sedang berada di luar rumah dan berpapasan dengan kucing pun bisa terkena gigitan kutu kucing.

Menurut Mei Ria Sitindaon, dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, masalah gigitan kutu kucing kepada manusia semakin banyak ditemui. Keluhannya adalah gatal yang hebat, sangat gatal dan terasa panas. Meski sudah diobati, rasa gatal itu hilang-timbul.

“Kebanyakan juga menyerangnya daerah tungkai bawah yaitu lutut ke bawah. Setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata ada binatang di sekitar rumah atau pernah ada kontak dengan binatang," tuturnya ketika ditemui di ruang praktiknya di RS Melinda 2, Jalan Dr. Cipto No. 1 Kota Bandung.

Kutu kucing mengganggu kualitas hidup dan jadi media penularan penyakit

KUCING.*/DOK PR

Meski kebanyakan rasa gatal itu di tungkai bawah, namun kutu kucing juga bisa menggigit bagian tubuh yang lain. Misalnya bokong, punggung, tangan, lengan, dan bisa juga sampai mengena ke wajah.

Bila yang terkena gigitan adalah anak-anak, orang tua biasanya bingung mengambil langkah karena belum bisa menjelaskan kondisinya. Anak  akan menjadi sangat rewel dan terus menggaruk bekas gigitan karena gatal yang tertahankan. Pada anak yang lebih besar, ia akan mengalami gangguan tidur dan gangguan belajar.

"Kelihatannya sepele, tapi kondisi ini mengganggu kualitas hidup seseorang. Selain itu, kutu juga bisa hinggap ke mana-mana, dari satu anggota keluarga ke yang lain. Apalagi kalau ada binatang yang biasa naik ranjang, naik sofa, juga di karpet. Dari kucing liar pun bisa," ujarnya.

Selain gangguan itu, kata Mei Ria, kutu juga bisa menjadi media penularan penyakit lain seperti pes dan tifus yang ditularkan binatang. Lalu, bila garukan membuat luka di kulit, maka itu bisa menjadi pintu masuk bagi bakteri baru. Apalagi luka terbuka bisa menimbulkan nanah yang memperlihatkan adanya infeksi, sehingga mengakibatkan muncul demam.

Pengobatan dan pembersihan untuk atasi kutu kucing

PETUGAS memberikan vaksin rabies pada kucing peliharaan saat Hari Rabies Sedunia di Pusat Kesehatan Hewan, Jalan Sukimun, Kota Cimahi, Jumat, 28 September 2018. Pemkot Cimahi berkomitmen bebas rabies dengan mengoptimalkan pelayanan vaksinasi dan pemusnahan hewan yang terjangkit rabies.*/DOK PR

Mei Ria menuturkan, penanganan penyakit akibat kutu kucing harus dilakukan multifaktor, utamanya Ilmu Kesehatan dan Ilmu Lingkungan. Informasi kesehatan dari sudut pandang dokter hewan pun diperlukan karena itu adalah penyakit pada hewan yang bisa menular ke manusia.

Dokter biasanya akan memberikan terapi berupa antiparasit dengan dosis yang ditentukan sesuai kondisi pasien masing-masing. Apabila sudah terlanjut ada infeksi bakteri, maka akan diberikan antibiotik sesuai kebutuhan.

"Diberikan juga antigatal karena memang ketika menggigit, kutu mengeluarkan air liur yang menyebebkan gatal, dan obat oles anti kutu yang khusus. Banyak pasien juga yang mengeluhkan bekas gigitannya. Bila semakin cepat ditangani, maka bekasnya akan menjadi semakin tipis," ucapnya.

Namun, kata Mei Ria, upayanya tidak berhenti di situ karena pasien harus melakukan pembersihan lingkungannya secara fisik ataupun kimia. Secara fisik, setiap perlengkapan rumah yang mungkin dihinggapi kutu harus dicuci bersih dan divakum. Selain itu, kasur, karpet, sofa, dan bantal juga harus dijemur secara berkala karena kutu bersifat tidak menyukai terang.

Bila kita melihat langsung ada kutu melompat, maka sebaiknya menghubungi jasa penyedia pest control atau pengendalian hama. Jasa itu akan mengatasi pembersihan kutu di rumah dengan campuran kimia yang tepat, seperti insektisida ddt atau dieldrin, aerosol malation, atau permektrin. Selain itu, hewan peliharaan yang terkena parasit kutu pun harus diobati ke dokter hewan sampai tuntas pengobatannya.***

Bagikan: