Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sedikit awan, 20.5 ° C

Melongok Kampung Korea di Taman Asia Afrika Kota Bandung

Gita Pratiwi
SUASANA Kampung Korea di Taman Asia Afrika, Jalan Jakarta, Kota Bandung, Selasa, 20 Agustus 2019.*/GITA PRATIWI /PR
SUASANA Kampung Korea di Taman Asia Afrika, Jalan Jakarta, Kota Bandung, Selasa, 20 Agustus 2019.*/GITA PRATIWI /PR

TAMAN Asia Afrika menjadi ruang publik baru yang dapat dinikmati warga dan wisatawan di Kota Bandung. Lokasinya berada di Jalan Jakarta, namun pintu masuknya baru dibuka dari Jalan Banten, dan keluar di Jalan Ibrahim Adjie. 

Kendati belum resmi dibuka, pengunjung sudah memadati taman ini, sejak percobaan pembukaan pada 17 Agustus 2019 lalu. Sementara ini, taman terdiri dari ruang terbuka hijau yang bisa dipakai berolahraga, area air mancur, serta Kampung Korea. 

Tidak ada tiket masuk untuk berkunjung ke semua arena, hanya ada tiket bagi kendaraan yang parkir. Pantauan PR, Selasa, 20 Agustus 2019 petang, banyak warga yang berolahraga, swafoto, dan mengunjungi Kampung Korea.

Di Kampung Korea, terdapat bangunan-bangunan hanok, atau rumah tradisional khas negeri ginseng. Selain kuliner Korea yang banyak tersaji di beberapa kedai, Anda juga bisa mengenakan hanbok sewaan, pakaian tradisional Korea, selama satu jam.

Menurut salah seorang pengelola, Hera Koswara, seluruh kawasan berluas 12,6 hektare berjuluk Kiara Artha, terdiri dari tiga kawasan tadi. Pencanangan ide kampung Korea tidak terlepas dari peran Ridwan Kamil ketika menjabat Wali Kota Bandung. 

"Konsepnya berawal dari Bandung dan Seoul yang merupakan the sister city. Di Seoul kan ada little Bandung, nah oleh Kang Emil dicetuskan ide di sini jadi kampung Korea," kata Hera.

Ia mengakui sebetulnya pengerjaan ruang publik itu belum sepenuhnya rampung. "Tapi minat masyarakat yang tinggi membuat ini dibuka lebih cepat. Kunjungannya dalam trial opening tiga hari ini paling tinggi Sabtu-Minggu kemarin sampai 3.000-4.000 orang. Paling rendah Senin kemarin 1.000 orang," ujar dia. 

Kampung Korea diakuinya menjadi daya tarik, soalnya menghadirkan ambiens perkampungan negeri ginseng. Meskipun terdapat juga kawasan yang mengadaptasi kawasan urban Korea Selatan. Di samping itu, pertunjukan air mancur menjadi yang paling ditunggu masyarakat. 

"The dancing fountain ada setiap hari pada pukul 18.30, 19.30, dan 20.30. Kalau Sabtu ada ekstra pukul 21.30. Setiap aksi air mancur akan diiringi lagu. Lamanya sekitar empat lagu diputar," ujar Hera.

Selain terdapat toko oleh-oleh khas Korea terdapat juga Hansamo, tenant komunitas, yang dijadikan sebagai pusat budaya di kampung tersebut. Hera mengatakan, bersama komunitas yang didukung Konsulat Jenderal Korea Selatan itu, pengunjung bisa lebih dalam mengenal budaya Korea melalui bacaan, tarian, kesenian, makanan, dan lainnya.

Kuliner Korea yang bisa Anda jajal antara lain odeng, eomuk, chickin, ramyeon, teobokki, dan sejenisnya. Para pecinta kopi juga bisa mencicipi sajian kopi khas Korea di Joh-eun  Keopi. 

"Seperti kafe kebanyakan ada latte, espresso, machiatto, es kopi susu, dan lainnya. Tapi ada juga kopi khas Korea, naeng. Naeng ini terbuat dari espresso, krimer, dan madu yang disajikan dingin," tutur David, pemilik Joh-eun. 

Kafe ini penuh dengan nuansa batu dan kayu, yang menurut dia, mampu menghadirkan ambiens Korea yang kental.***

Bagikan: