Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Umumnya berawan, 26.1 ° C

Saat Dongeng Snow White and the Seven Dwarfs Diterjemahkan dalam Lekuk Balet

Muhammad Fikry Mauludy
STUDIO Balet Arabesque mengadakan Gala Performance 2019 dengan tema Snow White & The Seven Dwarfs, di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Dago Tea House Bandung, Minggu, 18 Agustus 2019.*/MUHAMMAD FIKRY MAULUDI/PR
STUDIO Balet Arabesque mengadakan Gala Performance 2019 dengan tema Snow White & The Seven Dwarfs, di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Dago Tea House Bandung, Minggu, 18 Agustus 2019.*/MUHAMMAD FIKRY MAULUDI/PR

BANDUNG, (PR).- Studio Balet Arabesque mengadakan Gala Performance 2019 dengan tema Snow White & The Seven Dwarfs di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Dago Tea House Bandung, Minggu, 18 Agustus 2019. Penampilan yang diisi tiga sesi itu diramaikan oleh setidaknya 280 penari balet dari Studio Balet Arabesque.

Gala Performance merupakan acara tahunan yang digelar setelah kenaikan tingkat dalam setiap kelas balet dari seluruh cabang Studio Balet Arabesque. Direktur Studio Balet Arabesque, Elsa Lukardi mengatakan, Gala Performance menjadi pentas bagi penari balet Arabesque untuk tampil di hadapan orang tua serta penikmat balet.

Ini menjadi evaluasi latihan dan ujian kenaikan kelas. Setahun sekali, Gala Performance untuk menunjukkan perkembangan anak kepada para orang tua.

Di sisi lain, tampil di hadapan publik merupakan salah satu upaya melatih penari untuk bersiap mengikuti sejumlah kompetisi. Para penampil adalah yang terpilih dengan memenuhi masa waktu latihan minimal tujuh bulan.

Penghargaan

Terakhir, Studio Balet Arabesque memborong sejumlah penghargaan mulai juara pertama di ATOD, Thailand, 2018, dan beberapa juara 2 dan 3. Mereka juga meraih penghargaan sebagai grup terbaik pada kompetisi itu.

Pada 2017, grup penari Studio Balet Arabesque juga ditunjuk sebagai yang terbaik pada ajang London Calling Competition. Elsa menuturkan, nuansa khas Indonesia seringkali diperhitungkan oleh para juri.

Selama penampilan para penari balet dari Jawa Barat itu, Studio Balet Arabesque kerap melakukan kejutan dengan mengenakan paduan kostum khas Indonesia, seperti batik. Selain kostum tari, musik latar yang mengiringi tema tarian juga sengaja dipilih dari ciri khas Indonesia.

“Di Jepang, kami menggunakan music Cing Cangkeling sebagai musik latar. Dan itu mendapatkan apresiasi tinggi dari hadirin. Mereka sampai melakukan standing ovation. Tentu kami bangga karena membawa nama Indonesia,” tuturnya.

Dalam mempersiapkan lomba, latihan menyasar teknik penari. Tetapi yang tidak kalah penting yakni melatih ekspresi. Dalam pementasan drama balet, ekspresi para penari cukup mendapat perhatian juri. Ekspresi dikaitkan dengan paduan kisah cerita.

“Di studio, selain latihan teknik, penari ditanamkan arti kisah cerita yang akan ditampilkan. Sehingga anak-anak tahu sejarahnya dan bisa merasakan dan membayangkan asal usul kisah tarian,” katanya.***

Bagikan: