Pikiran Rakyat
USD Jual 14.034,00 Beli 14.132,00 | Berawan, 22.8 ° C

Lomba Melukis Internasional Bertema Lingkungan untuk Anak, Berhadiah ke Jepang

Gita Pratiwi
DUA karya lukisan anak Indonesia pemenang Lomba Lukis Internasional kao 2018, di sela Pameran "Let's Eco Together, Bersama Ayo Ramah Lingkungan", di Saung Angklung Udjo, Bandung, Senin, 19 Agustus 2019./GITA PRATIWI/PR
DUA karya lukisan anak Indonesia pemenang Lomba Lukis Internasional kao 2018, di sela Pameran "Let's Eco Together, Bersama Ayo Ramah Lingkungan", di Saung Angklung Udjo, Bandung, Senin, 19 Agustus 2019./GITA PRATIWI/PR

BANDUNG, (PR).- Anak Indonesia dari Bandung diundang untuk berpartisipasi dalam lomba melukis, yang bertema lingkungan. Lukisan agar dikirim sebelum 30 Agustus 2019, untuk kemudian melalui tahap penjurian, bersama lukisan lain dari berbagai negara.

Di antara hadiah yang akan diterima, anak pemenang akan berangkat ke Jepang, bersama Kao, sebagai penyelenggara.

Menurut Johny Lay, Senior Manager Corporate Communications Kao Indonesia,lomba melukis internasional ini sudah berlangsung sejak 2010. Pada 2018, Indonesia mengirimkan 4.379 lukisan, atau berpartisipasi 35 persen dari total 12.563 peserta. Dua anak Indonesia Farhan (Sidoarjo) dan Sherly (Bekasi) berhasil menjadi pemenang dalam kategori “Kao Prize”, dan menerima penghargaan langsung di Tokyo, Jepang.

Karya Farhan dan Sherly, juga sejumlah anak peserta lainnya dari berbagai negara, ditampilkan dalam Pameran Lukisan Anak Indonesia “Let’s Eco Together, Bersama Ayo Ramah Lingkungan”, di Saung Angklung Udjo, Jalan Padasuka, Bandung.

Pameran lukisan yang berlangsung dari tanggal 19 sampai 25 Agustus 2019. Selain itu ada talkshow mengenai lingkungan juga EcoBrick Workshop.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak tidak hanya generasi muda sebagai penerus tapi juga lebih banyak orang untuk mulai dan terus peduli dengan lingkungan lewat pesan yang ada pada lukisan dari anak-anak Indonesia,” kata Johny, saat diwawancara wartawan.

Targetnya, lomba dapat diikuti anak-anak usia 6-15 tahun dari seluruh dunia untuk melukis gambaran langkah kecil yang dapat dilakukan setiap hari. Anak-anak agar menuliskan mimpi serta harapan untuk kebaikan lingkungan dan bumi.

Ia juga sempat menyinggung bahwa pihaknya telah meluncurkan deterjen berbahan Bio IOS yang terbuat dari limbah kelapa sawit. Kemudian digunakan juga kemasan film type refill pack, yang menurunkan tingkat penggunaan plastik sebanyak 79%.

Bagi Yanty Hardi Saputra, yang ditemui dalam kesempatan yang sama, untuk menghasilkan lukisan bertema lingkungan yang baik, anak perlu menerima rangsangan terlebih dulu. Guru seni lukis dan pendiri sanggar seni Ananda Visual Art School ini, biasanya memberikan gambaran-gambaran mengenai apa yang sedang dialami anak-anak, yang berkaitan dengan lingkungan sekitarnya.

“Saya akan menanyakan pendapat mereka lebih dulu. Soal apa yang mereka ketahui mengenai kondisi alam ini. Saya bilang lapisan ozon semakin berlubang, dan kita tidak bisa mengembalikannya seperti semula. Yang bisa kita lakukan adalah tidak menambah lubang itu. Dengan menjaga kondisi tanah, air, udara, agar tetap baik,” kata Yanty.

Dari brainstorming itu, kata dia, anak-anak melahirkan ide tentang apa yang bisa mereka perbuat untuk bumi. Misalnya lukisan tentang anak-anak memakai sepeda saat bepergian, lukisan tidak lagi membuang sampah ke laut, dan banyak lagi.

“Di tengah isu global tentang lingkungan yang terjadi saat ini, perilaku ramah lingkungan harus sudah mulai diinternalisasikan untuk generasi penerus yaitu mulai dari anak-anak. Peran kami sebagai tenaga pengajar di bidang seni, tidak hanya mengajarkan terkait dengan teknis menggambar dan mengasah kemampuan anak saja tapi juga menginternalisasikan nilai-nilai ramah lingkungan melalui pengajaran yang kami berikan,” ucap Yanty.***

Bagikan: