Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian cerah, 19.8 ° C

Ada Seni Virtual di Bandung Art Month

Muhammad Fikry Mauludy
SALAH satu karya seni virtual dipamerkan pada salah satu acara pembukaan Bandung Art Month 2019, di Sanggar Olah Seni Kota Bandung, Babakan Siliwangi, Bandung, Kamis, 15 Agustus 2019. Bandung Art Month kembali digelar dengan menawarkan 45 kegiatan selama sebulan, mulai dari 15 Agustus hingga 15 September 2019.*/MUHAMMAD FIKRY MAULUDI/PR
SALAH satu karya seni virtual dipamerkan pada salah satu acara pembukaan Bandung Art Month 2019, di Sanggar Olah Seni Kota Bandung, Babakan Siliwangi, Bandung, Kamis, 15 Agustus 2019. Bandung Art Month kembali digelar dengan menawarkan 45 kegiatan selama sebulan, mulai dari 15 Agustus hingga 15 September 2019.*/MUHAMMAD FIKRY MAULUDI/PR

BANDUNG, (PR).- Bandung Art Month kembali digelar dengan menawarkan 45 kegiatan selama sebulan, mulai dari 15 Agustus hingga 15 September 2019. Perhelatan kedua ajang seni rupa ini berupaya mengumpulkan seniman lebih luas, sekaligus menjadi destinasi wisata andalan Kota Bandung.

“Perupa ini banyak ‘mengamen’ ke luar kota dan luar negeri. Kita ingin teman-teman seniman mengembalikan Bandung sebagai salah satu destinasi estetik, juga pengetahuan dalam hal seni. Termasuk destinasi untuk publik secara luas, baik kolektor maupun masyarakat umum,” ujar Executive Director Bandung Art Month 2019, Ardiyanto, di Bandung, Senin, 19 Agustus 2019. 

Rangkaian acara ini telah dimulai sejak awal Agustus 2019. Acara yang diinisiasi BDGConnex ini menawarkan tema Net/Work, dengan target membangun jaringan seluas mungkin. Idealnya, sejumlah acara digiring sedekat mungkin dengan publik Bandung.

Ardiyanto menjelaskan, Bandung menjadi salah satu pusat seni rupa di Asia Tenggara. Kota Bandung termasuk salah satu kota penting setelah Yogyakarta. Kota ini didukung banyak ruang seni, kurator, perguruan tinggi, dan apalagi Bandung telah ditunjuk sebagai kota kreatif.

“Dengan Bandung Art Month ini, Bandung punya kalender tahunan, dan kegiatan seni rupa teragendakan reguler. Banyak peserta dari luar negeri yang terlibat,” ujarnya.

Seni virtual

Pameran, lokakarya, diskusi, hingga kompetisi Bandung Art Month 2019 tersebar di 55 tempat di Kota Bandung. Selain digelar di galeri, museum, atau studio seni, lokasi acara juga menyentuh reruntuhan bangunan RW 11 Tamansari, tempat bakal Kampung Deret Tamansari proyek Pemkot Bandung yang masih dipersoalkan sejumlah warga sekitar.

Executive Director Bandung Art Month 2019 lainnya, Rizki A. Zaelani mengatakan, Bandung Art Month 2019 menyajikan rasa baru dengan hadirnya seni virtual. Partisipasi tinggi anak muda pada lokakarya Seni Virtual memberikan warna baru pada gelaran Bandung Art Month 2019 ini. Dengan bantuan teknologi, presentasi seni rupa bisa lebih murah dan menarik.

“Mudah-mudahan anak muda ke depan lebih banyak tertarik pada seni. Saya yakin banyak jenis seni dari anak muda yang mungkin berbeda dengan lukisan, patung, seperti pada umumnya. Mereka kan menggabungkan karya itu dengan gaya hidup,” ujarnya.

Rizki menambahkan, tema yang dibentuk dalam Bandung Art Month kali ini bertujuan mengungkap ekspresi seni rupa bukan yang bersifat elitis. Seni rupa akan jauh melibatkan publik tanpa batasan.

“Setiap potensi yang ada di Bandung itu bisa bukan hanya tumbuh tetapi juga menjadi gerakan yang bersifat sinergis. Ini juga menjadi aktivitas mendata kesenian yang ada di Bandung,” ujarnya.

Kerinduan publik

Acara ini dibuka di Sanggar Olah Seni Kota Bandung, Babakan Siliwangi, Bandung, Kamis, 15 Agustus 2019. Hadir Kepala Subdirektorat Seni Media, Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Tubagus Andre Sukmana.

Andre mengatakan, acara yang digagas BDGConnex ini menjadi solusi bagi artis dan ruang pamer untuk mengobati rasa rindu publik pada seni. Semangat ini dibangun oleh inisiatif komunitas. Ia berharap acara tahunan ini menjadi agenda tetap Bandung dalam menggelar agenda seni.

“Kalau sudah lima kali berjalan pasti sudah terbentuk sistemnya, manajemennya, dan ini kan seperti Lebaran seni. Ini ngangenin juga kan. Walaupun harus menunggu lama. Tetapi begitu terselenggara semua orang tumplek dari mana-mana,” katanya.***

Bagikan: