Pikiran Rakyat
USD Jual 14.037,00 Beli 14.135,00 | Umumnya cerah, 25.9 ° C

Perburuan, Roman Berbumbu Tragedi

Windy Eka Pramudya
SALAH satu adegan di film Perburuan.*/FALCON PICTURES
SALAH satu adegan di film Perburuan.*/FALCON PICTURES

SUARA korek api yang dinyalakan memecah kesunyian. Lewat cahaya dari api yang sebentar, wajah Hardo (Adipati Dolken) terlihat jelas.

Di dalam gua gulita, Hardo sedang berbicara sendiri sambil sesekali tertawa kecil. Tidak, Hardo tidak gila. Dia hanya menjadikan batang-batang korek api itu sebagai lawan bicaranya mengutarakan isi hati.

Hardo merupakan tentara PETA yang dibentuk Jepang. Dia menempati markas PETA di Blora. Pada Februari 1945, Hardo mendengar, Soepriyadi, pemimpin PETA di Blitar melakukan pemberontakan. Hal itu menyulut semangat Hardo untuk melakukan hal serupa. 

Bagi Hardo, sudah saatnya mereka melawan Jepang yang telah menjanjikan kemerdekaan. Hardo ingin Indonesia segera merdeka dan lepas dari tangan penjajah.

Pada 14 Februari 1945 malam, pemberontakan pecah. Akan tetapi, munculnya pengkhianat membuat aksi itu kocar-kacir. Tentara Jepang berhasil membekuk dan membunuh sebagian pemberontak.

Di tengah petempuran yang tak seimbang, Hardo berhasil kabur ke dalam hutan. Dia meninggalkan keluarga dan tunangannya, Ningsih (Ayushita Nugraha).

Di dalam hutan, Hardo mencoba bertahan hidup. Dia ditinggal rekan-rekannya yang selamat dan memilih menjadi gelandangan. Hardo bertahan di dalam gua dan kejaran tentara Jepang.

Ayah Hardo (Otig Pakis), yang seorang wedana harus kehilangan jabatan dan hartanya. Kesedihan ayah Hardo bertambah karena istrinya meninggal dan dia tidak menemukan Hardo.

Suatu ketika, Hardo keluar dari gua. Dia berjalan menuju Blora. Di perjalanan, dia bertemu ayah Ningsih (Egi Fedly). Kendati diminta pulang, Hardo tak menggubris. Dia berjanji akan pulang dan menemui Ningsih jika Indonesia sudah merdeka.

Pelarian Hardo juga membawa dia bertemu ayahnya tanpa sengaja di ladang jagung. Tetapi, penampilan Hardo yang berubah membuat ayahnya tak mengenali putra semata wayangnya itu. Mereka bercakap-cakap, dan memendam kerinduan di dalam hati masing-masing.

Kabar Hardo ada di Blora sampai ke telinga tentara Jepang. Di malam sebelum proklamasi kemerdekaan, Hardo masih berupaya sembunyi. Tentara Jepang mulai mengancam menangkap Ningsih, ayah Ningsih, dan ayah Hardo jika Hardo tak menyerahkan diri.

Hardo tak mengira, banyak pengkhianatan yang terjadi. Akan tetapi, janji Hardo untuk tak menyerah dia tepati. Pengkhianatan demi pengkhianatan pun ibarat utang yang harus dibayar. Hardo tahu, kemerdekaan adalah sesuatu yang mahal dan patut diperjuangkan.

Alur statis

Mulai tayang Kamis, 15 Agustus 2019, Perburuan merupakan adaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer. Sama seperti Bumi Manusia, film Perburuan juga diproduksi Falcon Pictures dan ditayangkan berdekatan dengan ulang tahun ke-74 Republik Indonesia.

Kisah Perburuan dipercayakan kepada sutradara Richard Oh. Selain sebagai sutradara, Richard juga menulis naskah Perburuan bersama Husein M Atmodjo.

Dalam durasi sekitar 90 menit, Perburuan berjalan dengan alur yang nyaris statis. Di tengah film, cerita bahkan berjalan datar. Untung saja, karakter Hardo bisa cukup lewat Adipati Dolken. Selain Adipati, Otig Pakis dan Egi Fedly juga memberi warna di film Perburuan.

Di film ini, ada satu adegan yang berkesan, yaitu saat Hardo dan ayahnya berbicara di ladang jagung. Dengan cahaya yang minim, obrolan ayah dan anak berjalan intim dan penuh emosional. Padahal dikisahkan mereka tak saling mengenal.

Untuk menyajikan kesan autentik dari novelnya, Richard Oh dan Husein M Atmodjo membuat skenario dengan bahasa sastrawi seperti di novel. Hal ini terasa saat Hardo sedang berdialog. Begitu juga dengan logat bahasa Jawa Timur yang membumbui dialog para pemeran.

Novel Perburuan ditulis Pramoedya Ananta Toer saat ditahan di Bukit Duri pada 1949 oleh Belanda. Dalam satu minggu, novel itu selesai ditulis. Suatu hari, naskah novel itu berhasil diselundukan ke luar sel tahanan. Pada 1950, Balai Pusataka merilis novel Perburuan.

Cerita Perburuan yang ditampilkan Pramoedya Ananta Toer merupakan roman dengan bumbu tragedi. Di satu sisi, penonton film ini akan turut merasakan ketakutan Hardo. Sementara itu, di sisi lain, penonton bisa turut merasakan semangat Hardo yang ingin Indonesia bisa merdeka.***

Bagikan: