Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 23.5 ° C

Menyelami Bumi Manusia Berbalut Kisah Cinta

Windy Eka Pramudya
CUPLIKAN adegan film Bumi Manusia.*/FALCON PICTURES
CUPLIKAN adegan film Bumi Manusia.*/FALCON PICTURES

DIADAPTASI dari novel karya Pramoedya Ananta Toer, film Bumi Manusia hadir dengan rangkuman kisah yang cukup memuaskan. Kekhawatiran para penggemar novel ini yang meragukan Iqbaal Ramadhan berperan sebagai Minke tak terbukti. Pasalnya, Iqbaal bisa cukup menghidupkan sosok Minke.

Mulai tayang Kamis, 15 Agustus 2019, Bumi Manusia merupakan produksi Falcon Pictures. Adalah Hanung Bramantyo yang didaulat untuk menjadi sutradara kisah masterpiece milik Pramoedya Ananta Toer tersebut.

Sementara itu, Salman Aristo atau Aris duduk sebagai penulis naskah. Kolaborasi Hanung dan Aris bukanlah untuk pertama kalinya. Mereka sukses bekerja sama saat mengadaptasi Ayat-ayat Cinta (2008) dari novel ke film.

Cerita Bumi Manusia yang merupakan babak pertama Tetralogi Pulau Buru itu berkisar di antara Minke, Annelies Mellema (Mawar Eva de Jongh), dan Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti). Ketika itu, Minke merupakan wujud seorang pribumi yang melawan lewat tulisan dan kecerdasan intelektual.

Dengan latar belakang saat Belanda masih menduduki Indonesia, Minke berupaya mencari keadilan untuk diri dan lingkungannya. Sebagai pribumi, Minke memiliki peluang untuk bersekolah di HBS karena ayahnya seorang bupati.

Di sekolah, Minke menjadi minoritas di antara anak-anak Belanda dan anak campuran Belanda-Indonesia. Statusnya yang pribumi kerap membuat dia diperlakukan tak adil. Namun, Minke tak pernah menyerah.

Suatu ketika, takdir mempertemukan dia dengan Annelies. Annelies merupakan putri dari Nyai Ontosoroh dan Herman Mellema (Peter Sterk), serta adik dari Robert Mellema (Giorgino Abraham). Nyai Ontosoroh adalah gundik Herman. Seperti Minke, sebagai pribumi yang dilabeli status gundik, Nyai Ontosoroh adalah sosok yang berani dan pintar. Sebagai ibu, dia sangat menyayangi Ann.


Sejak awal pertemuan Nyai Ontosoroh dengan Minke, dia tahu, Minke adalah lelaki yang akan membahagiakan Ann. Di mata Nyai Ontosoroh, Minke adalah pemuda cerdas dan pemberani. Untuk itulah, Nyai Ontosoroh sudah memberikan restu kepada Minke untuk mendekati Ann.

Perjalanan hidup Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh berliku. Diskriminasi karena ras serta status yang melekat membuat Nyai Ontosoroh mendapat banyak masalah. Puncaknya adalah ketika Herman dibunuh di rumah bordil. Di peristiwa itu, setelah Herman tewas, Robert kabur.

Tragedi nahas itu membawa Nyai Ontosoroh harus menghadapi pengadilan Eropa. Tentu saja banyak ketidakadilan untuk Ontosoroh yang dianggap hanya gundik. Peran Minke menjadi penyambung permasalahan Ontosoroh dengan menuliskannya di surat kabar.

Permasalahan lain muncul ketika anak Herman, Maurits Mellema (Robert Alexander Prein) menuntut kekayaan ayahnya. Sebagai istri yang tak pernah dinikahkan dengan sah, Ontosoroh tidak memiliki hak apa pun terhadap harta Herman. Pedihnya lagi, Ontosoroh bahkan tidak punya hak terhadap anaknya, Annelies. Pengadilan Eropa memutuskan Annelies harus dibawa ke Belanda.

Tersaji dinamis

Berjalan selama 181 menit durasi film, Bumi Manusia tersaji dengan dinamis. Sebagai penulis skenario, Aris mengemas novel menjadi naskah film dengan efektif. Kendati ada beberapa adegan yang tak perlu, hal ini tertutupi dengan alur kisah yang temponya terjaga baik.

Hubungan antara Minke, Annelies, dan Sha Ine Febriyanti terbangun apik. Begitu juga dengan pemeran pendukung lain, seperti Ayu Laksmi yang menjadi ibu Minke. Kehadiran Sha Ine Febriyanti dan Ayu Laksmi menjadi kekuatan plus di film ini.

Sayangnya, set film ini tak terlalu meyakinkan penonton kalau kisah Bumi Manusia terjadi di awal era 1900-an. Misalnya set rumah, pekarangan, dan kostum para pemeran terlihat mahal untuk dipakai di zaman itu.

Selain itu, ada beberapa plot yang bolong. Sebut saja kehadiran sosok yang disebut Si Gendut (Edward Suhadi) yang hadir secara misterius. Sejak muncul sampai film selesai, sosoknya tidak dijelaskan.

Begitu juga dengan ayah Minke yang diperankan Donny Damara. Seharusnya karakter ini bisa dieksplorasi lebih dalam. Penonton yang belum membaca novelnya mungkin memerlukan sedikit kejutan di film ini.

Harus diakui, memang tak akan mudah mengadaptasi cerita dari novel populer dan melegenda seperti Bumi Manusia. Apalagi baik Pramoedya Ananta Toer dan karyanya memiliki penggemar fanatik. Tak heran jika sejak awal diumumkan pembuatan filmnya banyak reaksi yang bermunculan, baik positif maupun negatif.

Akan tetapi, terlepas dari segala kekurangan dan kelebihannya, film Bumi Manusia patut diapresiasi. Sebagai film maker, Hanung dan timnya terlihat berusaha keras untuk mewujudkan Bumi Manusia dalam bentuk visual. Mungkin dengan cara nge-pop seperti ini, generasi muda akan berkenalan dan mencari tahu tentang kekayaan dunia sastra Indonesia.***

Bagikan: