Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya cerah, 28.8 ° C

Bumi Manusia, dari Penyelundupan ke Pelarangan

Tri Joko Her Riadi
BUMI Manusia/YUSUF WIJANARKO/PR
BUMI Manusia/YUSUF WIJANARKO/PR

NASKAH Bumi Manusia, bersama karya-karya lain Pramoedya Ananta Toer salama di Pulau Buru, Maluku, melewati jalan terjal sebelum sampai ke tangan pembaca dan terus diperbincangkan hingga hari ini.

Kisah berlatar Hindia Belanda pada awal abad ke-20 tersebut ditik cepat dalam keterbatasan literatur, didiskusikan secara sembunyi-sembunyi di antara tahanan politik, diselundupkan ke luar pulau, diterbitkan di Jakarta, sebelum dilarang beredar oleh rezim Orde Baru. Banyak orang bernyali terlibat dalam proses panjang tersebut.

Pramoedya Ananta Toer sampai di Pulau Buru bersama 500-an orang tahanan politik lain dalam pengapalan gelombang pertama pada Agustus 1969, atau hampir empat tahun setelah ia diseret ke penjara karena didakwa menjadi bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI), si tertuduh dalam Prahara 1965. Meringkuk di dalam sel, ia kehilangan kemewahan untuk menulis selain dokumen yang disodorkan petugas.

PULAU Buru/GOOGLE

Kertas dan pena pertama Pramoedya Ananta Toer diperoleh dari Bur Rasuanto, seorang wartawan yang ikut dalam rombongan Jaksa Agung Jenderal Sugiharto berkunjung ke Pulau Buru pada November 1969.

Pada tahun-tahun itu, desakan agar para tahanan politik dibolehkan berkarya, termasuk menulis, terus menguat di Jakarta. Belakangan, makin keras pula tekanan dari dunia internasional yang mengecam tindakan pemerintah Indonesia menahan dan membuang warganya tanpa proses pengadilan sebagai pelanggaran hak asasi manusia berat.

Pandangan Goenawan Mohamad

Salah satu reportase tentang kunjungan Jaksa Agung ke Pulau Buru itu ditulis Goenawan Mohamad, seorang wartawan Harian Kami. Dijuduli “Suatu Hari dalam Kehidupan Pramudya Ananta Toer”, artikel tersebut termuat dalam buku bertajuk Potret Seorang Penjair Muda sebagai Malin Kundang (1972).

Goenawan Mohamad, yang belakangan lebih sohor sebagai esais dan penyair yang mendirikan Majalah Tempo, adalah salah satu penanda tangan Manifes Kebudayaan yang lama berseteru dengan Lekra. Tak hanya ke Pulau Buru, ia juga nantinya menunjukkan simpati dengan datang ke peluncuran buku di rumah Pramoedya Ananta Toer, tak lama sesudah sang penulis dibebaskan.

Goenawan Mohamad melukiskan sosok Pramoedya Ananta Toer dengan “tubuhnya nampak liat, kulit wajahnya lebih terbakar matahari” akibat banyak waktunya habis dengan pekerjaan fisik, mulai dari membangun blok tempat mereka tinggal hingga mengolah ladang untuk bisa bertahan hidup. Namun sang wartawan juga mencatat, Pramoedya Ananta Toer masih memelihara keinginan untuk terus menulis. Kali ini tentang sejarah.

“Mintakan izin untuk itu,” kata Pramoedya Ananta Toer ketika ditanya apakah ia boleh menulis atau tidak di kamp tersebut.

Sang penulis Bumi Manusia itu dibebaskan dari kerja fisik setelah kunjungan Pangkopkapmtib Jenderal Soemitro ke Pulau Buru pada 1973.

Secara khusus Soemitro berjanji kepada Pramoedya Ananta Toer untuk menyokong penuh keinginannya bisa menulis lagi. Termasuk kesanggupan mendatangkan tumpukan dokumen dan guntingan koran yang ia butuhkan. Janji yang, seperti sebelumnya diucapkan oleh petugas dan pejabat lain, tidak pernah terwujud.

Novel pertama yang ditulis Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru adalah Arus Balik. Kisah tentang kejatuhan Nusantara pada abad ke-16 itu tuntas ditulis Oktober 1974. Akibat keterbatasan literatur dan ingatan Pramoedya Ananta Toer, proses penulisan novel begitu unik sekaligus mendebarkan. Proses yang dilanjutkan ke penulisan Bumi Manusia yang dimulai pada awal 1975.

Untuk menghindari perampasan oleh petugas yang bisa terjadi sewaktu-waktu, Pramoedya Ananta Toer mempercayakan naskah, yang selalu ditik 4-6 rangkap, kepada beberapa kawan dekat untuk diedarkan ke para tahanan politik yang memiliki pengetahuan dan minat terhadap sejarah dan sastra.

Dari mereka, Pramoedya Ananta Toer mengharapkan datangnya kritik atau bahkan koreksi, entah lewat surat atau penyampaian ulang secara lisan.

Peran penting Oei Hiem Hwie

Oei Hiem Hwie, bekas wartawan Harian Trompet Masjarakat, merupakan salah satu orang kepercayaan Pramoedya Ananta Toer. Ia mengajak Harun Rasjidi, mahasiswa UGM asal Jawa Tengah, dan Paimin, aktivis serikat buruh asal Cirebon, masuk ke tim gerilya.

Persinggungan Oei Hiem Hwie dengan Pak Pram, demikian ia memanggilnya, termuat dalam salah satu bagian buku Memoar Oei Hiem Hwie: Dari Pulau Buru sampai Medayu Agung (2015).

BUKU tentang Pramoedya Ananta Toer/TRI JOKO HER RIADI/PR

Untuk mendapatkan masukan tentang fakta-fakta sejarah, Oei Hiem Hwie menemui Saleh Iskandar dan beberapa “tahanan politik intelek” lain seperti Hersri Setiawan, Puradisastra, Sartono, dan Oey Hai Djoen.

“Setelah mendapatkan masukan dari orang-orang tersebut, malam harinya omongan-omongan tersebut saya tulis dan keesokan harinya diserahkan ke Pak Pram,” ujar Oei Hiem Hwie mengenang.

Selain sumbangan gagasan dan pasokan kertas, para tahanan politik juga mengambil risiko untuk mengumpulkan lembar-lembar kertas tikan Pramemdya nanta Toer dan menyembunyikannya dari penggeledahan petugas.

Oei Hiem Hwie memiliki cara yang terbukti jitu yaitu menindih salinan itu dengan balok cor yang digunakan untuk menutup septic tank.

Toh, suatu hari datang juga kesialan ketika petugas tiba-tiba muncul dan merampas beberapa naskah Pramemdya nanta Toer, termasuk naskah Arus Balik, Mata Pusaran, dan Arok Dedes.

Sebagian karya terselamatkan karena salinan naskahnya disimpan kawan tahanan politik, tapi Mata Pusaran tidak pernah diketahui rimbanya sampai hari ini.

Ketika meninggalkan Pulau Buru pada November 1978, Oei Hiem Hwie membawa salinan beberapa naskah Pramoedya Ananta Toer. Naskah itulah, bersama salinan yang dititipkan ke tahanan politik lain, yang kemudian diolah ulang dan diterbitkan sesudah Pramoedya Ananta toer dibebaskan dari Pulau Buru pada 21 Desember 1979.

Sumbangan besar sang editor

Menerbitkan karya-karya Pramoedya Ananta Toer selama di Pulau Buru bukan pekerjaan enteng. Status eks tahanan politik menjadi keberatan utama para penerbit. Namun, yang tak kalah sulit adalah kerja penulisan ulang naskah-naskah yang sebagian besar masih setengah matang. Beruntung, keberanian dan keterampilan langka semacam itu ada dalam sosok Joesoef Isak.

Joesoef Isak adalah bekas wartawan Merdeka yang pada 1959 terpilih sebagai ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Jakarta. Sama seperti Pramoedya Ananta Toer, lelaki berkaca mata tebal itu terseret arus Prahara 1965.

PRAMOEDYA Ananta Toer/TRI JOKO HER RIADI/PR

Tanpa surat penahanan dan tanpa proses pengadilan, Joesoef Isak yang ketika itu menjabat Sekretaris Jenderal Persatuan wartawan Asia-Afrika dipaksa mendekam di rumah tahanan Salemba hingga 1977.

Pada 1980, bersama Pramoedya Ananta Toer dan Hasyim Rachman, bekas wartawan merangkap direktur surat kabar Bintang Timur, Joesoef Isak mendirikan penerbit Hasta Mitra yang beralamat di rumahnya sendiri di Duren Tiga, Jakarta.

Pramoedya Ananta Toer adalah tipikal penulis yang tidak mau membaca ulang naskah-naskah yang sudah tuntas ditik. Ia takut bakal tergoda untuk membuat terlalu banyak revisi atau bahkan menciptakan cerita baru.

Pengecualian terjadi ketika Pramoedya Ananta Toer membaca versi bahasa Inggris Nyanyi Sunyi Seorang Bisu dan dibuat “menangis membaca tulisan saya sendiri”.

Bonnie Triyana dan Max Lane, penyunting buku berjudul Liber Amicorum 80 Tahun Joesoef Isak: Seorang Wartawan, Penulis, dan Penerbit (2008), mengisahkan bagaimana Pramoedya Ananta Toer dan Joesoef Isak bersepakat tentang penyuntingan naskah Tetralogi Buru.

Pramoedya Ananta Toer menyerahkan penyuntingan jilid 1, 2, dan 4 (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca) kepada sahabatnya itu. Ia ingin menyunting sendiri Jejak Langkah, jilid ketiga yang menceritakan kiprah Minke dalam kerja kewartawanan.

“Pram lalu mulai mengedit, tetapi baru mengerjakan kurang lebih 150 halaman dari 1.000 halaman lebih tik-tikan spasi dua, dia berhenti, seluruh berkas yang sudah dan belum digarap dikembalikan kepada Joesoef. ‘Saya tidak sanggup, tolong Bung saja teruskan.’,” begitu tulis Bonnie dan Max.

Sadar akan risiko pelarangan, Joesoef Isak dan Hasjim mendatangi beberapa tokoh nasional, termasuk Wakil Presiden Adam Malik, untuk meminta dukungan terhadap penerbitan Bumi Manusia pada Agustus 1980.

Antusiasme menjalar hingga ke luar negeri. Hanya dalam tempo 12 hari, cetakan pertama sebanyak 10.000 eksemplar ludes terjual. Cetakan-cetakan berikutnya menyusul dan bernasib sama.

Pujian mengalir deras untuk Bumi Manusia. Bukan hanya dari publik, tetapi juga dari para kritikus sastra. Kepantasan Pramoedya Ananta Toer menerima Hadiah Nobel semakin kencang didengungkan.

Di harian Pikiran Rakyat edisi 10 September 1980, Jakob Sumardjo menulis, “Dengan karyanya yang pertama setelah pengarang hampir selama 15 tahun lenyap dari percaturan budaya dan sastra Indonesia, maka ia membuktikan dirinya bahwa Pramoedya Ananta Toer tetap novelis terbesar milik Indonesia sampai saat ini.”

Sukses besar penerbitan Bumi Manusia selalu dibayangi ancaman pelarangan. Bahkan sebelum novel Bumi Manusia beredar, Hasta Mitra sudah mendapatkan peringatan oleh pejabat Kejaksaan Agung lewat panggilan telefon.

Joesoef Isak dan Hasjim mengacuhkannya. Namun pada 13 September 1980, Hasjim sebagai Direktur Hasta Mitra dipanggil untuk dimintai keterangan terkait buku Bumi Manusia.

“Dalam pemeriksaan, pejabat kejaksaan menuduh Bumi Manusia mengandung teori Marxisme yang terselubung, yakni pertentangan kelas,” tulis Hilmar Farid dalam artikel  bertajuk Tentang Kelahiran Bumi Manusia yang termuat dalam buku “Liber Amicorum”.

Setahun setelah cetakan pertama, Kejaksaan Agung akhirnya mengumumkan pelarangan peredaran novel Bumi Manusia. Ketika itu sudah ada 60.000 eksemplar buku yang terjual. Anak Semua Bangsa, yang baru saja diterbitkan, turut dicekal.

Imbas yang tak dikehedaki penguasa lantas menggelinding seperti bola salju: semakin dilarang, semakin buku itu dicari.

Karya-karya Pulau Buru menjadi bacaan wajib yang diedarkan secara sembunyi-sembunyi di kalangan mahasiswa dan aktivis. Membaca novel Pramoedya Ananta Toer adalah sebuah pemberontakan terhadap ketidakadilan.  

Demikianlah perjalanan Bumi Manusia dan naskah lain Pramoedya Ananta Toer selama dibuang di Pulau Buru. Dari bahan diskusi para tahanan politik, ia menjulang bukan saja sebagai karya sastra kelas dunia, tetapi juga sebagai ikon perlawanan terhadap kedidaktoran penguasa.***

Bagikan: