Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Sebagian berawan, 20.7 ° C

Bumi Manusia dan Indonesia yang Dibayangkan Pramoedya Ananta Toer

Tri Joko Her Riadi
PRAMOEDYA Ananta Toer/DOK. PR
PRAMOEDYA Ananta Toer/DOK. PR

“TIDAK ada satu pun calon presiden yang punya wawasan ke-Indonesia-an. Apa yang bisa kita harapkan dari mereka?”

Begitu jawaban Pramoedya Ananta Toer kepada Andre Vltchek dan Rossie Indira dalam rangakaian wawancara yang berlangsung di rumah Pramoedya Ananta Toer di Jakarta Timur dalam kurun waktu empat bulan, dari Desember 2003 hingga Apri 2004.

Pramoedya Ananta Toer genap berusia 79 tahun ketika itu. Berulang kali ia mengatakan “tidak bisa menulis lagi”.

Rangkaian wawancara kedua jurnalis cum aktivis itu diterbitkan dalam buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia  berjudul Saya Terbakar Amarah Sendirian (2006). Versi inggrisnya yang berjudul Exile, terbit pada tahun yang sama.

Dalam Pilpres 2004, Susilo Bambang Yudhoyono, seorang jenderal TNI Angkatan Darat, menang. Sebuah kenyataan yang sebelumnya dikhawatirkan Pramoedya Ananta Toer. Presiden dari militer, ia yakini, bakal membuat Indonesia “makin tidak karuan”.

Pramoedya Ananta Toer tidak akan pernah lupa atas apa yang yang dilakukan sepeleton tentara terhadap dia pada 13 Oktober 1965 petang.

Semua buku, naskah, dan dokumen yang ada di rumahnya di Rawamangun dibakar. Sebuah tindakan yang ia samakan dengan “perbuatan setan”.

“Pembakaran naskah tesebut adalah hal yang tidak akan pernah bisa saya maafkan,” kata Pramoedya Ananta Toer.

TETRALOGI Buru/YUSUF WIJANARKO/PR

Pramoedya Ananta Toer diangkut ke dalam bak truk dan dipukul beberapa kali dengan popor senapan. Dari sel penjara, pada Agustus 1969,dia diasingkan ke Pulau Buru bersama ratusan tahanan politik lain. Di dalam kamp, ketika beroleh sedikit kelonggaran untuk mulai menulis, dia lagi-lagi mengalami perampasan naskah oleh petugas.

Pramoedya Ananta Toer tidak memiliki cukup waktu untuk membuktikan betul tidaknya kekhawatirannya tentang presiden dari militer. Dua tahun setelah Pilpres 2004, tepatnya 30 April 2006, sastrawan penerima Hadiah Magsaysay pada 1995 itu tutup usia.

Tidak penting siapa yang jadi penguasa

Di atas sikap kerasnya terhadap militer, Pramoedya Ananta Toer melihat Indonesia dengan penuh kemuraman. Nyaris tanpa harapan. Kepada Andre dan Rossie, ia berkisah tentang kekayaan alam yang dijarah dan dicuri orang. Ia keluhkan impor gelap dan penyelundupan yang merenggut jutaan lapangan kerja bagi rakyat Indonesia.  

“Memang tidak penting siapa yang jadi penguasa, kondisi Indonesia yang sudah memprihatinkan ini tidak akan berubah,” ucapnya.

Pramoedya Ananta Toer, sebagai salah seorang korban sekaligus penentang utama kediktatoran Orde Baru, juga bicara tentang kemerosotan moral yang parah selama Soeharto berkuasa. Dikritiknya praktik korupsi yang sudah menjadi penyakit sosial yang terjadi di mana-mana. Biang semua masalah, menurut dia, adalah elite “yang tidak tahu cara berproduksi”.

Hanya Soekarno

Buku berjudul Saya Terbakar Amarah Sendirian adalah satu dari sedikit buku tentang Pramoedya Ananta Toer yang mempertahankan format tanya-jawab khas kerja jurnalistik.

Cita rasanya buku jenis itu berbeda dengan buku lain tentang sang penulis Bumi Manusia, yang lumayan banyak jumlahnya, yang ditampilkan sebagai reportase, memoar, riset, atau esai.

Pemuatan omongan utuh, seringkali dilengkapi dengan keterangan ekspresi fisiknya, membangun keintiman pembaca dengan sosok sang penulis besar itu.

Lima tahun setelah buku Andre dan Rossie, terbit buku berjudul Pram Melawan! (2011). Pengarangnya, pasangan jurnalis Hasudungan Sirait dan Rin Hindryati serta aktivis Rheinhardt.

PRAMOEDYA Ananta Toer/TRI JOKO HER RIADI/PR

Dengan tebal 502 halaman, buku itu memuat belasan atau bahkan puluhan kali wawancara dalam kurun waktu hampir empat tahun sejak perjumpaan pertama pada 1 November 2001 di rumah Pramoedya Ananta Toer di Bojong Gede, Bogor.

Awalnya, para penulis buku yang tertunda penerbitannya hingga lebih dari 7 tahun itu bakal menarasikan hasil wawancara secara tematik. Namun, mereka kemudian berubah pikiran karena khawatir bentuk penyampaian itu bakal menghilangkan kekhasan diksi, formulasi kalimat, pelafalan, dan aksentuasi yang “sangat Pram dan tak ada duanya”.

Kalau wawancara dalam buku Saya Terbakar Amarah Sendirian menampilkan sosok dan pemikiran Pramoedya Ananta Toer yang sangat muram dan penuh letupan kritik, bahkan amarah, buku Pram Melawan! menghadirkan banyak cerita sang sastrawan sebagai manusia kebanyakan.

Simaklah Pramoedya Ananta Toer yang terkekeh menceritakan pengalaman-pengalamannya dengan wanita di beberapa negara. Juga keheranannya terhadap diri sendiri karena tidak sanggup mengetik di komputer. Atau, kegeramannya menyaksikan cucu-cucunya yang menghabiskan waktu menonton televisi yang banyak menayangkan sinetron.

Tapi, Pram tetaplah Pram. Ia selalu terbakar semangat setiap kali berbicara tentang bangsanya. Bagi sang penulis Bumi Manusia itu, Indonesia di bawah Soekarno sedang berjalan di jalur yang benar menuju negara besar dan mendapat posisi terhormat di percaturan global.

Setelah Soekarno tersingkir, yang diyakini Pramoedya Ananta Toer akibat kegigihannya melawan tekanan kepentingan Barat, Indonesia melangkah mundur. Terlebih, selama 32 tahun Soeharto berkuasa.

“Dia (Soekarno) mercusuar Asia-Afrika. Dengan dorongan dia, Asia-Afrika pada merdeka. Itu nggak ada yang bisa menandingi,” ujarnya.

Hormat Pramoedya Ananta Toer kepada Soekarno bukan sebuah penjilatan. Beberapa usulnya, seperti pendirian patung Multatuli, ditolak mentah-mentah Soekarno. Pramoedya Ananta Toer bahkan harus mendekam di penjara selama setahun akibat kritik kerasnya terhadap kebijakan antietnis Tionghoa dalam buku bertajuk Hoakiau di Indonesia (1960). Tapi toh, kekaguman Pramoedya Ananta Toer tidak berubah. Sang Putera Fajar itulah pemimpin langka yang memiliki visi nation and character building.

Sesudah Soekarno, setidaknya menurut Pramoedya Ananta Toer, belum muncul lagi pemimpin kaliber nasional yang memahami sejarah bangsanya.

Indonesia sudah tidak bisa tertolong lagi, kecuali...

Dalam kedua buku berformat wawancara itu, Pramoedya Ananta Toer banyak dimintai pendapat tentang angkatan muda. Mengikuti bagaimana kecewanya dia atas kondisi berbangsa yang merosot di segala segi kehidupan, cukup melegakan mengetahui Pramoedya Ananta Toer ternyata masih menyimpan asa. Hanya, prasyaratnya begitu berat.

“Saya rasa Indonesia sudah tidak bisa tertolong lagi, kecuali dengan melakukan perubahan radikal. Dan, itu harus dipimpin angatan muda. Jangan banyak bicara, harus langsung bertindak!” ucapnya dalam buku Saya Terbakar Amarah Sendirian.

Sayangnya, menurut dia, angkatan muda sepeninggal Soekarno gagal menciptakan perubahan yang radikal atau revolusi. Termasuk ketika mereka menjadi motor reformasi pada 1998.

REFORMASI 1998/AFP

Pramoedya Ananta Toer mengkritik gerakan itu sekadar “menciptakan versi yang lebih baru dari sistem yang sama”.

Terbukti, meski Soeharto dilengserkan, masih banyak tokoh dan bahkan sistem lama khas Orde Baru yang bertahan hingga hari ini.

Pramoedya Ananta Toer bukan hanya berseru-seru tentang pentingnya pemahaman sejarah bangsa bagi para (calon) pemimpin. Karya-karyanya memberikan alternatif pemaknaan atas kiprah anak-anak muda dalam dinamika masyarakatnya.

Dalam Novel Perburuan, dia menampilkan Hardo yang mengambil model diri sendiri ketika berjuang di Blora.

Dalam novel Arus Balik, tampil pemuda desa jago gulat bernama Wiranggaleng. Lewat Tetralogi Buru, Pramoedya Ananta Toer membangunkan Tirto Adhi Soerjo dari kuburnya yang sepi agar perjuangannya dikenal bangsa yang turut dhttps://www.pikiran-rakyat.com/hidup-gaya/2019/08/15/bumi-manusia-tempat-terhormat-untuk-tirto-adhi-soerjoia rintis.

Dalam wawancara dengan Kees Snoek, akademisi cum penulis asal Belanda, pada 1991, Sang pengarang Bumi Manusia menyampaikan harapan yang sederhana atas pembacaan karya-karyanya. Pramoedya Ananta Toer menilai, dia  berhasil sebagai penulis seandainya orang “merasa berani, merasa dikuatkan” setelah membaca buku-bukunya.

“Saya mengharapkan bahwa apa yang dibaca dalam tulisan saya akan memberikan kekuatan pada pembaca saya, memberikan kekuatan untuk tepat berpihak pada yang benar, pada yang adil, pada yang indah,” kata dia sebagaimana termuat dalam buku Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir (2008), versi terjemahan dari Pramoedya Ananta Toer: Essay en Interview 1990 (1991).

Berani. Itulah kata ajaib yang dihayati Pramoedya Ananta Toer secara total. Penghayatan yang mengatasi segala bentuk ketidakadilan yang pernah ia terima, mulai dari pemenjaraan, pengasingan, hingga pemberangusan karya. Semua dilakukan secara barbar, tanpa proses pengadilan.

“Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?” begitu salah satu kutipan miliknya yang pantas ditempelkan di atas meja kerja.***

Bagikan: