Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Cerah, 28.3 ° C

Seni Degung, Bertahan Meski Ditelikung Zaman

Retno Heriyanto
KELOMPOK seni degung Pusaka Sunda dari San Jose California, Amerika, pimpinan seniman Burhan Sukarman, menjadi bintang tamu di pegelaran Degung Lawas Gumalindeng Mapakan Zaman Kiwari ka Bihari, Selasa, 13 Agustus 2019 di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat.*/RETNO HERIYANTO/PR
KELOMPOK seni degung Pusaka Sunda dari San Jose California, Amerika, pimpinan seniman Burhan Sukarman, menjadi bintang tamu di pegelaran Degung Lawas Gumalindeng Mapakan Zaman Kiwari ka Bihari, Selasa, 13 Agustus 2019 di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat.*/RETNO HERIYANTO/PR

BUDAYA menjadi salah satu ciri membedakan manusia dengan mahluk lainnya di muka bumi. Hilang budaya tradisional suatu bangsa, maka hilang pula jati diri bangsa.

“Kita patut bersyukur menjadi warga negara Indonesia yang sangat beragam dan kaya akan seni budaya tradisionalnya. Namun kita juga sudah sepatutnya sebagai warga negara sekaligus sebagai pemilik budaya tradisi, untuk memelihara dan menjaga agar budaya bangsa tidak punah, karena hilang budaya suatu bangsa maka akan hilang pula jatidiri bangsa tersebut,” ujar sesepuh dan tokoh wanita Jawa Barat, Popong Otje Djundjunan yang biasa disapa Ceu Popong, pada acara Degung Lawas Gumalindeng Mapakan Zaman Kiwari ka Bihari, Selasa, 13 Agustus 2019 di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat.

Pada masa sekarang, menurut Ceu Popong, ada banyak seni budaya tradisional yang semakin tersisihkan di lingkungan masyarakat, dan bahkan disisihkan masyarakat sebagai pemiliknya.

“Terbalik dengan yang dilakukan oleh masyarakat sejumlah belahan penjuru dunia yang justru mempelajari dan mendalami budaya bangsa kita,” ujar Ceu Popong.

Untuk menjaga, melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkan seni budaya yang menjadi kekayaan bangsa, menurut Ceu Popong, pemerintah dan pelaku seni budaya serta masyarakat sebagai pemiliknya harus bahu membahu menyelamatkannya.

“Ingat. Yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya di muka bumi ini adalah budaya. Karenanya kalau tidak ingin disamakan, maka peliharalah budaya warisan bangsa yang kaya akan nilai filosofi,” ujar Ceu Popong.

Peran semua pihak

Tokoh Jawa Barat, Uu Rukmana mengungkapkan, ada berbagai cara yang dapat ditempuh pemerintah maupun komunitas seni budaya dan masyarakat untuk menyelamatkan seni budaya tradisional yang punah dan mendekati kepunahan.

“Selain dukungan pendanaan, juga diberikan lebih banyak kesempatan untuk tampil, serta pemanfaatan ruang-ruang publik,” ujar Uu.

Diungkapkan Uu, agar dapat bertahan, seni degung dan tembang Sunda harus berkolaborasi dengan seni modern yang mengedepankan sentuhan krearifitas dan teknologi.

"Ke depannya, kolaborasi kreatif antara degung klasik dengan seni modern yang mengedepankan sentuhan kreatifitas dan teknologi bisa menjadi jalan tengah bagi pengembangan seni degung sehingga dapat menjadi karya seni pertunjukan yang sangat menarik bahkan akan menjadi kekuatan ekonomi baru untuk lebih mendapatkan apresiasi tinggi dari khalayak," ujar Uu.

Sementara, Kepala UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, Erick Henriana, menegaskan bahwa pihaknya membuka kesempatan seluas-luasnya pada pihak, lembaga, komunitas maupun pelaku seni budaya untuk bersama-sama melestarikan, mengembangkan dan memanfaatkan seni budaya tradisi Jawa Barat.

“Kita (UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jabar) membuka kesempatan seluas-luasnya, ada Sembilan ruang publik yang kami kelola dan kami harapkan ada kerjasama dengan semua pihak,” ujar Erick.

Perkembangan seni degung

Diungkapkan Erick, pada kurun waktu tahun 1950-1960, seni degung mengalami perkembangan pesat, bahkan dapat dikatakan sebagai masa keemasan yang selalu tampil di acara pemerintahan dan perayaan di masyarakat. Saat itu muncul seniman sunda yang memiliki andil besar dalam perjalanan seni degung yaitu Raden Arya Adipati Wiranatakusuma ke-5 yang saat itu menjabat sebagai Bupati Bandung.

Kemudian muncul tokoh-tokoh populer saat itu seperti Encar Carmedi, Djuju Sain dan lainnya. Sejumlah komposisi yang hingga masih langgeng diantaranya Pajajaran, Gelatik Mangut, Bima Mobos dan masih banyak lagi.

Di era tahun 1980-1990 seni degung berkembang menjadi degung kawih yang juga melahirkan seniman terpopuler Nano Suratno (Kang Nano) yang kini karya-karya masih diperdengarkan dan dimainkan.

Memasuki era 2000, menurut Erick, seiring berkembangnya musik modern serta banyaknya tokoh seni Degung dan Tembang Sunda yang wafat serta memasuki usia senja, seni degung dan tembang Sunda mengalami penurunan dan meredup. Bahkan, saat ini sulit menemukan generasi muda yang menekuni seni dagung dan jarang juga ditampilkan di panggung rakyat karena kalah pamor dengan seni modern yang tumbuh subur.

"Tapi hari ini saya melihat semangat generasi muda hasil pewarisan seni yang secara rutin berlatih di Gedung Pusat Pengembangan Kebudayaan tampil bersama para senior dan bahkan seniman dari Amerika. ni menunjukan adanya keberhasilan upaya melestarikan seni degung di kalangan generasi muda," ujar Erick.

“Degung Lawas Gumalindeng Mapakan Zaman Kiwari ka Bihari”, menampilkan tiga grup degung dan sederet juru tembang. Selain grup binaan sanggar seni Ganitri yang secara rutin berlatih di Gedung Pusat Pengembangan Kebudayaan (dulu YPK), juga kelompok seni Pusaka Sunda dari San Jose California, Amerika pimpinan seniman Burhan Sukarman dan grup degung dari ISBI Bandung, serta dua maestro juru tembang Sunda, Ida Widawati dan Rosyanti, serta penyanyi  tembang Sunda ternama, Rita Tila.***

Bagikan: