Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sebagian berawan, 18.8 ° C

Tren Podcast Menyeruak, Saatnya Memanjakan Theatre of Mind

Gita Pratiwi
ILUSTRASI podcast.*/CANVA
ILUSTRASI podcast.*/CANVA

BELUM selesai sambutan pengguna smartphone akan maraknya konten audio visual yang bisa dipilih untuk ditonton kapan dan dimana pun, kini mulai bermunculan penyiar-penyiar baru dengan konten audio melalui fitur Podcast. Dilatarbelakangi fenomena itu, juga sejumlah Youtuber mulai merambah dunia rekaman audio untuk "menerbitkan" podcast.

Handra Agniawan (25) salah satunya. Dia membuat siaran sebagai penyaluran ide, untuk membuat cerita bersambung. Sebagai seorang videografer, kreator podcast asal Bandung ini menyadari karya audio visual cukup rumit dan perfeksionis.

“Saya punya ide dan dibuat naskah. Untuk bisa jadi karya, harus shooting, menemukan talent yang pas, dan segala faktor teknis lainnya. Naskah itu kalau dieksekusi asal-asalan secara visual akan jelek,” ujar Handra.

Naskah yang ia maksud adalah serial berjudul Madar. Kisahnya tentang seorang pemuda lulusan Kriminologi dan mantan narapidana bernama Galang. Serialnya mengupas kisah-kisah kriminal yang harus dipecahkan di setiap episode.

Untuk Big Dado Firmansyah, munculnya fenomena podcast sebagai saluran segar untuk berkarya, bisa mengembalikan dirinya ke dunia yang telah lama ia selami. Ia berpengalaman siaran radio sejak 2001, di radio sekolah, radio kampus Mandala FM, radio Antassalam, sempat juga menjadi host MQ TV, radio Rama, pengisi suara PRSSNI, hingga PRFM. Namun, dalam beberapa tahun terakhir ia kembali ke radio kampus, setelah menjadi karyawan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

“Jadi motivasi saya untuk membuat podcast, untuk menyalurkan hobi ngomong saya. Podcast yang saya buat, lebih ke tempat curhat teman-teman, dunia penyiaran, public speaking, dan entertain,” ujarnya.

Pembuat konten podcast lainnya yang juga mengurus Komunitas Podcast Indonesia Bandung, Yosep Muhammad Firdaus, mengambil segmen pecinta kuliner. Melalui saluran yang ia beri nama Penikmat Dahareun, Yosep menerbitkan ulasan-ulasan saat ia menyantap makanan atau jajanan yang sedang banyak dibicarakan.

Sudah sekitar 20-an episode yang ia terbitkan dengan rata-rata durasi 20 menit. Siaran kulinernya telah mencapai 800 menit putaran.

Bisnis menggiurkan

Yosep melihat, podcast kuliner sebagai bisnis media baru yang cukup seksi. Ia sempat meriset podcast populer di Indonesia dalam sepekan ini antara lain, program bincang-bincang di Thirty Days of Lunch, pengalaman horor kiriman pendengar di Do You See What I See, Podcast of Raditya Dika, dan konten puisi berlatar musik Suara Puan. Akan tetapi, yang selalu tertinggi pendengarnya dalam jangka panjang serta mengindikasikan selera pendengar Indonesia, yakni konten horor, hiburan, dan percintaan.

Ia memandang, banyak Youtuber seperti Raditya Dika, Deddy Corbuzier, Majelis Lucu Indonesia, yang terjun menerbitkan podcast memiliki dampak baik. Tapi juga sekaligus jadi ancaman untuk individu penyiar yang baru muncul.

“Efeknya banyak yang jadi lebih tahu podcast sejak itu. Tapi makin sulit bagi kami karena Youtuber selalu ada di jajaran top ten,” kata Yosep, saat ditemui dalam acara yang mengupas Tren dan Peluang Podcast, di Kaka Café, Jalan Sulanjana, Kota Bandung, pekan lalu.

Ia mengutip data dari DailySocial, bahwa pada akhir 2018 jumlah pembuat podcast meningkat dari puluhan menjadi 3.000 orang.

“Alasan mendengar podcast adalah variasi. Orang bisa memilih apa yg didengar, fleksibel karena on demand, semua orang bisa akses di smartphone-nya, lebih mudah dinikmati daripada konten visual,” katanya.

Belum terpetakan

Peluang bersiaran juga dimiliki setiap pemegang smartphone. Umumnya, para pembuat konten didengar selama 20 menit bersiaran, sedangkan penyiar dengan konten duo atau grup bisa mencapai 1 jam. Yang jadi tantangan lainnya, menurut Yosep, ialah monetisasi podcast yang belum memiliki peta. 

“Yang paling mungkin adalah membangun konten kita agar cocok dengan brand, atau ad lips, seperti radio,” tuturnya.

Jumlah pendengar dan pembuat Podcast yang naik tidak lantas menunjukkan bahwa media baru ini akan booming dan berkelanjutan. Pengamat media Nursyawal berpandangan, penilaian itu terlalu dini.

“Terlalu dini menilai ini sangat digemari karena belum ada fitur untuk menghitung analitik dengan rinci jumlah pendengar, berapa jumlah pengikut, dan seberapa besar potensi iklan yang masuk,” kata Nursyawal.

Pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung ini menyinggung jumlah pendengar dan pembuat Podcast belum terlalu menggembirakan jika dibandingkan dengan Youtube. Video-video di platform tersebut bahkan bisa terlihat telah ditonton puluhan hingga ratusan juta orang.

“Ini bisa jadi euforia saja dalam dunia siaran kita,” ucapnya. ***

Bagikan: