Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya berawan, 26.5 ° C

Ingin Jadi Kreator Podcast? Perhatikan Ini

Gita Pratiwi
ILUSTRASI podcast.*/CANVA
ILUSTRASI podcast.*/CANVA

BENARKAH jadi podcaster itu mudah? Tentu saja, semua tergantung dari seberapa serius calon kreator hendak menjadi memproduksi podcast.

Secara teknis, Yosep Muhammad Fariz dari Podcast Indonesia Bandung menjelaskan, banyak aplikasi yang bisa digunakan dalam membuat podcast. Misalnya, dengan mengunduh Anchor, Soundcloud, atau Whooskaa dan mulai ikut petunjuknya dalam mengkreasi sebuah acara siaran. Anda juga bisa menambahkan latar musik dalam siaran, dengan lagu-lagu gratis di aplikasi semacam itu.

Untuk menentukan apa saja yang akan dibincangkan dalam podcast, Anda bisa membuat naskah atau poinnya lebih dulu (scripted), atau mengalir lepas saja (unscripted).

“Kalau saya sih pasti ditulis banget supaya jangan ada sampai 6 detik kosong, tidak ada suara apa-apa. Kalau mau in prompt to juga bisa,” ujar Rio Tuasikal, Mahasiswa Asian Center for Journalism Filipina yang juga merupakan kreator podcast. Rio yang juga kreator konten Julit, Jurnalisme Lima Menit itu ditemui usai diskusi dan workshop Tren dan Peluang Podcast di Kaka Café, Jalan Sulanjana Kota Bandung, pekan lalu. 

Jika bingung akan membawakan tema apa yang akan dibawa dalam siaran, calon kreator bisa membawakan sesuatu yang disukai dan dikuasai.

“Lebih mudah bagi saya yang sudah memiliki branding sendiri sebagai jurnalis, dimana saya kuliah, saya bekerja dimana saja, itu saya bawa ke podcast. Pilihan setiap orang untuk mencitrakan dirinya berbeda atau sama dengan yang dia post di Instagram atau media sosial lain. Kalau saya memilih sama saja, yang saya siarkan ya tentang jurnalistik, menulis berita, dan broadcasting,” katanya. 

Kehadiran podcast yang sebenarnya dimulai 2014 di Amerika Serikat, baru terpandang jadi peluang media baru 2019 ini. “Ini peluang baru buat semua orang. Termasuk organisasi media,” kata Rio.

Akan tetapi di Indonesia, kata dia, media arus utama belum banyak memanfaatkan peluang ini. Tantangan bagi semuanya, harus belajar lagi dengan media baru ini.

“Harus trial and error, membaca riset-riset tentang apa yang didengarkan audience, apakah mau sama dengan media versi cetak atau videonya?” katanya.

Adapun podcast individu yang menjadi paling banyak didengar ialah konten horor, teman curhat a la radio remaja tahun 1990-an, konten komedi dari Reza Chandika dkk, rekaman kegalauan dari Rintik Sedu, dan kajian ustaz Hanan Attaki. Calon kreator bisa memilih apa yang mungkin sangat mewakili kegemaran saat ini, untuk dipublikasikan secara auditif.

Sedangkan terbitan media yang mungkin bisa didengarkan antara lain Makna Talks dari Asumsi, Nightmare Side dari Ardan, dan potongan siaran PRFM. 

Bentuk adopsi

Pengamat Media Nursyawal mengatakan, meskipun di Amerika Serikat sudah lebih dulu booming, kita tidak dapat lantas mengadopsi siaran-siaran podcast yang laris di sana. Soalnya, menurut dia, tema kegemaran pendengar di sana berbeda dengan di Indonesia.

Misalnya, di Amerika Serikat lebih banyak didengar diskusi sosial dan politik, sementara di tanah air lebih banyak didengar konten hiburan. 

Menurut Nursyawal, tren podcast dicintai bukan karena peralihan jenuhnya masyarakat terhadap konten visual atau bacaan. Soalnya, Indonesia sendiri tidak punya kegandrungan  yang tinggi pada membaca.

“Dalam sejarah teknologi komunikasi, orang itu memang mendengar dulu, baca, kemudian nonton. Teknologi yang awalnya muncul adalah dongeng, dan radio. Apakah ini ancaman buat media cetak atau online? Padahal tergantung budaya masyarakatnya. Orang Indonesia gandrung sekali terhadap siaran radio, langsung mengenal televisi. Tradisi membaca kita kan memprihatinkan,” katanya.

Menurut dia, video tetap akan digemari, sementara podcast hanya jadi babak baru dunia radio kita dewasa ini.***

Bagikan: