Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 22 ° C

Histrionik, Gangguan Kepribadian di Balik Predikat Viral

Tim Pikiran Rakyat
EMOSI/CANVA
EMOSI/CANVA

BELAKANGAN ini, warganet dikejutkan perbuatan sekumpulan mahasiswi salah satu universitas di Makassar. Mereka dengan bangga mengacak-acak barang dagangan di rak yang sudah ditata pegawai supermarket. Perbuatan itu diketahui karena video yang direkam salah satu dari mereka viral di media sosial.

Perbuatan mereka menimbulkan komentar negatif warganet. Akhirnya, mereka membuat video klarifikasi dan permohonan maaf yang lagi-lagi viral di dunia maya.

Beberapa bulan sebelumnya, video seorang pria yang memamerkan uang yang dia miliki di aplikasi TikTok juga viral. Setelah diusut lebih jauh, ternyata uang tersebut merupakan hasil curian. Dia membobol salah satu distributor ponsel di Medan dan membuat kerugian mencapai Rp 500 juta.

Ada pula beberapa mahasiswi keperawatan yang mengatakan hal kontroversial tentang tentara. Mereka mengatakan bahwa kelas mereka berbeda dengan tentara yang hanya lulusan SMA karena jenjang pendidikan mahasiswi keperawatan adalah sarjana. Video mereka viral dan membuat seorang tentara meresponsnya.

Itulah beberapa contoh dari banyaknya video viral di Indonesia. Video-video yang viral bukanlah video-video yang memiliki nilai edukasi, tetapi lebih sering berupa provokasi hingga menimbulkan reaksi negatif.   

Hal itu disambut tingginya minat masyarakat di Indonesia karena cenderung memilih mencari hal-hal sederhana yang mudah dimengerti untuk menjadi tontonan. Selain itu, orang-orang yang ingin meraih popularitas instan melakukan hal-hal kontroversial cenderung konyol.

Butuh pengakuan

Kelainan perilaku histrionik merupakan gangguan kepribadian yang membuat pengidapnya mengalami kesulitan memahami citra diri. Penderita histrionik cenderung membutuhkan pengakuan dan pujian orang lain sebagai tolok ukur menilai diri sendiri.

Perilaku seperti itu menunjukkan adanya kebergantungan emosional kepada orang lain. Dia akan melakukan berbagai cara agar keberadaan atau pengaruhnya diakui orang lain, misalnya dengan melakukan reaksi emosional secara berlebihan. Ada 4 gejala yang menunjukkan seseorang mengidap histrionik.

Selalu ingin jadi pusat perhatian

Pengidap histrionik selalu merasa tidak nyaman jika dia tidak menjadi pusat perhatian di lingkungannya.

Terlalu memikirkan penampilan

Mereka bisa merasa sedih, kesal, dan marah jika orang di sekitarnya tidak memuji penampilannya atau bahkan tidak menyadari saat mereka mengenakan pakaian atau sepatu baru.

EMOSI/CANVA

Sering mendramatisasi keadaan

Mereka sering menunjukkan rasa senang atau bahagia yang berlebihan saat bertemu orang lain.

Playing victim

Pengidap histrionik senang membuat orang di sekitar mengikuti kemauannya. Lalu, dia akan berpura-pura sebagai orang yang tertindas saat orang-orang di sekelilingnya tidak mampu melaksanakan keingininannya.

Penyebab histrionik masih belum dapat dipastikan. Namun, banyak ilmuwan menganggap kemunculan histrionik diakibatkan faktor genetik dan keadaan lingkungan pada masa kecil.

Pengidap histrionik, jika terlalu lama dibiarkan, akan semakin sulit memenuhi kebutuhan egonya karena dia akan membutuhkan lebih banyak perhatian orang lain. Bahkan, bisa saja hal itu menyebabkan dia ditinggalkan teman-temannya.

Jika sudah seperti itu, pengidap histrionik menjadi semakin kesulitan memuaskan hasratnya. Butuh bantuan terapis untuk menyembuhkan histrionik.

Pengidap Histronik memiliki peluang mengenyangkan sifat self-centered mereka dengan membuat video yang lantas mejadi viral. Hal itu dapat menjadi alasan beberapa orang sengaja merekam dan menyebarkan video “lucu” mereka di internet.

Melalui video yang viral, pengidap histrionik dapat memenuhi hasratnya karena bisa mendapat apa yang dia inginkan. Pun demikian dengan penonton yang menyaksikan tingkah laku pengidap histrionik. Mereka merasa kebutuhan akan hiburan terpenuhi karena melihat seseorang yang—menurut mereka—berperilaku lucu dan menghibur. Maka, telah terjadi simbiosis mutualisme dalam interaksi (secara tidak langsung) di antara mereka. (Arsyad Dena Mukhtarom)***

Bagikan: