Pikiran Rakyat
USD Jual 14.130,00 Beli 13.830,00 | Sebagian cerah, 27.1 ° C

Lima Tips Memulai Hidup Minimalis untuk Mahasiswa Rantau

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

BANYAK orang berkata bahwa gaya hidup sederhana atau minimalis sudah menjadi hal biasa bagi mahasiswa rantau. Kehidupan mahasiswa rantau yang serba pas-pasan mengharuskan mereka mengatur keuangan dan berhemat. Namun, banyak juga yang sulit merealisasikannya. Alhasil, mereka harus berjuang melewati masa-masa akhir bulan dengan kondisi keuangan seadanya.

Gaya hidup minimalis yang belakangan ini menjadi tren ternyata memiliki banyak manfaat, salah satunya bisa mengatasi masalah keuangan yang sering dihadapi mahasiswa rantau. Gaya hidup minimalis dapat diartikan sebagai upaya mengurangi sifat konsumtif dengan cara hidup lebih sederhana.

Insider melaporkan, gaya hidup minimalis sudah menjadi tradisi masyarakat Jepang yang erat kaitannya dengan ajaran Zen Buddhisme. Ajaran tersebut menekankan manusia untuk meminimalisasi atau bahkan menghilangkan keterikatan terhadap hal-hal duniawi.

Selain ajaran Zen, ada juga filosofi “less is more” yang banyak dianut masyarakat Jepang yang berarti kesederhanaan itu lebih baik. Penerapan gaya hidup minimalis di Jepang sangat masuk akal karena Jepang sering dilanda gempa bumi. Sehingga, kepemilikan barang yang berlebihan dapat mencelakakan pemiliknya.

Lantas bagaimana cara memulai gaya hidup minimalis untuk mahasiswa rantau yang selama ini identik dengan hidup sederhana? Meski mahasiswa rantau sudah biasa berhemat, seringnya hal itu dilakukan karena tuntutan keadaan, bukan karena keinginan dalam diri. Alhasil, walaupun sudah berhemat, uang bulanan tetap saja tidak cukup. Pengeluaran tetap saja membeludak. Untuk mengatasinya, ini 5 tips memulai hidup minimalis untuk mahasiswa rantau

Berpikir sebelum membeli

Dalam hal belanja, mahasiswa sering tergiur dengan potongan harga, hal itu meruntuhkan niat awal untuk berhemat. Oleh karena itu, sebelum membeli sesuatu, cobalah tanya kepada diri sendiri apa tujuan pergi berbelanja, kemudian berpikir kembali apakah kita benar-benar membutuhkannya.

Uang/ANTARA

Hal ini dapat membantu meminimalisasi keinginan membeli sesuatu yang tidak kita butuhkan. Dengan demikian, sisa uang belanja dapat ditabung atau dialokasikan untuk keperluan lainnya.

Benahi lemari pakaian

Coba bukalah lemari pakaian, Jika terlihat penuh, sortir saja. Pisahkan mana yang masih digunakan dan mana yang tidak. Akan ada keterkejutan saat menyadari bahwa dari sekian banyak pakaian yang dimiliki, justru yang sering digunakan ternyata itu-itu saja.

Selain pakaian, barang-barang lain seperti dekorasi ruangan, perabotan, alat tulis, buku-buku, dan sepatu juga bisa disortir. Barang yang sudah tidak digunakan dapat didaur ulang, disumbangkan, atau dijual kembali.

Kurangi ikatan sentimental

Biasanya, kita terlalu terikat dengan barang yang dimiliki sehingga merasa sayang membuangnya meski barang  itu sudah tidak berguna, Hal itu bisa jadi karena tersimpan kenangan di dalamnya atau teringat perjuangan untuk mendapatkan barang tersebut.

Untuk mengatasinya, metode bebenah KonMari dari Marie Kondo, minimalist asal Jepang penulis buku The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing, bisa digunakan.

MARIE Kondo/REUTERS

Ada beberapa metode yang dipaparkan Marie Kondo dalam buku tersebut, salah satunya adalah metode Sparks Joy. Saat menyortir barang, Marie Kondo menerapkan metode ini untuk memprioritaskan barang mana yang membawa kebahagiaan. Selain metode Sparks Joy, Marie Kondo juga menyortir barang mana yang memiliki nilai Momento, yaitu barang lama yang kita simpan karena takut kehilangan memori yang berkaitan dengan barang itu.

Contohnya surat atau barang pemberian. Barang-barang Momento atau yang tidak membawa kebahagian dapat dibuang, didaur ulang, atau disumbangkan.

Jual barang bekas

Tidak perlu menyimpan terlalu banyak barang di kamar. Barang-barang yang sudah tak terpakai, yang masih layak pakai, atau memiliki kualitas tinggi bisa dijual kembali.

Meski harga jualnya di bawah harga beli, hal itu cukup menguntungkan untuk mahasiswa rantau. Selain mengurangi barang-barang yang dimiliki, uang hasil penjualan tersebut dapat ditabung atau digunakan untuk membeli kebutuhan lainnya.

Ubah gaya hidup

Tak sedikit mayarakat yang gaya hidupnya terjebak tren dan gengsi sehingga tak bisa menghindari sifat konsumtif. Pada dasarnya, gaya hidup minamalis bertumpu pada kesederhanaan. Menyederhanakan gaya hidup dapat diartikan menginginkan sesuatu secukupnya sesuai yang diperlukan. Kita tidak perlu mengikuti standar kehidupan yang justru membuat tertekan.

Gaya hidup minimalis bukanlah sesuatu yang dilakukan karena tren. Konsep kesederhanaan yang ada di dalamnya tidaklah sesederhana yang terlihat. Gaya Hidup minimalis memiliki makna yang lebih mendalam dan segudang manfaat apabila dipahami dengan benar. (Maulinawati)***

Bagikan: