Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Cerah berawan, 29.1 ° C

Mengenal Zat Pemicu Kanker dalam Rokok

Siska Nirmala
ILUSTRASI.*/REUTERS
ILUSTRASI.*/REUTERS

AKHIR-akhir ini kita dikejutkan oleh pemberitaan tentang bebera­pa figur publik yang terserang kanker. Beragam hal bisa menjadi penyebab timbulnya kanker. Salah satu pemicu timbulnya sel kanker dalam tubuh seseorang yang paling se­ring diutara­kan oleh tim medis adalah rokok.

Banyak masyarakat yang tidak menyadari atau bahkan tidak mengetahui akan hal ini. Ironisnya, sebagian masyarakat justru percaya pada mitos bahwa rokok adalah lambang kejantanan seorang pria, tidak merokok tidak jantan. Tentu saja mitos tersebut tidak benar.

Pada sebatang rokok sesungguhnya terdapat banyak zat yang membahayakan kesehatan manusia, yang keluar bersama asap, manakala rokok tersebut dibakar. 

 

Reaksi pembakaran dengan oksigen akan membentuk beberapa senyawa beracun seperti CO2, H2O2, NO, dan Sox. Sementara reaksi pirolisis yang terjadi pada rokok tersebut akan menyebab­kan pemecahan struktur kimia rokok menjadi banyak senyawa kimia yang karsinogen (penyebab kanker) seperti tar, nikotin, nit­rosamin, gas CO, fenol, dioksin, furan, dan masih banyak lagi senyawa berbahaya lainnya.

Zat karsinogen dari rokok ini bukan hanya mengancam kesehatan si perokok aktif, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan perokok pasif, bahkan bisa me­nempel pada benda-benda di sekitar perokok aktif yang juga bisa mengancam kesehatan pihak-pihak lainnya.

Sudah bukan hal yang asing lagi bahwa komponen nikotin yang terkandung dalam sebatang rokok merupakan zat utama yang berperan penting pada sebatang rokok. Tanpa nikotin, orang tak mungkin akan menyukai rokok, karena justru nikotin ini yang menyebabkan seseorang menjadi pencandu berat rokok. 

Nikotin, merupakan alkaloid utama selain nornikotin, anatabin, dan ­anabasin yang terdapat pada tanaman tembakau. Selain pada tembakau, nikotin juga ditemukan pada tanaman koka, tomat, kentang, terong, dan paprika hijau dalam kadar yang lebih rendah. Kandungan nikotin pada tembakau sekitar 0,5-8 persen dari berat kering tembakau.

PUNTUNG rokok.*/REUTERS

Pada sebatang rokok, rata-rata terkandung 0,1-1,2 mg nikotin. Nikotin ini merupakan racun saraf yang potensial, banyak digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis insektisida. Jika kadar nikotin yang dihisap mele­bihi 30 mg, maka akan menyebabkan kematian.

Dengan rumus molekul C10H14N2 dan berat molekul 162,26 g/mol, nikotin merupakan cairan minyak yang bersifat higro­skopis, tidak berwarna hingga berwarna kuning muda, dan dapat berubah warna menjadi cokelat saat terbakar atau bersentuhan dengan udara. Saat nikotin terbakar pada sebatang rokok, nikotin akan keluar bersama asap pembakaran di mana sebagian asap ini diisap oleh perokok. 

Walaupun rokok sudah dilengkapi dengan beberapa filter, tetapi karena molekul asap ini kecil sekali, tetap saja nikotin dapat ikut terisap ke dalam paru-paru lalu berjalan ke otak hanya dalam kurun waktu 7 detik saja, lalu memengaruhi otak untuk melepaskan dopamin, yaitu neurotransmitter pen­ting yang terlibat dalam suasana hati (mood), selera makan, dan fungsi otak lainnya.

Itulah sebabnya seorang pe­rokok saat setelah merokok seolah-olah ia jadi lebih semangat, lebih konsentrasi, dan timbul perasaan lainnya karena nikotin telah memaksa otak untuk melepaskan dopamin sehingga ia berasumsi bahwa rokok dapat meningkat­kan kinerjanya. Padahal, itu hanya bersifat kamuflase.

Semakin terbiasa ia merokok, maka akan semakin kecan­duan karena nikotin merupakan zat adiktif yang dalam konsentrasi rendah sekalipun dapat dengan cepat membuat tubuh jadi ketergantungan. Jika sese­orang tiba-tiba berhenti merokok, ia akan mengalami efek balikan (withdrawal effect)

Ketika nikotin sudah bertumpuk dalam tubuh seseorang, fung­si-fungsi tubuh akan dipengaruhinya. Nikotin memiliki daya karsinogenik terbatas yang menjadi penghambat kemampuan tubuh untuk melawan sel-sel kanker, walaupun nikotin tidak menyebabkan perkembangan sel-sel sehat menjadi sel kanker.

Senyawa lainnya

Selain nikotin, beberapa senyawa beracun yang terbentuk saat rokok dibakar turut memengaruhi fungsi-fungsi tubuh. Selain ace­taldehyde dan aromatic amine juga senyawa tar yang merupakan kumpulan berbagai zat kimia yang berasal dari pembakaran tembakau dan komponen rokok lainnya, merupakan hidrokarbon aromatik polisiklik yang ada dalam asap rokok, tergolong zat karsinogen.

Kadar tar yang diisap berhubungan dengan risiko timbulnya kanker. Gas beracun lain yang cukup membahayakan adalah gas karbonmonoksida (CO). Kandungannya dalam asap rokok mencapai 2-6 persen. CO pada paru-paru mempunyai daya pengikat (afinitas) dengan haemoglobin (Hb) sekitar 200 kali lebih kuat dari daya ikat oksigen (O2) dengan Hb. Dalam waktu 4-7 jam saja, 10 persen dari darah dapat terisi oleh COHb sehingga sel darah akan kekurangan oksigen, pembuluh darah akan terganggu, menyempit, dan mengeras. Bila hal ini mengenai pembuluh jantung, bisa menyebabkan serangan jantung. 

Perokok elektrik

Kini banyak perokok yang mulai ber­alih ke rokok elektrik (vape). Namun, rokok elektrik pun menimbulkan an­caman bagi kesehatan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari University of Minnesota, yang dipresenta­sikan pada pameran American Chemical Society tahun 2018 lalu, dipaparkan jika pada tubuh perokok elektrik ditemukan sejumlah senyawa akrolein, methylglyoxal, dan formaldehida yang tinggi, yang mana ketiga senyawa tersebut dapat membentuk ikatan kovalen dengan DNA, membuat terciptanya DNA mutasi yang bisa jadi awal dari sel kanker.

Walaupun penelitian ini membutuh­kan penelitian lanjutan, temuan awal ini sudah seharusnya membuat kita waspada. (Y Zakiah A, alumnus FMIPA ­Unpad)***

Bagikan: