Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian cerah, 19.6 ° C

Kehidupan Padat Kota New York Bawa Siswa IFI ke HKFW 2109

Tim Pikiran Rakyat
MAHASISWA Islamic Fashion Institute (IFI) telah membuktikan kiprahnya di ajang fashion dunia.*/ISTIMEWA
MAHASISWA Islamic Fashion Institute (IFI) telah membuktikan kiprahnya di ajang fashion dunia.*/ISTIMEWA

BANDUNG, (PR).- Gaun rancangan yang terinspirasi kehidupan pusat kota New York yang dijuluki "The Crossroads of the world" sebagai  wilayah metropolitan terpadat di dunia, membawa Siti Salma Nisabila ke ajang fashion show dunia “Hong Kong Fashion Week” 2019 (HKFW 2019) 8-11 Juli 2019. 

Siti Salma Nisabila atau akrab dipanggil Sabil ini menyuguhkan karya desain yang membangkitkan nuansa optimisme dari sebuah kota dunia yang berkontribusi besar pada perdagangan dunia, keuangan, media, budaya, seni, mode, penelitian, penelitian, dan hiburan. Sebagai tempat markas nasional, kota ini juga merupakan pusat penting hubungan internasional.

Salah satu ikon yang mudah dikenali di kota ini adalah taksi. Warnanya yang kuning melambangkan keceriaan dan mereproduksi warna terbaik dalam menciptakan antusiasme warna yang membangkitkan optimiskarya Sabil berjudul “New Yorkers”.Warna lainnya adalah gray melambangkan keseimbangan dan netralitas. “Semua itu adalah fakta di tengah kota New York yang tidak pernah tidur,” ujar Sabil saat akan berangkat ke Hong Kong.

Sementara detail builiding di New York City diekspresikannya dalam gaya urban. Dengan mengambil tren siluet baggy dan H yang cocok dengan warna-warna cerah lainnya, dan menggunakan tambalan dalam koleksi ini.

Perjuangan wanita

Sabil adalah satu dari dua mahasiswa Islamic Fashion Institute (IFI) yang telah membuktikan kiprahnya di ajang fashion dunia. Direktur IFI, Hanny mengatakan, selain Sabil, ada juga Ade Cahya Tristyanthi yang ikut serta dalam ajang HK FW 2019 ini. 

Ade mengusung karya rancangan berjudul “Ribelle Alleanza”. Koleksi Ribelle Alleanza terinspirasi oleh perjuangan para wanita pasukan terjun payung dalam waktu dekat yang berjuang melawan kecerdasan buatan yang bertujuan menghancurkan manusia di dunia, tetapi mereka merusak pesawat dan menyelamatkan diri mereka dengan terjun payung dan terdampar di dataran tinggi kota. 

Gaun-gaun ini, terinspirasi oleh prediksi tren 2019 Indonesia Neo-Medieval, Ribelle Alleanza, yang berarti bentuk ketakutan akan kondisi masa depan yang akan didominasi oleh kecanggihan teknologi. Ketika teknologi tidak lagi hanya alat untuk memfasilitasi aktivitas manusia. “The Ribelle Alleanza adalah cerminan dari pemberontakan wanita Muslim dalam membebaskan diri segala sesuatu yang mendominasi diri sendiri yang bukan berasal dari Allah,” jelas Ade.

Menurut Hanny, keberhasilan anak didiknya dapat melebarkan kiprahnya ke kancah mode internasional membuktikan, karya-karya rancang Indonesia khususnya mahasiswa IFI dapat bersaing dengan karya-karya perancang dunia. “Kami berbangga hati, semoga akan lebih banyak lagi mahasiswa yang ikut mengembangkan kiprahnya di dunia mode internasional,” ujarnya kepada Eriyanti Nurmala Dewi dari PR Institute.

Hanny menjelaskan, IFI merupakan sekolah fashion Islam pertama di dunia yang menyiapkan para lulusannya bukan hanya piawai merancang busana berbasis syariah Islam tetapi juga mampu menjalankan bisnis usaha busana Muslim sesuai dengan kaidah-kaidah bisnis Islam. Keikutsertakaan dua mahasiswa IFI pada ajang HK FW 2019, merupakan penguatan selanjutnya setelah lembaga ini bekerjasama dengan perguruan tinggi di Jepang dan Aelaide Ausie.***

Bagikan: