Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 14.187,00 | Sedikit awan, 23.7 ° C

Spider-Man: Far from Home, Berpikir Matang Menyikapi Hoaks [Spoiler Alert]

Yusuf Wijanarko
SPIDER-MAN: Far from Home/MARVEL STUDIOS
SPIDER-MAN: Far from Home/MARVEL STUDIOS

ADA kalanya, apa yang membentuk kematangan berpikir kita dari hari ke hari justru adalah sesuatu atau seseorang yang kita posisikan sebagai musuh. Lewat tingkah laku Peter Parker dalam Spider-Man: Far from Home, setidaknya penonton dipancing memandang bahwa kepercaayan adalah sesuatu yang tak bisa didapat dengan mudah.

Dalam Spider-Man: Homecoming yang lalu, Peter Parker dibenturkan dengan isu pencarian jati diri. Selain masalah jati diri, kali ini dia dipaksa memilih apa yang harus dia percayai.

Bahayanya, pilihan-pilihan itu ditetapkan oleh Mysterio, super villain yang jadi musuh Spider-Man.

SPIDER-MAN: Far from Home/MARVEL STUDIOS

Sesuai karakter yang didesain Stan Lee dan Steve Ditko, Mysterio merupakan seorang mastermind ahli lusi dan penuh muslihat. Namun, latar belakangnya disesuaikan dengan lini masa (MCU) Marvel Cinematic Universe.

Mysterio dalam Spider-Man: Far from Home bukanlah pakar special effect dan stunt man di industri film. Dalam versi MCU, Mysterio alias Quentin Beck diceritakan sebagai super villain yang terkoneksi dengan masa lalu Stark Industries.

Berbagai ilusi yang dibuat Mysterio relevan dan logis (dalam cakupan mise-en-scene) dengan teknologi kekinian, atau lebih tepatnya “keakanan”. Toh latar waktu Spider-Man: Far from Home adalah setelah tahun 2023.

Lewat tipu muslihatnya, Mysterio mempermainkan kematangan berpikir Peter Parker, remaja 16 tahun yang sedang berada pada masa penuh kebimbangan.

Walau berlatar tahun setelah 2023, Peter Parker masihlah remaja 16 tahun. Waktu sudah berlalu 5 tahun lebih sejak jentikan jari Thanos, tetapi usianya tidak bertambah.

Meski punya kekuatan super, Peter Parker remaja belum matang dalam mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidupnya. Pun demikian dalam memilah mana informasi yang harus dia percayai.

Kepolosan khas remaja itu lantas sukses menghadirkan banyak tawa dan tangis sepanjang film.

Tanggung jawab besar sebagai superhero datang kepadanya, tetapi serangkaian hoaks juga menerpanya.

SPIDER-MAN: Far from Home/MARVEL STUDIOS

Hoaks rancangan sang super villain yang dihadapinya tentu bukan kelas kacangan seperti manipulasi judul berita atau foto seperti yang kerap mendera kita. Jauh lebih canggih dari itu, Peter Parker berkutat dengan hoaks berdaya destruktif global dan langsung.

Fakta menariknya, hoaks menyerang siapa saja, tak peduli setinggi apa pendidikan dan daya intelejensinya. Dalam hal ini, agen S.H.I.E.L.D sekalipun tak bisa mengelak dari serangan hoaks.

Hoaks diciptakan sang super villain dengan begitu meyakinkan dan rapi. Sampai-sampai, penonton tak bisa menduga kapan Mysterio menampakkan watak aslinya.

Tema hoaks dan kepercayaan dalam Spider-Man: Far from Home begitu aktual karena lekat dengan kehidupan keseharian masyarakat dunia saat ini. Seperti banyak orang, Peter Parker kerap langsung percaya dan tak curiga terhadap berbagai hal yang datang kepadanya.

Dalam menyikapi hoaks dan krisis kepercayaan, Peter Parker bertarung meyakinkan diri sendiri bahwa ada hal lain di balik apa yang tampak. Pergumulan batin itu berlangsung intens, bahkan sampai post-cretdit scene.

Penokohan yang kuat

Peter Parker dalam Spider-Man: Far from Home hadir dengan persoalan umum remaja yaitu kecanggungan pada fase cinta monyet.

Spider-Man: Far from Home lebih cocok disebut sebagai panggungnya Peter Parker, bukan pentasnya Spider-Man. Meski begitu, adegan laganya tergolong segar dan cergas.

Sudah banyak karakter utama dalam film MCU yang muncul. Namun, perkembangan karakter dan penohokan Peter Parker agaknya menjadi yang terkuat sejauh ini, bahkan melewati kuatnya penohokan Tony Stark.

Setelah banyak penggemar MCU yang kecewa dengan dangkalnya cerita Captain Marvel, Spider-Man: Far from Home memberi daya pikat baru.

Materi promosi film Spider-Man: Far from Home yang sudah beredar mudah dipahami dan tidak memunculkan berbagai spekulasi. Namun, ada banyak kejutan yang disembunyikannya.

Selain itu, Spider-Man: Far from Home yang diplot sebagai film MCU setelah Avengers: Endgame membuat berbagai elemen dalam MCU kembali membumi.

Diakui atau tidak, segala sesuatu tentang serangan alien dan konflik berskala kosmik dalam Captain Marvel dan Avengers: Endgame telah membawa penonton begitu berjarak dengan persoalan sehari-hari.

Spider-Man: Far from Home merupakan film MCU ke-23, film ke-11 yang menjadi penutup manis Fase III MCU.

Menurut rumor, ada 9 film solo Spider-Man dalam MCU dan 2 di antaranya sudah tayang. Sembilan film tersebut terbagi ke dalam 3 babak yaitu 3 film Peter Parker masa sekolah, 3 film Peter Parker masa kuliah, dan 3 film Peter Parker dewasa.

Jika kabar itu benar, MCU punya banyak menit di layar untuk Peter Parker guna menyampaikan perkembangan karakter dan mentalnya.***

Bagikan: