Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Sebagian berawan, 24.9 ° C

Aladdin, Crime Movie yang Bernyanyi dan Menari [Spoiler-Free]

Yusuf Wijanarko
Aladdin/DISNEY
Aladdin/DISNEY

ALADDIN adalah pencuri, kriminal kelas jalanan. Film bertema kriminal, apalagi tentang obsesi personal, sudah sangat akrab bagi Guy Ritchie, sang sutradara.

Maka, sebenarnya Aladdin adalah crime movie dalam wajah yang begitu lembut khas animasi Disney, lengkap dengan aktornya yang bernyanyi dan menari.

Mengadopsi cerita versi animasinya, Aladdin berkisah tentang pencuri baik hati dan perdana menteri tamak yang bersaing memiliki lampu ajaib. Lampu tersebut, dengan jin sakti di dalamnya, memiliki kekuatan untuk mewujudkan 3 keinginan pemiliknya. Semua peristiwa terjadi di Agrabah, negeri khayalan bercorak budaya Arab masa silam.

Aladdin/DISNEY

Akan tetapi jika kita menempatkan struktur cerita Aladdin dalam situasi berbeda, misalnya dengan latar waktu sekarang, bisa jadi seperti ini: Aladdin, seorang kriminal kelas teri di jalanan kota besar, tanpa sengaja bertemu anak perempuan pemimpin geng narkoba. Aladdin jatuh cinta kepadanya.

Untuk mendapatkan perhatian ketua geng dan memikat hari putrinya, Aladdin harus menjadi kaya dan terpandang. Jalan tersingkatnya adalah merampok bank, benda seni, berlian, atau apapun yang bernilai ekonomi tinggi. Aksi perampokan sukses tetapi Aladdin terlena dalam gelimang harta dan kekuasaan sehingga kehilangan jati diri.

Di tempat terpisah, tangan kanan ketua geng merasa atasannya tak punya nyali memicu turf war, perang perebutan teritori peredaran narkoba dengan geng rival. Maka sang tangan kanan menyasar harta rampokan Aladdin untuk mendanai rencana menyingkirkan atasannya dan memicu turf war.

Narasi seperti itu terdengar familiar jika kita merujuk kepada sejumlah film Guy Ritchie seperti Snatch, RocknRolla, Revolver, tak terkecuali dua film Sherlock Holmes garapannya.

Hampir semuanya adalah tentang pecundang yang bukan siapa-siapa, lalu terobsesi meraih status sosial tertentu demi kepentingan yang sangat personal.

Dalam perjalanan mencapainya, tokoh utama menghadapi sejumlah konflik horisontal sekunder yang tak bersentuhan langsung dengan obsesinya. Tengok saja salah satu karya terbaik Guy Ritchie yaitu Lock, Stock and Two Smoking Barrels.

LOCK, Stock and Two Smoking Barrels/SUMMIT ENTERTAINMENT

Jika menengok lebih jauh ke belakang, Aladdin adalah crime movie yang narasinya dipengaruhi tiga film awal gangster klasik dari Warner Brothers yaitu Little Caesar (1930), The Public Enemy (1931), dan Scarface (1932).

Crime movie adalah film yang ceritanya berseputar pada aksi jahat kaum kriminal seperti perampok bank, pencuri, gengster, pengedar narkoba, maupun mafia. Singkatnya, orang-orang yang beroperasi di luar hukum.

Crime movie menyoroti kehidupan tokoh kriminal atau korban kejahatan. Crime movie juga kerap menyajikan glorifikasi naik-turunnya karier mereka dalam persaingan sesama kriminal atau konflik dengan tokoh-tokoh penegak hukum.

Pengalaman Guy Ritchie dalam mewujudkan visi crime movie membuat dia tak banyak mengalami kesulitan mengembangkan karakter utama, Aladdin. Pun demikian dengan tensi perselisihan melawan Jafar, perdana menteri picik yang jadi orang kepercayaan sultan Agrabah.

Konflik yang dihadapi tokoh utama dalam Aladdin bisa saja dibuat lebih kompleks dan berlapis, tak hanya berhadapan dengan kaum bangsawan. Aladdin bisa saja dibenturkan dengan kriminal lain di luar istana.

Akan tetapi, jalan cerita seperti itu berisiko membuat penontonnya jengah karena film Aladdin memang ditujukkan juga untuk anak-anak dengan rating PG (Parental Guidance).

Aladdin bukanlah film pertama Guy Richie yang memadukan aspek-aspek crime movie dengan cerita legenda. Tahun 2017, dia menyutradarai King Arthur: Legend of the Sword yang struktur narasinya tak jauh berbeda dengan Aladdin. Cerita geng jalanan dan legenda Raja Arthur campur aduk dalam King Arthur: Legend of the Sword.

Tentunya, Guy Richie mendapat banyak pengalaman dari King Arthur: Legend of the Sword mengenai batasan-batasan yang tegas soal kapan dia harus patuh pada cerita asli dan kapan dia bisa bereksperimen mengembangkan skenarionya sendiri.

Rating rendah

Banyak penonton dewasa yang kecewa terhadap Aladdin karena konfliknya yang terlalu simpel dan datar. Maka tak heran, di situs informasi film IMDb, Aladdin mendapat penilaian tak memuaskan. Dari skala 1-10, Aladdin mendapat nilai 5,9 per tanggal 22 Mei 2019.

Situs informasi film lainnya, Rotten Tomatoes belum memberikan skor dan konsensus kritik karena di banyak negara, Aladdin baru tayang 24 Mei 2019. Namun dari sejumlah kritik lepas yang berteraban di jagat maya, besar kemungkinan film ini akan mendapat skor jelek.

Meski begitu, jangan terlalu terpengaruh oleh penilaian dan kritik terhadapnya. Aladdin, sebagai versi live action Disney dari film aslinya (Aladdin, 1992), tetap menghibur. Kisah cinta happy ending, komedi, dan petualangannya memikat. Film ini juga punya akhir yang tak terduga.***

Bagikan: